<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita karya seni Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<atom:link href="https://prosesnews.id/tag/karya-seni/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prosesnews.id/tag/karya-seni/</link>
	<description>Konsisten, Aktual, Independen</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 May 2025 11:11:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2024/01/icon-prosesnews-75x75.png</url>
	<title>Berita karya seni Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<link>https://prosesnews.id/tag/karya-seni/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bukan Sekadar Hobi, SBY Bangun Ekosistem Seni sebagai Pilar Ekonomi Baru</title>
		<link>https://prosesnews.id/bukan-sekadar-hobi-sby-bangun-ekosistem-seni-sebagai-pilar-ekonomi-baru/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/bukan-sekadar-hobi-sby-bangun-ekosistem-seni-sebagai-pilar-ekonomi-baru/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 May 2025 11:11:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[karya seni]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=65708</guid>

					<description><![CDATA[<p>PROSESNEWS.ID &#8211; Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) melakukan kunjungan kerja ke Cikeas Art Gallery...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/bukan-sekadar-hobi-sby-bangun-ekosistem-seni-sebagai-pilar-ekonomi-baru/">Bukan Sekadar Hobi, SBY Bangun Ekosistem Seni sebagai Pilar Ekonomi Baru</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-65709" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2025/05/IMG-20250518-WA0034.jpg" alt="" width="1280" height="897" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2025/05/IMG-20250518-WA0034.jpg 1280w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2025/05/IMG-20250518-WA0034-300x210.jpg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2025/05/IMG-20250518-WA0034-1024x718.jpg 1024w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2025/05/IMG-20250518-WA0034-768x538.jpg 768w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2025/05/IMG-20250518-WA0034-750x526.jpg 750w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2025/05/IMG-20250518-WA0034-1140x799.jpg 1140w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /></p>
<p><strong>PROSESNEWS.ID</strong> &#8211; Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) melakukan kunjungan kerja ke Cikeas Art Gallery milik Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang berlokasi di Puri Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (14/5).</p>
<p>Kepada Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya beserta jajaran, SBY menjelaskan, per 2 Mei 2025 genap 4 tahun dirinya melukis dan lebih dari 350 lukisan telah dihasilkannya. Sebagian lukisan berada di Cikeas Art Gallery dan sebagian besar berada di Museum Dan Galeri SBY ANI di Pacitan.</p>
<p>&#8220;Tempat ini saya sebut sebagai mini Gallery Cikeas Art Gallery sedangkan yang utama ada di Museum Dan Galeri SBY ANI di Pacitan yang merupakan museum kepresidenan pertama di Asia. Ada sekitar 350 yang saya buat, di Pacitan ada sekitar 200 sedangkan sisanya disini,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sambil mengajak rombongan Kemenekraf berkeliling melihat beragam jenis lukisannya di dalam galeri, beliau menjelaskan bahwa pada awal masa melukis, ia lebih banyak melukis landscape seperti laut, pantai atau pegunungan.</p>
<p>Namun, pada perkembangannya SBY mulai melukis obyek lainnya seperti binatang, rumah di pedesaan, bahkan bangunan artistik. Belakangan, SBY juga banyak melukis dengan mengeksplorasi gaya abstrak atau semi abstrak.</p>
<p>Lukisan yang dibuat memiliki ukuran yang variatif, dari kecil hingga panjang mencapai 3 meter, di antara lukisan besar tersebut terdapat lukisan yang berjudul &#8220;The Day God Test Our Faith and Courage&#8221; menggambarkan kejadian tsunami di Aceh yang berukuran 310 cm x 140 cm yang dilukisnya dalam 15 jam.</p>
<p>&#8220;Judul lukisan ini bermakna sebuah haru ketika Tuhan menguji keimanan kita dan keberanian kita untuk dapat kembali bangkit,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Dalam melukis, SBY awalnya menggunakan cat acrylic. Seiring berjalannya waktu, beliau mulai mencoba menggunakan cat minyak dan ada beberapa lukisan yang dibuat dengan menggunakan pisau palet, bahkan dengan menggunakan teknik finger painting atau melukis dengan jari tangan.</p>
<p><strong>Peluncuran Karya Seni SBY 2025</strong></p>
<p>Dalam kunjungan tersebut, SBY menyampaikan sejumlah rencana kegiatan kesenian yang ia siapkan pada tahun 2025 ini, antara lain pada bulan Agustus beliau akan mengadakan sebuah &#8220;Art Movement&#8221; yaitu melukis bersama sejumlah pelukis dari sejumlah institusi seni seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ISI Solo, Seni Rupa ITB dan IKJ, bertemakan &#8220;Indonesia A Country of Peace And Hope&#8221;.</p>
<p>Masih pada bulan Agustus 2025, SBY juga akan meluncurkan single album musik yang berjudul &#8220;Save Our World&#8221;, sebuah lagu ciptaan SBY yang aslinya berjudul &#8220;Untuk Bumi Kita&#8221; dan dibawakan oleh 35 penyanyi lintas generasi diantaranya: Alm. Titiek Puspa, Vina Panduwinata, Yuni Shara, Sandi Sondoro, Rio Febrian, Cakra Khan, Saykoji, Novia Bachmid, Rizwan Fadilah (Njan) hingga penyanyi cilik berusia 7 tahun.</p>
<p>Pada September 2025, SBY juga akan menggelar Pameran Lukis Tunggal yang akan memamerkan sekitar 100 lukisan terbaiknya ke hadapan publik.</p>
<p>Tidak berhenti di dunia lukisan dan musik, SBY juga mempunyai bakat menulis. Hal ini diceritakannya kegiatan beliau dalam menyelesaikan edisi ke-3 Buku Kumpulan puisi dan merampungkan novel fiksi bergenre suspense.</p>
<p><strong>Potensi Ekonomi Kreatif</strong></p>
<p>Di akhir pertemuan, SBY berpesan Indonesia mempunyai potensi besar dalam ekonomi kreatif menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.</p>
<p>“Ketika saya merumuskan nomenklatur ekonomi kreatif pada 2011 (kemenparekraf), saya percaya bahwa ekonomi nasional tidak hanya bertumpu pada sektor agraria dan industri padat modal. Kita hanya perlu menyatukan seni dan teknologi, karena Indonesia kaya akan budaya dan kreativitas,” ujar SBY.</p>
<p>Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengapresiasi sambutan yang begitu hangat dari Presiden RI ke-6 yang memiliki multi talenta diberbagai bidang seni.</p>
<p>&#8220;Penjelasan dan pesan yang Bapak SBY sampaikan tadi, membuat Kami semakin yakin bahwa peran para seniman dalam mendukung bangkitnya Industri Kreatif di Indonesia sangatlah penting. Sejalan dengan penugasan dari Presiden Prabowo, Kami diamanahkan agar para pekerja seni dapat menghasilkan karya yang semakin berkualitas, sekaligus semakin sejahtera kehidupannya terutama dalam era teknologi dan digital saat ini.&#8221;</p>
<p>Menekraf juga menyampaikan pesatnya perkembangan bisnis berbasis Kekayaan Intelektual (Intelectual Property/ IP) saat ini di Indonesia.</p>
<p>&#8220;Salah satu fokus utama Kemenekraf adalah pemdampingan kepada para Pegiat Ekonomi Kreatif termasuk para seniman untuk mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya. Hal ini penting, tidak hanya untuk keperluan komersialisasi, namun juga untuk perlindungan hukum dari hasil karya yang dimiliknya,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dalam kunjungan ini, Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya didampingi oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar; serta sejumlah pejabat eselon I dan II.</p>
<p><strong>SIARAN PERS</strong></p>
<p>KEMENTERIAN EKONOMI KREATIF/BADAN EKONOMI KREATIF</p>
<p><strong><em>Kiagoos Irvan Faisal</em></strong></p>
<p><strong><em>Plt. Kepala Biro Komunikasi</em></strong></p>
<p><strong><em>Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/bukan-sekadar-hobi-sby-bangun-ekosistem-seni-sebagai-pilar-ekonomi-baru/">Bukan Sekadar Hobi, SBY Bangun Ekosistem Seni sebagai Pilar Ekonomi Baru</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/bukan-sekadar-hobi-sby-bangun-ekosistem-seni-sebagai-pilar-ekonomi-baru/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kerancang Bukittinggi, Sehelai Karya Seni Bernilai Tinggi</title>
		<link>https://prosesnews.id/kerancang-bukittinggi-sehelai-karya-seni-bernilai-tinggi/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/kerancang-bukittinggi-sehelai-karya-seni-bernilai-tinggi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2021 02:16:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya seni]]></category>
		<category><![CDATA[kerajinan bordir]]></category>
		<category><![CDATA[Kerancang bukit tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[ragam indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=22869</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kerajinan bordir Sumbar mulai berkembang pada 1960 dan mencapai puncak kejayaannya pada era 1970-an hingga...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/kerancang-bukittinggi-sehelai-karya-seni-bernilai-tinggi/">Kerancang Bukittinggi, Sehelai Karya Seni Bernilai Tinggi</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_22870" aria-describedby="caption-attachment-22870" style="width: 750px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-22870 size-jnews-featured-750" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-6.12.48-PM-750x435.jpeg" alt="" width="750" height="435" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-6.12.48-PM-750x435.jpeg 750w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-6.12.48-PM-300x174.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-6.12.48-PM-768x446.jpeg 768w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-6.12.48-PM-250x145.jpeg 250w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-6.12.48-PM.jpeg 786w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><figcaption id="caption-attachment-22870" class="wp-caption-text">Kerancang Bukittinggi, Sehelai Karya Seni Bernilai Tinggi. (Foto : Istimewa).</figcaption></figure>
<p><i><em><strong>Kerajinan bordir Sumbar</strong> mulai berkembang pada 1960 dan mencapai puncak kejayaannya pada era 1970-an hingga awal 1990. Salah satu produk kerajinan bordir Sumbar yang terkenal adalah kerancang.</em></i></p>
<p>Ketika mengunjungi suatu daerah tak lengkap rasanya jika tak membawa pulang hasil kerajinan khasnya. Begitu pula ketika melancong ke Sumatra Barat (Sumbar) yang selama ini dikenal dengan produk kerajinan tradisional bernilai seni tinggi, misalnya bordir. Di Ranah Minang, kerajinan bordir telah dikenal sangat lama oleh masyarakatnya.</p>
<p>Dikutip dari buku karya A Wachid, <em>Hajjah Rosma dan Nukilan Bordir Sumatra Barat</em> terbitan tahun 1997 disebutkan bahwa bordir dibawa oleh beberapa bekas tentara milik Gubernur Jenderal Stamford Rafless yang memerintah Bengkulu sejak Maret 1818. Mereka berasal dari Kalkutta, India, dan memilih pergi ke Pariaman (Sumbar) dibandingkan pulang ke negerinya begitu Rafless mengakhiri kekuasaannya di Sumatra pada 1822.</p>
<p>Kerajinan bordir Sumbar mulai berkembang pada 1960 dan mencapai puncak kejayaannya pada era 1970-an hingga awal 1990. Salah satu produk  kerajinan bordir Sumbar yang terkenal adalah kerancang.</p>
<p>Bordir kerancang terbilang unik karena berupa kreasi bordir halus dengan metode membentuk lubang-lubang pada wadah kain yang akan dibordir. Pada dasarnya semua bahan dasar kain bisa dijadikan wadah untuk dikerancang asalkan tidak menggunakan kain berbahan sutra asli. Ini disebabkan proses kerancang salah satunya dilakukan dengan cara meregangkan kain. Jika kain yang dijadikan sebagai wadah kerancang terlalu lembut dan halus seperti sutra dikhawatirkan akan rusak dan tidak maksimal.</p>
<p><strong>Karya Seni Tinggi</strong></p>
<p>Menurut pengamat seni rupa dari Institut Seni Indonesia Padang Panjang Erizal, bordir kerancang dijahit langsung pada wadah kain seperti mukena, kerudung, kebaya, baju kurung dan baju koko. Ada pula kain untuk alas meja, taplak piring atau gelas, dan sarung bantal. Bagian yang umumnya dikerancang adalah tepi atau bawah kain. Motif kerancang biasanya terinspirasi dari alam seperti tumbuhan, hewan, kaligrafi, dan lainnya. Setidaknya ada 12 teknik kerancang yang diterapkan, di antaranya, kerancang kursi, pahat, silang, sapu, papan, dan kerancang potong. Dipadu dengan bordir bermotif indah seperti <em>pucuak rabuang</em> (pucuk rebung), <em>itiak pulang patang</em> (itik pulang petang), atau <em>kaluak paku</em> (lengkung pakis).</p>
<p>Warna yang dipakai adalah kombinasi kontras seperti merah dan kuning, biru dan merah, ungu dan merah muda. Ada juga kombinasi warna harmonis seperti kuning kehijauan, oranye kemerahan, ungu kebiruan serta kombinasi warna senada, misalnya, cokelat tua dan muda, hijau tua dan muda dan lain-lain.</p>
<p>Pemerhati desain bordir Hery Suharsono dalam bukunya <em>Desain Bordir Motif Kerancang, Tepi dan Lengkung</em> menceritakan bahwa pembordir harus memperhitungkan tarikan benang ke kain sebagai bahan dasarnya. Jika tarikan benang terlalu tegang, maka kain di sekitar kerancang akan mengkerut.</p>
<p>Sebaliknya, bila tarikan benang kurang tegang, maka jalinan kerancang menjadi tidak padat dan rapat dan rentan putus karena ketegangan benang bordir tidak sama. Ia menyebut produk yang dihasilkan para perajin kerancang tak lagi sekadar bordir biasa tetapi adalah sebuah karya seni (<em>piece of art</em>) bernilai tinggi.</p>
<p><strong>Pertahankan Proses Manual</strong></p>
<p>Proses membuat bordir kerancang begitu rumit dan menyita waktu karena dilakukan secara manual. Hanya dibantu oleh satu mesin jahit goyang atau disebut oleh masyarakat setempat sebagai mesin hitam sesuai dengan warna mesin jahitnya.</p>
<p>Tiap penjahit memerlukan waktu paling lama seminggu untuk menyelesaikan bordir kerancang pada wadah kain sederhana. Makin banyak bordir kerancang dalam sehelai kain yang harus dikerjakan, maka akan semakin lama waktu penyelesaiannya. Apalagi bila motif bordirnya banyak dan rumit, proses penyelesaiannya bisa mencapai satu bulan.</p>
<p>Sentra utama produksi kerancang di Sumbar salah satunya berada di Kota Bukittinggi. Bahkan sejak 2007, pemerintah telah menetapkan kota sejuk ini sebagai klaster bordir kerancang nasional.</p>
<p>Seiring kemajuan teknologi, saat ini sudah banyak mesin jahit canggih dengan program komputer. Proses produksinya bisa lebih cepat dengan hasil yang banyak. Satu motif bisa dikerjakan oleh belasan bahkan puluhan mesin. Biaya untuk tenaga kerja juga bisa ditekan. Ini membuat tak sedikit perajin beralih menggunakan alat itu dan meninggalkan cara lama karena tidak efektif serta efisien.</p>
<p>Namun tidak demikian bagi Rina, perajin bordir kerancang asal Kelurahan Campago Guguak Bulek, satu dari dua kelurahan di Bukittinggi yang ditetapkan sebagai kampung kerancang oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bukittinggi sejak 2008. Rina yang telah lebih dari 15 tahun menjalankan usaha memproduksi bordir dan sulaman kerancang mengaku tetap mempertahankan produksi berbasis mesin jahit manual.</p>
<p>Terlebih, konsumen umumnya masih memberikan penghargaan lebih baik kepada produk kerancang dan bersedia membayar lebih mahal dibandingkan produk yang dihasilkan dari mesin komputer. Bordir kerancang pada produk mukena, misalnya, umumnya ditawarkan mulai dari harga Rp300.000 hingga Rp4 juta. Apalagi motif pada tiap produk tak pernah serupa. Pembeli umumnya adalah wisatawan domestik dan turis asal Malaysia. &#8220;Ada nilai rasa dan karya yang tak bisa diukur hanya dengan menjahitnya di mesin komputer meskipun saat ini terjadi penurunan penjualan karena sedang pandemi Covid-19,&#8221; kata Rina.</p>
<p>Kualitas adalah syarat wajib agar kerajinan itu tetap menjadi yang terdepan. Selain itu variasi motif yang disesuaikan dengan zaman dan selera pasar serta eksklusivitas produk menjadi garansi tersendiri. Karena itu, jika sedang berkunjung ke Bukittinggi, jangan lupa untuk membeli produk kerajinan bordir kerancang hasil karya perajin setempat.</p>
<pre><strong><small><em>Penulis : Anton Setiawan
Editor : Eri Sutrisno/Elvira Inda Sari
Redaktur : Ratna Nuraini</em></small></strong></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/kerancang-bukittinggi-sehelai-karya-seni-bernilai-tinggi/">Kerancang Bukittinggi, Sehelai Karya Seni Bernilai Tinggi</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/kerancang-bukittinggi-sehelai-karya-seni-bernilai-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
