
PROSESNEWS.ID – Prestasi pemerintahan Gusnar Ismail–Idah Syahidah Rusli Habibie bukan diraih secara kebetulan. Capaian tersebut bahkan telah diprediksi sejak keduanya terpilih memimpin Provinsi Gorontalo untuk periode lima tahun ke depan.
Komitmen, dedikasi, kolaborasi, serta dukungan penuh masyarakat Gorontalo menjadi fondasi kuat yang membuat Gusnar–Idah relatif mudah mewujudkan visi dan misi Gorontalo Maju dan Sejahtera.
Di tengah kecenderungan sebagian pemimpin yang mengedepankan pencitraan dan retorika, Gusnar–Idah memilih pendekatan berbeda. Mereka bekerja dalam diam, namun menghasilkan prestasi. Bentuk pertanggungjawaban kepemimpinan pun langsung diarahkan kepada masyarakat Gorontalo.
Perpaduan antara teknokrat dan politisi berhasil menyatu dalam tenun pemerintahan daerah. Dalam waktu sepuluh bulan kepemimpinan, tercatat sebanyak dua belas menteri dan wakil menteri berkunjung ke Gorontalo.
Kunjungan tersebut berdampak langsung pada meningkatnya aliran anggaran ke daerah. Dana bernilai triliunan rupiah mengalir, disertai program-program pemerintah pusat yang terus berkesinambungan. Nama Gorontalo pun semakin dikenal dan diperhitungkan di tingkat nasional.
Gusnar–Idah juga membangun konektivitas serta kolaborasi erat dengan pemerintah kabupaten. Dari Taludaa, Atinggola, Tolinggula hingga Popayato, lima kabupaten merasakan manfaat signifikan dari hadirnya berbagai program strategis nasional.
Program-program tersebut, dengan nilai anggaran ratusan miliar hingga triliunan rupiah, dirasakan langsung oleh masyarakat di Kabupaten Bone Bolango, Pohuwato, Gorontalo Utara, Boalemo, dan Kabupaten Gorontalo.
Gusnar–Idah dinilai tidak memiliki waktu untuk melayani polemik verbal yang tidak produktif. Fokus utama diarahkan pada kerja nyata dan hasil konkret.
Tahun 2026 pun diharapkan menjadi momentum lanjutan bagi kepemimpinan Gusnar–Idah untuk kembali bersinar, membawa “kapal besar” bernama Gorontalo berlabuh di “dermaga besar” Gorontalo Maju dan Sejahtera.














