
PROSESNEWS.ID – Pandangan masyarakat mengenai sekolah favorit hanya ada di perkotaan itu tidaklah benar. Sebab, setiap sekolah memiliki keunggulan dan prestasinya masing-masing.
Hal itu diungkapkan Kepala Dikbud Provinsi Gorontalo, Rusli Wahjudewey Nusi saat diwawancarai.
“Saya rasa perlunya sosialisasi PPDB kemasyarakat, sebetulnya penerimaan siswa-siswi baik dari jenjang SD sampai SMA ini diklasifikasikan 3 jalur penerimaan, jadi tidak melihat mana favorit dan tidaknya.” ujar Rusli.
Di Gorontalo, pada umumnya ada stigma bahwa SMA Negeri favorit ditandai dengan nama sekolah tersebut, seperti SMA Negeri 1 Gorontalo, SMA Negeri 2 atau 3 Gorontalo dan SMA dengan satu digit lainnya.
Sementara SMA Negeri bernomor dua digit, dianggap sebelah mata atau bukan pilihan.
Stigma tersebut berkembang dimasyarakat, sehingganya ketika ada pendaftaran di Tahun Ajaran baru, sekolah-sekolah yang ada dilingkungan setempat tidak terpenuhi kuotanya.
“Bukan hanya pandangan orangtua yang menginginkan anaknya sekolah di SMA-SMA favorit. Tapi pandangan itu juga muncul dari siswanya sendiri. Maka melalui PPDB ini ada 3 jalur penerimaan yang menjadi prioritas yakni kategori Zonasi, Afirmasi, perpindahan orangtua, dan jalur prestasi paling terakhir,” jelasnya.
Oleh karenanya, ia mengharapkan bagi orang tua agar pandangan tersebut jangan dijadikan alasan, untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka ketika tidak terterima disekolah favorit.
“Sekolah terdekat dibuka kuotanya sekitar 70% dari sebelumnya hanya 50%. Ada ketambahan 20%, nah ini kriteria untuk jalur Zonasi. Jadi, orangtua bisa mengerti bahwa keberadaan jalur yang dibuka untuk PPDB Tahun 2023 lebih besar untuk setiap sekolah yang ada di Provinsi Gorontalo,” ungkap Rusli.
“Penerimaan Tahun ini, diharapkan dapat merata. Karena prioritasnya lewat jalur Zonasi, tanpa melihat prestasi,” harapnya.
Reporter : Sandri Mooduto












