
PROSESNEWS.ID – Penelitian terbaru yang melibatkan dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Dr. Irawati Abdul, mengungkap sejumlah faktor utama yang menyebabkan rendahnya produktivitas kebun sawit rakyat di Indonesia. Hasil studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Scientific Reports (Nature Research) melalui artikel berjudul “Analysis of Factors Affecting the Technical Inefficiency on Indonesian Palm Oil Plantation”.
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi antara Irawati Abdul (UNG) dengan Dyah Wulan Sari dan Tri Haryanto dari Universitas Airlangga, serta Thinzar Win dari Mandalay University, Myanmar. Para peneliti memanfaatkan data besar Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencakup 14.367 rumah tangga petani sawit di berbagai wilayah Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat efisiensi teknis petani sawit rakyat baru mencapai 58,32 persen. Capaian tersebut dinilai masih jauh dari optimal dan mengindikasikan adanya peluang peningkatan hasil panen hingga 42 persen, apabila pengelolaan kebun dilakukan secara lebih tepat dan efisien.
Dr. Irawati Abdul menjelaskan bahwa rendahnya efisiensi teknis petani sawit tidak semata-mata dipengaruhi oleh luas lahan, tetapi berkaitan erat dengan kemampuan petani dalam mengelola input produksi. Sejumlah faktor kunci yang memengaruhi efisiensi meliputi tingkat pendidikan, usia petani, sistem penanaman, kualitas bibit, serangan hama, hingga intensitas pendampingan penyuluh pertanian.
“Petani yang mendapatkan penyuluhan secara rutin dan menggunakan bibit bersertifikat terbukti lebih produktif dibandingkan yang tidak,” jelasnya.
Penelitian ini juga menyoroti peran penting sistem kemitraan dalam meningkatkan efisiensi kebun sawit rakyat. Petani sawit plasma yang memiliki akses terhadap perusahaan inti dan fasilitas pembinaan tercatat lebih efisien dibandingkan petani independen. Secara wilayah, tingkat efisiensi tertinggi ditemukan di Provinsi Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Kalimantan Barat, sementara tingkat efisiensi terendah tercatat di Provinsi Banten.
Temuan tersebut dinilai memiliki implikasi strategis bagi perumusan kebijakan perkebunan sawit nasional. Menurut Irawati, upaya peningkatan produksi sawit tidak dapat hanya mengandalkan perluasan lahan, tetapi harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia petani.
Ia menekankan pentingnya pelatihan, akses terhadap bibit unggul, intervensi penyuluhan yang berkelanjutan, serta dukungan pendanaan untuk meningkatkan kinerja petani sawit rakyat, yang saat ini menyumbang sekitar 41 persen produksi nasional.
“Jika petani sawit rakyat mampu mengelola kebun secara optimal, kontribusinya tidak hanya menaikkan produksi minyak sawit mentah (CPO), tetapi juga memperkuat kesejahteraan masyarakat desa,” tegas Irawati.














