<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Sumenep Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<atom:link href="https://prosesnews.id/tag/sumenep/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prosesnews.id/tag/sumenep/</link>
	<description>Konsisten, Aktual, Independen</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 May 2021 14:14:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2024/01/icon-prosesnews-75x75.png</url>
	<title>Berita Sumenep Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<link>https://prosesnews.id/tag/sumenep/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pesona Mahakarya di Timur Madura</title>
		<link>https://prosesnews.id/pesona-mahakarya-di-timur-madura/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/pesona-mahakarya-di-timur-madura/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 May 2021 14:14:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[Gua Madura]]></category>
		<category><![CDATA[Gua Mahakarya]]></category>
		<category><![CDATA[Pesona Mahakarya]]></category>
		<category><![CDATA[Sumenep]]></category>
		<category><![CDATA[Timur Madura]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=28081</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meski lokasinya terpencil, Gua Mahakarya menghadirkan pesona bebatuan stalaktit dan stalagmit yang unik seperti adanya...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/pesona-mahakarya-di-timur-madura/">Pesona Mahakarya di Timur Madura</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_28082" aria-describedby="caption-attachment-28082" style="width: 791px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-28082 size-full" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-10-at-10.09.37-PM.jpeg" alt="" width="791" height="417" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-10-at-10.09.37-PM.jpeg 791w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-10-at-10.09.37-PM-300x158.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-10-at-10.09.37-PM-768x405.jpeg 768w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-10-at-10.09.37-PM-250x132.jpeg 250w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/05/WhatsApp-Image-2021-05-10-at-10.09.37-PM-750x395.jpeg 750w" sizes="(max-width: 791px) 100vw, 791px" /><figcaption id="caption-attachment-28082" class="wp-caption-text">Gua Mahakarya di Sumenep, Madura. VISIT SUMENEP</figcaption></figure>
<p><strong><i>Meski lokasinya terpencil, Gua Mahakarya menghadirkan pesona bebatuan stalaktit dan stalagmit yang unik seperti adanya batu alir dan batu bercahaya yang semuanya terbentuk dari proses endapan mineral jutaan hingga miliaran tahun silam.</i></strong></p>
<p>Gili Iyang tak hanya berkisah mengenai kehebatannya menghadirkan kualitas udara bersih dengan kadar oksigen bagus, sehingga berjuluk Pulau Oksigen. Pulau seluas 9,15 kilometer persegi dengan penduduk sebanyak 7.832 jiwa hasil Sensus Penduduk 2020 dari Badan Pusat Statistik tersebut juga diketahui memiliki pesona alam yang tak kalah mempesona.</p>
<p>Terdapat sejumlah objek wisata yang tak kalah serunya di sekitar pulau yang berada di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, atau sebelah timur Pulau Madura tersebut. Misalnya, objek wisata penelusuran gua, karena di Gili Iyang yang terdiri dari dua desa, terdapat sekitar 10 gua. Kesepuluh gua itu masing-masing sebanyak tujuh buah ada di Desa Banraas dan tiga sisanya di Desa Bancamara. Salah satu gua itu bernama Mahakarya.</p>
<p>Menurut pemandu lokal bernama Ali, gua di perut bumi Gili Iyang ini luasnya sekitar 800 meter persegi. Pertama kali ditemukan pada 2014 dan semula menjadi tempat bersembunyinya hewan celeng atau babi hutan. Oleh karenanya, gua itu juga dikenal sebagai Gua Celeng. Masyarakat menamai desa ini karena di dalamnya terdapat mahakarya keagungan Sang Pencipta yang terbentuk secara alami.</p>
<p>Agar dapat dimanfaatkan sebagai sebuah lokasi wisata, gua yang terdapat di Desa Banraas atau sekitar tiga kilo meter dari tepi pantai ini oleh warga setempat dibuatkan pagar bambu, tepat sekitar tiga meter dari mulut gua. Ini dilakukan agar hewan liar seperti celeng atau pun yang lainnya tidak masuk.<em> </em></p>
<p><em>Oh iya</em>, sebelum menjelajahi gua, sebaiknya kita mesti memperhatikan beberapa hal seperti membawa alat penerangan dan baterai cadangan, berpakaian yang nyaman, memakai sepatu, membawa perbekalan sendiri dan jangan lupa manfaatkan jasa pemandu. Untuk mempermudah pengunjung memasuki gua, pada salah satu bagian pagar diberi pintu masuk yang mudah dibuka-tutup.</p>
<p>Mulut gua sendiri memiliki bentuk setengah membulat dengan tinggi hingga ke langit-langitnya, tak lebih dari 1,5 meter, dan jalur masuknya menurun serta sedikit terjal. Saat memasuki mulut gua kita terpaksa harus merunduk 90 derajat untuk menaklukkan sebuah lorong sempit sepanjang sekira lima meter.</p>
<p>Punggung dan kepala lumayan terasa pegal-pegal karena harus merunduk selama beberapa menit. Namun semua itu terbayarkan ketika memasuki ruang pertama yang lumayan luas seperti sebuah ruang pertemuan (<em>hall</em>) dengan langit-langit yang cukup tinggi, sekitar 4-5 meter. Dari sini semua petualangan seru dimulai. Kita akan langsung disuguhkan oleh keunikan koleksi bebatuan stalaktit dan stalagmit di dalamnya. Corak bebatuannya sungguh khas dengan warna krem dan cokelat yang mendominasi.</p>
<p>Stalaktit menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bebatuan pada langit-langit gua, bentuknya memanjang dengan ujung meruncing ke bawah. Terdapat banyak lubang pada bagian-bagian stalaktit. Stalaktit berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘menetes’. Artinya, pembentukan bebatuan menggantung ini berasal dari mineral kalsit atau kalsium karbonat yang mengendap serta mineral lainnya.</p>
<p>Endapan mineral-mineral tadi termasuk kalsit mewujud dalam bentuk larutan air yang setiap saat menetes perlahan dari sela bebatuan. Air ini meluncur mulus hingga ke ujung stalaktit dan jatuh ke dasar gua.</p>
<p>Tetesan air ke dasar gua ini yang berlangsung setiap saat dengan lama proses sejak jutaan hingga miliaran tahun akan menghasilkan stalagmit. Berkebalikan dengan stalaktit, stalagmit punya proporsi yang lebih tebal dan tumbuh di dasar. Bentuk runcing stalagmit juga kebalikan stalaktit, justru menjulang ke atas.</p>
<p>Di Gua Mahakarya ini, kita masih bisa menjumpai sejumlah bagian dari stalaktit yang meneteskan air seperti yang terjadi di ruang pertama gua. Heningnya suasana di dalam gua membuat suara tetesan air dari stalaktit terdengar lumayan menggema. Di salah satu sudut langit-langit ruang pertama ini terdapat lubang besar berdiameter sekira lima meter yang mengalirkan udara segar dan sinar mentari.</p>
<p>Kehadiran lubang itu membantu ruangan menjadi lebih terang serta memasok udara ke dalam gua. Jika cuaca cukup bagus, sinar mentari yang menembus ranting-ranting pepohonan yang tumbuh di bagian atas sekitar lubang akan menghasilkan pendaran-pendaran indah ke dalam gua.</p>
<p>Di ruang kedua Gua Mahakarya meski telah dipasangkan lampu bertenaga surya di beberapa bagiannya, kondisinya lebih gelap dari ruang pertama. Di sini kita bisa melihat ada stalagmit dengan beberapa bagian permukaannya berpendaran cahaya seperti bersinar kelap-kelip. Mirip sekali bintang-bintang di langit saat malam.</p>
<p>Oleh masyarakat, batu-batu itu dinamai sebagai batu bintang. Kelap-kelip tadi berasal dari butiran-butiran berukuran mikro yang terperangkap pada lubang-lubang kecil seukuran ujung pentul korek api.</p>
<p>Sebetulnya stalagmit dengan pendaran cahaya mirip gugusan bintang ini merupakan bagian dari proses endapan mineral karena tetesan air dari kalsit yang menghasilkan mutiara gua atau <em>cave pearl</em>. Gua dengan koleksi bebatuan kalsit bak kelap-kelip bintang seperti ini juga terdapat di Gua Pindul, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.</p>
<p><em>Nah</em>, di ruang kedua ini kita juga dapat melihat sosok batuan stalagmit berjenis <em>flowstone</em>, dikenal juga sebagai batu alir. Batuan ini merupakan endapan dari kalsium karbonat, gipsum, dan bahan mineral lain yang terakumulasi dari miliaran kali tetesan air yang menetes perlahan ke permukaan atau dinding gua. Kandungan mineral termasuk kalsit ini kemudian menyelubungi bongkahan batu atau tanah.</p>
<p>Penjelasan tersebut tertuang. dalam buku <em>A Lexicon of Cave and Karst Terminology with Special Reference to Environmental Karst Hydrology</em> yang diterbitkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (US Environmental Protection Agency). Batu alir di ruang ini sungguh unik, karena jika kita ketuk pada bagian-bagian tertentu terutama di permukaan bawahnya, maka akan keluar bunyi-bunyian bernada khas.</p>
<p>Bebatuan unik juga terdapat di ruang ketujuh yang menjadi ruang terakhir dari Gua Mahakarya. Meski lagi-lagi harus merunduk untuk memasukinya, di ruang terakhir ini kita puas mengeksplorasi keindahan gua.</p>
<p>Di ruang ini terdapat sebuah batuan warna abu-abu berbentuk mirip beberapa manusia yang saling berangkulan. Tepat di ujung ruang ini kembali kita menemukan lubang besar di langit-langit gua. Sebuah pohon besar tumbuh tepat di gundukan dengan batang pohon keluar dari gua.</p>
<p>Ketika siang hari dan cuaca sedang terik, sinar mentari dapat menembus ke dalam gua melewati sela-sela batang dan daun pohon sehingga menghasilkan siluet indah berbentuk pendaran-pendaran sinar yang memukau. Di sinilah spot berfoto paling tepat bagi kita yang berkunjung ke Gua Mahakarya. Yuk, bangga berwisata di Indonesia saja.</p>
<pre><a href="https://indonesia.go.id/kategori/pariwisata/2774/pesona-mahakarya-di-timur-madura"><strong><em>Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari</em></strong></a></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/pesona-mahakarya-di-timur-madura/">Pesona Mahakarya di Timur Madura</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/pesona-mahakarya-di-timur-madura/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Si Busok, Leopard dari Madura</title>
		<link>https://prosesnews.id/si-busok-leopard-dari-madura/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/si-busok-leopard-dari-madura/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2021 02:33:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Sumenep]]></category>
		<category><![CDATA[Kucing busok]]></category>
		<category><![CDATA[Leopard dari Madura]]></category>
		<category><![CDATA[Madura]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Raas]]></category>
		<category><![CDATA[Sumenep]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=25305</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kucing busok merupakan satwa endemik yang hanya ada di Madura khususnya di Pulau Raas, sebuah...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/si-busok-leopard-dari-madura/">Si Busok, Leopard dari Madura</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_25306" aria-describedby="caption-attachment-25306" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-25306 size-full" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-29-at-10.27.45-AM-e1616985066434.jpeg" alt="" width="700" height="397" /><figcaption id="caption-attachment-25306" class="wp-caption-text">Kucing Busok. Kucing endemik asal Pulau Raas. WIKI COMMON</figcaption></figure>
<p><strong><i>Kucing busok merupakan satwa endemik yang hanya ada di Madura khususnya di Pulau Raas, sebuah pulau seluas 39 kilometer persegi yang dapat ditempuh selama enam jam perjalanan laut dari Sumenep.</i></strong></p>
<p>Raas adalah nama sebuah pulau karang yang berada di sebelah timur Pulau Madura, Jawa Timur. Masuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep, pulau seluas 39 kilometer persegi tersebut adalah pusat administratif Kecamatan Raas yang terdiri dari sembilan desa serta pulau-pulau kecil di sebelah utara dan timurnya.</p>
<p>Pulau karang ini diapit oleh Tonduk serta Sapudi, pulau lumbung sapi dan domba di Madura. Pulau Raas, berdasarkan hasil Sensus Penduduk Indonesia dari Badan Pusat Statistik pada 2020, tercatat dihuni oleh sekitar 43.400 jiwa dengan pekerjaan utama penduduknya adalah nelayan.</p>
<p>Bukan perkara mudah untuk bisa mencapai pulau ini karena dikelilingi selat bergelombang tinggi seperti Selat Madura dan Selat Sapudi, yang dapat mencapai empat meter. Raas dapat dicapai dari Pelabuhan Dungkek, Sumenep, dengan menumpang jasa kapal rakyat dengan lama perjalanan 5-6 jam saat cuaca normal dan tinggi gelombang tak lebih dari 1,5 meter.</p>
<p>Jika gelombang pasang mencapai ketinggian 2,5 meter hingga 4 meter, kapal rakyat berbahan kayu berkapasitas 30-40 penumpang itu menjadi bak perahu kertas diombang-ambing ganasnya gelombang. Jika dari Pelabuhan Jangkar Situbondo, kita dapat menumpang kapal feri KM Dharma Kartika berkapasitas 350 orang yang berlayar beberapa kali dalam sepekan dengan tujuan Raas serta Sapudi.</p>
<p>Meski demikian ada satu hal yang dibanggakan masyarakat Pulau Raas yaitu kehadiran spesies kucing lokal yang unik. Secara morfologi, bentuk wajah dan posturnya sepintas mirip hewan leopard dan kucing hutan dan lebih besar dari kucing kampung.</p>
<p>Bentuk mukanya agak persegi di bagian atas dan agak lancip di bagian dagunya. Hidungnya berukuran sedang dan sedikit melengkung ke bawah di atas kulit hidung, mirip seperti hidung singa. Bentuk telinganya tajam dan agak mencuat ke atas.</p>
<p>Warna bulunya abu-abu kebiruan polos dan oleh masyarakat setempat dinamai sebagai kucing busok. Para pecinta kucing nasional mengenalnya sebagai kucing raas atau kucing madura.</p>
<p>Melihat warna bulunya yang halus dan mengkilat seperti perak di ujung bulu, sekilas mirip dengan kucing ras Eropa ternama seperti kucing biru rusia (<em>russian blue</em>) dan kucing bulu pendek inggris (<em>british short hair</em>). Tekstur bulu kucing busok juga lebih tebal dari kucing kampung pada umumnya.</p>
<p><strong>Tinggi Variasi Genetika</strong></p>
<p>Peneliti biologi Ronny Rachman Noor pernah melakukan penelitian fenotipe dan genotipe  terhadap kucing busok ini pada 2009 di Pulau Madura. Menurut Ronny seperti dikutip dari laporan penelitiannya yang dimuat pada jurnal Lembaga Penelitian dan Pengabdian Mayarakat IPB University, kucing busok merupakan bagian dari ras kucing Asia yang ditandai dengan bentuk ekor yang bengkok di ujungnya (<em>kinky tail</em>).</p>
<p>Dalam penelitiannya, Ronny juga menemukan fakta bahwa kucing busok tak hanya berwarna abu-abu saja. Ada juga, yang berbulu cokelat susu di sebagian besar tubuhnya. Warna cokelat lebih pekat juga terdapat pada ujung telinga, ujung hidung, ujung kaki dan ujung ekor, mirip seperti kucing birma. Masyarakat Madura menamai jenis busok ini sebagai kucing kecubung.</p>
<p>Guru Besar Pemuliaan dan Genetika dari Fakultas Peternakan IPB University ini menemukan fakta bahwa kucing busok memiliki variasi genetika yang masih tinggi dan tergolong langka. Pasalnya, kucing ini tidak ditemukan di luar Pulau Madura. Sehingga, ia meyakini, ini adalah ras asli Indonesia seperti halnya anjing kintamani dan anjing bernyanyi papua. Ia menyebut bahwa kucing busok mirip dengan jenis kucing korat dari Thailand.</p>
<p>Ditinjau dari ilmu genetika, busok dan kecubung tergolong warna resesif yang jarang muncul. Warna kecubung ini diakibatkan oleh gen C dan B yang berpasangan dalam keadaan <em>homozygot</em>. Kucing berwarna kecubung ini biasanya memiliki warna mata biru. Sedangkan warna busok muncul akibat adanya gen D yang merupakan dilusi bersifat resesif. Jika gen ini dalam keadaan <em>homozygot</em>, maka mampu mendilusi warna hitam menjadi abu kebiruan.</p>
<p>Ronny menduga tingkat perkawinan keluarga (<em>inbreeding</em>) sangat dominan dalam ras kucing busok sehingga hanya terdapat dua warna, abu kebiruan dan kecubung alias cokelat kehitaman. Artinya, terjadi banyak gen letal dan resesif yang memiliki sifat mematikan jika berada dalam kondisi <em>homozygot</em>.</p>
<p>Gen letal ikut menyumbang kematian yang cukup tinggi pada kucing busok karena adanya kawin keluarga. Hal ini pula yang membuat Ronny kesulitan untuk menemukan kucing-kucing busok dalam aktivitas penelitiannya.</p>
<p>Semula, kucing busok ini pernah menjadi cinderamata untuk dihadiahkan kepada para tamu istimewa yang berkunjung ke Pulau Garam pada era 1990-an. Seiring semakin langkanya keberadaan kucing tersebut di habitat aslinya, Pemerintah Kabupaten Sumenep pun melarang hal tersebut.</p>
<p>Masyarakat Pulau Raas pun melarang warga pendatang untuk membawa pergi kucing busok keluar pulau. Jika hal itu tetap dilakukan maka si kucing wajib dikebiri atau disteril terlebih dulu demi menjaga kemurnian ras kucing tersebut.</p>
<p>Upaya untuk menjaga keberadaan kucing ini di habitat aslinya ikut didukung oleh mitos-mitos yang berkembang di masyarakat Pulau Raas, di antaranya, kucing busok dapat mendatangkan nasib baik dan rezeki bagi pemeliharanya. Di samping itu, kucing busok juga dipercaya masyarakat setempat memiliki kemampuan mistis dan bagi siapa saja yang membawanya keluar dari Pulau Raas akan mendatangkan kesialan.</p>
<p><strong>Upaya Diakui Dunia</strong></p>
<p>Seperti dikutip dari laman <em>www.infopublik.id</em>, sebuah kontes kucing internasional bertajuk &#8220;Indonesia Breed and Raas Catshow&#8221; pernah digelar di Kota Sumenep sebagai rangkaian <em>Visit Sumenep 2018</em> pada 14 April 2018. Bupati Sumenep saat itu, Busyro Karim, mengatakan bahwa kontes itu sengaja digelar sebagai komitmen pihaknya untuk menjaga kelestarian satwa langka Indonesia terutama kucing busok yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumenep dan Pulau Raas.</p>
<p>Pemkab Sumenep saat itu menggandeng komunitas pecinta kucing ras, Cat Fancy Indonesia (CFI) yang menghadirkan juri kontes Lesley Morgan dari Australia dan Awaluddin Jafar dari Malaysia. Kontes diikuti 100 peserta, di mana 30 di antaranya menghadirkan kucing busok yang masih asli dari Pulau Raas.</p>
<p>Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya November 2018, CFI bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengadakan ekspedisi ke habitat kucing busok di Pulau Raas.  Ekspedisi ini berhasil mengumpulkan 40 sampel kucing untuk observasi fenotipe dan genotipe, sekaligus uji asam deoksiribonukleat (DNA).</p>
<p>Salah satu peneliti zoologi LIPI yang ikut dalam ekspedisi tersebut, Yuli Sulistya Fitriyana, menjelaskan bahwa sampel DNA diambil dengan metode usap (<em>swab</em>). Selain untuk menguji sel epitelnya, menurut peneliti lulusan Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada yang bekerja pada Pusat Penelitian Biologi LIPI ini, metode usap  dinilai lebih aman bagi kucing busok karena tidak menimbulkan stres dibandingkan dengan mengambil contoh darahnya.</p>
<p>Agar bisa diakui sebagai ras kucing dunia seperti halnya anjing kintamani sebagai anjing ras dunia, diperlukan sejumlah tahapan. Setidaknya ada dua tahapan perlu dilalui untuk jadi satu ras baru diakui dunia. Pertama, membuktikan kemurnian gen sampai tiga generasi. Kedua, Indonesia harus melakukan presentasi dalam forum internasional di hadapan World Cat Congress, organisasi berisi gabungan federasi dan asosiasi pelestari ras kucing dunia yang berdiri pada 1994.</p>
<p>Sudah saatnya Indonesia mencantumkan ras kucing asli yang diakui secara internasional. Ini dapat dimulai dengan mengusulkan kucing busok atau kucing raas sebagai kucing ras asli Indonesia asal Pulau Garam Madura.</p>
<pre><a href="https://indonesia.go.id/kategori/keanekaragaman-hayati/2645/si-busok-leopard-dari-madura"><strong><em>Penulis : Anton Setiawan</em></strong></a>
<strong><em>Redaktur : Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari</em></strong></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/si-busok-leopard-dari-madura/">Si Busok, Leopard dari Madura</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/si-busok-leopard-dari-madura/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
