<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Sektor industri Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<atom:link href="https://prosesnews.id/tag/sektor-industri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prosesnews.id/tag/sektor-industri/</link>
	<description>Konsisten, Aktual, Independen</description>
	<lastBuildDate>Fri, 28 May 2021 02:37:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2024/01/icon-prosesnews-75x75.png</url>
	<title>Berita Sektor industri Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<link>https://prosesnews.id/tag/sektor-industri/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kinerja Ekspor Indonesia Bikin Semringah</title>
		<link>https://prosesnews.id/kinerja-ekspor-indonesia-bikin-semringah/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/kinerja-ekspor-indonesia-bikin-semringah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 May 2021 02:37:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekspor Indinesia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sektor industri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=29208</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ekspor di sektor industri pengolahan tercatat senilai USD14,92 miliar selama April 2021, melesat 52,65 persen...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/kinerja-ekspor-indonesia-bikin-semringah/">Kinerja Ekspor Indonesia Bikin Semringah</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_29209" aria-describedby="caption-attachment-29209" style="width: 787px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-29209 size-full" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-28-at-10.35.02-AM.jpeg" alt="" width="787" height="474" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-28-at-10.35.02-AM.jpeg 787w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-28-at-10.35.02-AM-300x181.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-28-at-10.35.02-AM-768x463.jpeg 768w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-28-at-10.35.02-AM-250x151.jpeg 250w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-28-at-10.35.02-AM-750x452.jpeg 750w" sizes="(max-width: 787px) 100vw, 787px" /><figcaption id="caption-attachment-29209" class="wp-caption-text">Sejumlah pekerja menyusun sayuran yang akan dikirim di fasilitas National Fulfillment Center (NFC) Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (21/4/2021). Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor hasil pertanian Indonesia mencapai US$390 juta per Maret 2021, meningkat 25,04 dari tahun 2020. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah</figcaption></figure>
<p><strong><i>Ekspor di sektor industri pengolahan tercatat senilai USD14,92 miliar selama April 2021, melesat 52,65 persen dibandingkan periode April 2020.</i></strong></p>
<p>Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis laporan soal kinerja ekspor dan impor Indonesia selama periode April 2021. Hasilnya cukup membuat semringah.</p>
<p>Pasalnya, nilai ekspor Indonesia mencapai USD18,48 miliar pada April 2021. Angka tersebut mencetak rekor tertinggi sejak Agustus 2011, yang sebesar USD18,64 miliar.</p>
<p>Tidak itu saja, tiga sektor—industri pengolahan, hasil tambang, dan pertanian—mencatat kenaikan yang signifikan sepanjang periode Januari–April 2021 dibandingkan periode yang sama pada 2020, masing-masing naik 25,96 persen, 19,66 persen, dan 15,75 persen.</p>
<p>Khusus soal kinerja ekspor dan impor, dalam konferensi pers Perkembangan Ekspor dan Impor April 2021, Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan, tingginya nilai ekspor pada bulan lalu tak terlepas dari lonjakan harga komoditas di pasar global. &#8220;Permintaan dari beberapa negara mitra dagang juga sudah semakin meningkat,&#8221; katanya, pada Kamis (20/5/2021).</p>
<p>Harga minyak mentah Indonesia naik hingga 200 persen pada bulan lalu jika dibandingkan April 2020. Namun, angka tersebut sedikit menurun, yakni 2,43 persen, dibanding Maret 2021. Sedangkan harga beberapa komoditas nonmigas juga naik cukup tinggi, antara lain, minyak kelapa sawit, tembaga, timah, alumunium, dan emas. Harga minyak kelapa sawit naik 4,24 persen secara bulanan dan 76,5 persen secara tahunan.</p>
<p>Lalu, tembaga 3,74 persen secara bulanan dan 84,4 persen secara tahunan, serta emas 2,43 persen secara bulanan dan 4,6 persen secara tahunan. Suhariyanto mengatakan, nilai ekspor April 2021 tercatat naik 0,69 persen dibandingkan Maret 2021 sebesar USD18,35 miliar atau senilai USD18,48 miliar.</p>
<p>Angka itu juga melonjak 51,94 persen dari April 2020 yang senilai USD 12,16 miliar. BPS melaporkan, neraca perdagangan Indonesia surplus USD2,19 miliar pada April 2021. Nilai ekspornya dibandingkan impornya yang sebesar USD16,29 miliar.</p>
<p>Kenaikan ekspor secara bulanan didukung ekspor migas dan nonmigas yang meningkat masing-masing 5,34 persen dan 0,44 persen. Secara tahunan, ekspor migas pun melonjak 69,6 persen dan nonmigas 51,08 persen.</p>
<p>Berdasarkan sektornya, ekspor pertanian tercatat USD340 miliar, turun 14,55 persen secara bulanan. Komoditas yang nilainya turun cukup besar secara bulanan adalah sarang burung, hasil hutan bukan kayu lainnya, tanaman obat aromatik dan rempah, kopi, dan buah-buahan.</p>
<p>Namun, secara tahunan ekspor komoditas itu tetap naik 18,98 persen. Penyebabnya, terdapat kenaikan ekspor tanaman obat aromatik dan rempah-rempah, lada hitam, serta cengkih.</p>
<p>Selanjutnya, ekspor di sektor industri pengolahan senilai USD14,92 miliar, naik 0,56 persen dibanding Maret 2021. Namun, kinerjanya melesat 52,65 persen dibandingkan periode April 2020.</p>
<p>&#8220;Ini menunjukkan sektor manufaktur mulai bergeliat,&#8221; kata Kepala BPS Suhariyanto. Secara bulanan, ekspor industri pengolahan ditopang oleh pengiriman besi baja, barang perhiasan dan barang berharga, kimia dasar organik dari pertanian, serta televisi dan perlengkapannya.</p>
<p>Kemudian, ekspor di sektor pertambangan sebesar USD2,27 miliar, naik 2,33 persen secara bulanan dan 47,02 persen secara tahunan. Kenaikan secara bulanan terjadi lantaran tingginya ekspor bijih tembaga dan bahan mineral lainnya.</p>
<p>Berdasarkan barang HS 2 digit, komoditas dengan nilai ekspor yang naik paling tinggi, yakni besi dan baja USD246,2 juta, logam mulia perhiasan/permata USD177,2 juta, bijih terak dan abu logam USD108,2 juta, timah dan barang dari timah USD47,5 juta, serta mesin dan perlengkapan elektrik USD31,2 juta.</p>
<p>Di sisi lain, penurunan nilai ekspor paling besar terjadi pada lemak dan minyak hewan nabati USD398,3 juta, pakaian dan aksesorisnya dari rajutan USD73,4 juta, pakaian dan aksesoris bukan rajutan USD66,4 juta, bahan bakar mineral USD44,1 juta, serta mesin dan peralatan mekanis USD38,5 juta.</p>
<p><strong>Tujuan Utama Ekspor</strong></p>
<p>Berkaitan dengan kinerja dan negara yang menjadi tujuan utama ekspor, Suhariyanto menyebutkan, Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor Indonesia. &#8220;Kemudian disusul Amerika Serikat dan Jepang,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ekspor ke Tiongkok meningkat paling besar pada April 2021 jika dibanding bulan sebelumnya. Kenaikannya mencapai USD201,2 juta. Negara tujuan ekspor yang nilainya cukup besar lainnya adalah Swiss, Korea Selatan, Taiwan, dan Malaysia.</p>
<p>Sedangkan penurunan ekspor terbesar terjadi ke India. Realisasinya di USD123,8 juta. Kondisi ini terjadi karena Negeri Bollywood yang sedang mengalami lonjakan kasus Covid-19. Penurunan ekspor terbesar selanjutnya terjadi ke Italia, Bangladesh, Jepang, dan Belanda.</p>
<p>Secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2021, Suhariyanto menyampaikan, total ekspor RI mencapai USD67,38 miliar, naik 24,96 persen dari USD53,92 miliar pada periode yang sama tahun lalu.</p>
<p>&#8220;Ini menunjukkan proses pemulihan ekonomi berjalan sesuai yang kita harapkan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis lonjakan harga komoditas akan membantu percepatan pemulihan ekonomi domestik.</p>
<p>&#8220;Lonjakan harga ini membantu kita pulih lebih cepat,&#8221; kata Airlangga pada Rabu (19/5/2021).</p>
<p>Komoditas yang mengalami lonjakan harga adalah nikel, minyak sawit mentah, karet, tembaga, dan emas. Kenaikan tersebut juga seiring meningkatnya permintaan global. “Saya mengharapkan, Indonesia dapat mengoptimalkan tingginya harga komoditas dengan hilirisasi sehingga dapat membantu pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Segendang seirama, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi juga menyatakan kegembiraannya dengan kinerja ekspor dan impor tersebut. Menurutnya, neraca perdagangan April 2021 kembali surplus sebesar USD2,19 miliar.</p>
<p>Surplus pada April 2021 tersebut disumbang surplus neraca nonmigas sebesar USD3,26 miliar dan defisit neraca migas USD 1,07 miliar. “Pada April 2021, Indonesia juga mencatatkan surplus neraca perdagangan dengan beberapa negara mitra dagang utama Indonesia, antara lain, Amerika Serikat sebesar USD1,22 miliar, Filipina USD0,55 miliar, dan India USD 0,44 miliar,” terang Mendag.</p>
<p>Lebih lanjut, Mendag menyampaikan, terjaganya pertumbuhan ekspor dan terkendalinya pergerakan impor pada periode pemulihan ekonomi pasca-Covid-19 ini melatarbelakangi surplus perdagangan Indonesia pada April 2021.</p>
<p>Neraca perdagangan kumulatif pada Januari─April 2021 juga surplus USD7,72 miliar. Nilai tersebut melampaui surplus perdagangan periode Januari─April 2020 yang hanya mencapai USD2,22 miliar.</p>
<p>Menurut Mendag, peningkatan ekspor April 2021 didorong peningkatan hampir seluruh sektor. Ekspor sektor industri naik 0,56 persen, pertambangan naik 2,33 persen, dan migas naik 5,34 persen. Sedangkan pertanian turun 14,55 persen (MoM).</p>
<p>Berkaca dari pencapaian kinerja ekspor yang sangat baik itu, dapat diartikan bahwa Indonesia di masa pemulihan ekonomi ini mampu memanfaatkan peluang yang ada pada saat dunia sedang bergerak menuju pemulihan ekonomi.</p>
<p>Semoga kinerja ekonomi yang sudah baik akan semakin baik lagi di masa datang sembari tetap melanjutkan sejumlah agenda nasional, termasuk pemulihan ekonomi nasional, melakukan vaksinasi massal, serta tetap menjaga protokol kesehatan.</p>
<pre><a href="https://indonesia.go.id/kategori/editorial/2830/kinerja-ekspor-indonesia-bikin-semringah"><strong><em>Penulis: Firman Hidranto</em></strong></a>
<strong><em>Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari</em></strong></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/kinerja-ekspor-indonesia-bikin-semringah/">Kinerja Ekspor Indonesia Bikin Semringah</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/kinerja-ekspor-indonesia-bikin-semringah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Optimistis Roda Industri Pengolahan Berputar</title>
		<link>https://prosesnews.id/optimistis-roda-industri-pengolahan-berputar/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/optimistis-roda-industri-pengolahan-berputar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 May 2021 06:12:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sektor industri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=28128</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sektor industri dinilai mulai menggeliat kembali berproduksi dan menggerakkan roda perekonomian. Badan Pusat Statistik (BPS)...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/optimistis-roda-industri-pengolahan-berputar/">Optimistis Roda Industri Pengolahan Berputar</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_28130" aria-describedby="caption-attachment-28130" style="width: 775px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-28130 size-full" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-11-at-2.09.43-PM.jpeg" alt="" width="775" height="481" /><figcaption id="caption-attachment-28130" class="wp-caption-text">Ilustrasi. Mobil produksi anyar yang akan didistribusikan ke sejumlah daerah. Produksi mobil naik 23,36% imbas dari penjualan mobil meningkat 16,63%. ANTARA FOTO</figcaption></figure>
<p><strong><i>Sektor industri dinilai mulai menggeliat kembali berproduksi dan menggerakkan roda perekonomian.</i></strong></p>
<p>Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengeluarkan pernyataannya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2021 yang masih terkontraksi 0,74 persen (yoy).</p>
<p><em>Nah</em>, berdasarkan laporan BPS itu, bagaimana sebenarnya potret industri pengolahan, setelah setahun lebih pandemi melanda negeri, sejak pertama infeksi virus asal Wuhan, Tiongkok, ditemukan di Indonesia?</p>
<p>Pelbagai pelaku dan pejabat yang otoritatif di sektor itu menunjukkan optimisme. Menyusul adanya pembalikan dari perekonomian nasional, terutama industri pengolahan. Indikasi ini terlihat dari kinerja perekonomian sepanjang kuartal I-2021 dan juga tampak dari kinerja pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra dagang Indonesia yang mulai menuju tren menjanjikan.</p>
<p>Sebut saja, Tiongkok. Negeri panda itu mencatat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, meningkat pesat menjadi 18,3 persen selama kuartal I-2021 berbandingkan kuartal yang sama pada 2020 dengan kontraksi 6,8 persen.</p>
<p>Demikian pula Amerika Serikat (0,4 persen), Singapura (0,2 persen), Korea Selatan (1,8 persen), Vietnam (4,5 persen), dan Hong Kong (7,8 persen). Khusus mitra dagang Uni Eropa, masih mengalami kontraksi 1,7 persen.</p>
<p>Dalam laporan BPS, pada Senin (5/5/2021), tertera bahwa kontribusi PDB subsektor itu mencapai 17,91 persen sepanjang kuartal I-2021, lebih tinggi dari periode yang sama 2020 17,86 persen.</p>
<p>Namun, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan, dari sisi pertumbuhannya industri pengolahan mengalami kontraksi  1,38 persen pada kuartal I-2021. Namun bila dilihat lebih detail lagi industri nonmigas sudah mengalami penurunan kontraksi jadi 0,71 persen pada kuartal I-2021, dari yang sebelumnya 2,22 persen di kuartal IV-2020.</p>
<p>Menurutnya ada beberapa industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan menggembirakan. Kendati ada pula yang agak melambat dibanding situasi pada kuartal I-2020.</p>
<p>“Jadi kembali kalau kita lihat proses <em>recovery</em>, akan berbeda antarsektor industri maupun subsektor. Kontraksi nonmigas semakin menipis 0,71 persen, kembali menunjukkan arah perbaikan,” ucap Suhariyanto.</p>
<p>Begitupun dengan industri makanan dan minuman tumbuh 2,45 persen didorong oleh peningkatan produksi panen raya tanaman padi, sejalan dengan industri penggilingan padi dan penyosohan beras serta peningkatan produksi CPO untuk memenuhi pangsa ekspor.</p>
<p>Pun demikian dengan industri logam dasar yang tumbuh 7,71 persen. Penyebabnya adalah karena adanya permintaan dari luar negeri, terutama untuk komunitas feronikel dan produk baja.</p>
<p>Ada pula industri yang tumbuh <em>double digit</em> di era pandemi, yakni Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional. Benar, subsektor itu bisa tumbuh hingga sebesar 11,46 persen karena adanya peningkatan produksi alat yang terkait kesehatan dalam rangka mendukung program penanganan Covid-19.</p>
<p>Bagaimana dengan indutri yang selama ini menjadi komoditas produk unggulan seperti tekstil dan produk tekstil (TPT). Patut disayangkan, komoditas ini masih mencatat kontraksi pertumbuhan yang cukup dalam, yakni 13,28 persen. Penyebabnya adalah permintaan domestik dan ekspor yang masih belum membaik. Padahal, momentumnya bagi subsektor itu untuk mengalami pembalikan cukup tersedia, yakni momentum hari raya Idulfitri 1442 Hijriah.</p>
<p>Berkaitan dengan kinerja industri pengolahan itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyakini, dalam waktu dekat kinerja positif bakal menyertai sektor industri. Sektor industri dinilai mulai menggeliat kembali untuk terus berproduksi dan menggerakkan roda perekonomian.</p>
<p>“Saya yakin, meski industri manufaktur masih terkontraksi 0,71 persen pada kuartal I-2021, sektor itu akan tumbuh positif pada kuartal II-2021,” ujarnya. Tentu Agus tidak asal berbicara. Indikasi mulai adanya pembalikan, kata dia, terlihat dari kontraksi industri manufaktur yang masih lebih baik dari kontraksi pertumbuhan ekonomi nasional.</p>
<p><strong>Terus Mening</strong><strong>kat</strong></p>
<p>Selain itu, Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia terus meningkat di level ekspansi. Pada Maret 2021, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 53,2, selanjutnya naik menjadi 54,6 pada April, yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah.</p>
<p>“Sejalan dengan kenaikan PMI, utilisasi industri pengolahan nonmigas pada Maret 2021 mencapai 61,30 persen, meningkat dibanding dua bulan sebelumnya,” tuturnya.</p>
<p>Secara tahunan (yoy), industri manufaktur pada kuartal I-2021 terkontraksi atau minus 0,71%, pada kuartal IV-2020 minus 2,22%, dan pada kuartal I-2020 tumbuh positif 2,01%.</p>
<p>Sedangkan secara kuartalan (<em>quarter to to quarter</em>/qtq) tumbuh 0,08% pada kuartal I-2021, tumbuh 0,07% pada kuartal IV-2020, dan minus 1,44% pada kuartal I-2020.</p>
<p>Menperin menjelaskan, kebijakan Kemenperin mendorong penguatan industri melalui implementasi izin operasional dan mobilitas kegiatan industri (IOMKI), insentif pajak penjualan barang mewah ditanggung pemerintah (PPnBM DTP), dan kebijakan harga gas telah mendorong penguatan industri manufaktur di dalam negeri.</p>
<p>“Kami optimistis industri pengolahan nonmigas pada kuartal II sudah masuk teritori positif seiring meningkatnya aktivitas ekonomi,” ucap Agus Gumiwang.</p>
<p>Dia menambahkan, secara kuartalan, beberapa indikator industri sudah naik <em>double digit</em>, seperti produksi mobil yang naik 23,36%, penjualan mobil meningkat 16,63%, bahkan penjualan sepeda motor melonjak 64,52%. “Selama ini, industri otomotif berperan strategis dalam memacu perekonomian karena memiliki banyak sektor penunjangnya,” kata Agus.</p>
<p>Menperin menyatakan, kinerja positif itu menandakan sektor industri mulai menggeliat kembali untuk terus berproduksi dan menggerakkan roda perekonomian.</p>
<p>Dia berharap momentum ini jangan sampai hilang. Menperin mengemukakan, pada kuartal I-2021 pun, sektor industri manufaktur menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Hal itu terlihat pada kontribusi manufaktur terhadap PDB nasional yang mencapai 17,91 persen, lebih tinggi dari periode  sama 2020 yang tercatat 17,86 persen.</p>
<p>Selain itu, menurut dia, nilai ekspor sektor industri pada Januari&#8211;Maret 2021 mencapai USD38,95 miliar dan menghasilkan neraca surplus sebesar USD3,69 miliar. Tiga industri yang memberikan nilai terbesar, yakni industri makanan sebesar USD9,68 miliar, industri logam dasar USD5,86 miliar, serta industri bahan kimia, farmasi, dan obat tradisional senilai USD4,30 miliar.</p>
<p>Bukti lainnya, kata Menperin, nilai investasi sektor industri pada Januari&#8211;Maret 2021 tumbuh 37,97 persen menjadi Rp88,3 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.</p>
<p>Momentum yang sudah bagus dan berada pada jalurnya itu harus tetap dijaga. Program vaksinasi yang semakin masif dan ketaatan menerapkan protokol kesehatan tetap sebagai <em>game changer</em> untuk menstimulasi aktivitas ekonomi dan sosial.</p>
<p>Kabar gembira lainnya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik adalah laporan Bank Indonesia yang menyebutkan cadangan devisa Indonesia kembali menebal. Lembaga bank sentral itu menyebutkan, cadangan devisa pada April 2021 meningkat menjadi USD138,8 miliar dari posisi Maret USD137,1 miliar. Kenaikan itu terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.</p>
<p>Ibaratnya, cadangan devisa adalah bagian dari ‘tabungan nasional’ yang dapat digunakan untuk sejumlah keperluan seperti pembayaran perdagangan internasional maupun utang luar negeri pemerintah sehingga geliat ekonomi nasional tetap terjaga.</p>
<pre><a href="https://indonesia.go.id/kategori/editorial/2779/optimistis-roda-industri-pengolahan-berputar"><strong><em>Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari</em></strong></a></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/optimistis-roda-industri-pengolahan-berputar/">Optimistis Roda Industri Pengolahan Berputar</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/optimistis-roda-industri-pengolahan-berputar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kinerja Manufaktur Beri Sinyal Positif</title>
		<link>https://prosesnews.id/kinerja-manufaktur-beri-sinyal-positif/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/kinerja-manufaktur-beri-sinyal-positif/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2021 04:50:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Badan Pusat Statistik]]></category>
		<category><![CDATA[BPS]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pemulihan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[sektor ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Sektor industri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=24946</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sektor industri dan investasi di dalam negeri mulai bergeliat. Perekonomian yang membaik juga didorong program...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/kinerja-manufaktur-beri-sinyal-positif/">Kinerja Manufaktur Beri Sinyal Positif</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><i>Sektor industri dan investasi di dalam negeri mulai bergeliat. Perekonomian yang membaik juga didorong program vaksinasi yang masif oleh pemerintah.</i></strong></p>
<figure id="attachment_24947" aria-describedby="caption-attachment-24947" style="width: 750px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-24947 size-jnews-featured-750" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-23-at-12.46.03-PM-750x457.jpeg" alt="" width="750" height="457" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-23-at-12.46.03-PM-750x457.jpeg 750w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-23-at-12.46.03-PM-300x183.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-23-at-12.46.03-PM-768x468.jpeg 768w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-23-at-12.46.03-PM-250x152.jpeg 250w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-23-at-12.46.03-PM.jpeg 785w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><figcaption id="caption-attachment-24947" class="wp-caption-text">Pabrik perakitan mobil milik Mitsubishi di Cikaranh. MMKSI</figcaption></figure>
<p>Kinerja sektor manufaktur mulai menunjukkan sinyal positif sekaligus tren pemulihan ekonomi nasional terindikasi dengan kinerja nilai impor Indonesia yang naik secara tahunan untuk pertama kali sejak Juni 2019. Indikator itu terlihat dari laporan yang diliris oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (15/3/2021). Lembaga itu merilis impor pada Februari 2021 tercatat mencapai USD13,26 miliar.</p>
<p>Meski turun 0,49% dibandingkan dengan Januari 2021, nilai tersebut naik 14,86% dibandingkan dengan Februari 2020 dan juga lebih tinggi dibandingkan dengan Februari 2019. Naiknya nilai impor secara tahunan untuk pertama kalinya ini dipicu oleh kenaikan seluruh kelompok barang berdasarkan penggunaan.</p>
<p>Selama periode Februari 2021, bila dilihat dari penggunaan barang, seperti dikutip dari laporan BPS, impor barang modal mencetak nilai USD2,15 miliar, secara <em>month-to-month</em> naik 9,08 persen dan naik lebih tinggi dibandingkan periode Februari 2020 atau <em>year-on-year</em> (yoy) sebesar 17,68 persen. Dari kinerja itu, BPS juga melaporkan neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus pada Februari 2021 sebesar USD2 miliar.</p>
<p>Surplus itu disebabkan oleh nilai ekspor yang lebih besar daripada nilai impor. Secara terperinci, nilai ekspor pada Februari 2021 tercatat USD15,27 miliar. Sementara itu, nilai impor pada tahun lalu sebesar USD13,26 miliar.</p>
<p>Performa ekspor kita menjanjikan, karena naiknya permintaan dari berbagai negara dan didukung oleh kenaikan harga komoditas. Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif Januari 2021 hingga Februari 2021 mencetak surplus USD3,96 miliar. Surplus ini bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan posisi Januari dan Februari 2020 yang pada waktu itu surplus USD1,88 juta.</p>
<p>Kepala BPS Suhariyanto mengemukakan, tren mulai menggeliatnya perekonomian, khususnya pada sektor industri dan investasi. Hal itu, kata Suhariyanto, dilihat dari kinerja ekspor dan impor pada Februari 2021. “Ekspor berasal dari seluruh sektor. Impor juga naik, terutama bahan baku dan barang modal. Saya bisa katakan geliat berbagai sektor dan investasi di dalam negeri mulai bergerak. <a href="https://www.tempo.co/tag/perekonomian">Perekonomian</a> yang membaik juga didorong program vaksinasi yang masif oleh pemerintah,” ujarnya, dalam konferensi pers virtual, Senin, (15/3/2021).</p>
<p>Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi juga mengungkap hal senada. Pemerintah, tuturnya, telah memprediksi sejumlah industri akan bergeliat dan menambah impor, seperti industri otomotif yang berpeluang menambah impor bahan baku untuk mengantisipasi naiknya permintaan, seiring dengan relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) yang mulai berlaku awal Maret. “Dengan dihapuskannya PPnBM untuk otomotif, ini akan ada peningkatan impor barang baku atau penolong untuk memastikan stok otomotif tahun ini bisa lebih baik daripada tahun lalu,” ujarnya, Senin (15/3/2021).</p>
<p><strong>Impor Mesin Naik</strong></p>
<p>Impor golongan mesin dan perlengkapan elektrik tercatat naik secara tahunan dari USD1,24 miliar pada Februari 2020 menjadi USD1,89 miliar pada Februari 2021. Impor golongan ini pun menjadi penyumbang kenaikan bulanan terbesar dibandingkan Januari 2021, dengan tambahan sebesar USD172,8 miliar. Kondisi itupun diharapkan merembet ke kinerja ekspor manufaktur Indonesia.</p>
<p>Melihat tren itu, Lutfi mengharapkan, ekspor otomotif tahun ini bisa bertambah USD3 miliar—USD4 miliar dibandingkan dengan realisasi sepanjang 2020 yang hanya USD6,6 miliar atau minus 19,37 persen secara tahunan. Pelaku manufaktur pun menyambut gembira sinyal positif dari aktivitas manufaktur. Konsumsi di dalam negeri terhadap produk tersebut pun diperkirakan bisa tumbuh.</p>
<p>Faktor adanya relaksasi ternyata direspons dengan baik sehingga penjualan dan produksi otomotif bisa naik jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Begitu juga dengan aktivitas impor bahan baku dan penolong di industri makanan dan minuman yang cenderung meningkat, terutama dengan adanya optimisme kenaikan permintaan pada Ramadan dan Idulfitri.</p>
<p>Tak dipungkiri, kinerja impor pada Februari 2021 telah memberikan harapan dan menjadi sinyal positif bagi pemulihan ekonomi jangka panjang. Kendati memang kenaikan 11,53 persen secara tahunan impor bahan baku dan penolong itu belum membuat aktivitas manufaktur pulih sepenuhnya.</p>
<p>Kenaikan impor pada Februari 2021 tetaplah menjadi fenomena menarik. Pasalnya, terjadi lebih cepat dari perkiraan. Sehingga wajar jika muncul harapan, surplus neraca perdagangan akan berlanjut sepanjang semester I/2021, bahkan hingga akhir tahun, didorong performa ekspor yang solid dari sejumlah komoditas ekspor utama lantaran pulihnya permintaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<pre><a href="https://indonesia.go.id/kategori/indonesia-dalam-angka/2624/kinerja-manufaktur-beri-sinyal-positif"><strong>Penulis : Firman Hidranto</strong></a>
<strong>Redaktur : Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari</strong></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/kinerja-manufaktur-beri-sinyal-positif/">Kinerja Manufaktur Beri Sinyal Positif</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/kinerja-manufaktur-beri-sinyal-positif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
