<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Taman Nasional Alas Purwo Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<atom:link href="https://prosesnews.id/tag/taman-nasional-alas-purwo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prosesnews.id/tag/taman-nasional-alas-purwo/</link>
	<description>Konsisten, Aktual, Independen</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Mar 2021 03:34:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2024/01/icon-prosesnews-75x75.png</url>
	<title>Berita Taman Nasional Alas Purwo Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<link>https://prosesnews.id/tag/taman-nasional-alas-purwo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Merasakan “The Lords of The Rings” di De Djawatan</title>
		<link>https://prosesnews.id/merasakan-the-lords-of-the-rings-di-de-djawatan/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/merasakan-the-lords-of-the-rings-di-de-djawatan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2021 03:34:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[banyuangi]]></category>
		<category><![CDATA[De Djawatan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan mini]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi trembesi]]></category>
		<category><![CDATA[Obyek Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional Alas Purwo]]></category>
		<category><![CDATA[trembesi]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Alam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=24406</guid>

					<description><![CDATA[<p>De Djawatan adalah hutan mini seluas empat hektare di Kabupaten Banyuwangi yang memiliki koleksi trembesi...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/merasakan-the-lords-of-the-rings-di-de-djawatan/">Merasakan “The Lords of The Rings” di De Djawatan</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_24407" aria-describedby="caption-attachment-24407" style="width: 750px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-24407 size-jnews-featured-750" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM-750x465.jpeg" alt="" width="750" height="465" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM-750x465.jpeg 750w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM-300x186.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM-768x477.jpeg 768w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM-250x155.jpeg 250w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM.jpeg 775w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><figcaption id="caption-attachment-24407" class="wp-caption-text">Hutan wisata De Djawatan di Banyuwangi, Jawa Timur. ANTARA FOTO/ Budi Chandra Setya</figcaption></figure>
<p><strong><i>De Djawatan adalah hutan mini seluas empat hektare di Kabupaten Banyuwangi yang memiliki koleksi trembesi berusia lebih dari 100 tahun.</i></strong></p>
<p>Kabupaten Banyuwangi yang berada di ujung timur Pulau Jawa memiliki koleksi obyek wisata alam yang begitu lengkap. Tak hanya Taman Nasional Alas Purwo, dengan wisata Pantai Plengkung yang berombak besar dan kerap menggoda turis-turis mancanegara.</p>
<p>Ada juga, Taman Nasional Baluran dengan kondisi alam mirip seperti taman-taman nasional di Afrika, yang nyaris kering hampir sepanjang tahun. Lantaran itulah taman nasional tersebut dijuluki <em>Little Africa From Java</em>.</p>
<p>Ada pula wisata danau kawah vulkanik di puncak Gunung Ijen yang terletak di ketinggian 2.779 meter di atas permukaan laut. Danau kawah sedalam 200 meter dan luas 5.466 hektare (ha) itu merupakan danau air asam terbesar di dunia dan memiliki fenomena api biru (<em>blue fire</em>) di dasarnya. Fenomena langka ini hanya dapat dilihat ketika tak ada cahaya, atau pada dini hari.</p>
<p>Tetapi tunggu dulu, wisata alam Banyuwangi tidak hanya Pantai Plengkung, Alas Purwo, Baluran, dan Kawah Ijen. Ada lagi lokasi wisata alam lainnya yang tak kalah serunya dan wajib dikunjungi meski pada masa pandemi seperti sekarang. Namanya hutan wisata De Djawatan yang berlokasi di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. Hutan seluas 4 ha tersebut berada di bawah pengelolaan Perum Perhutani wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan Banyuwangi Selatan.</p>
<p>Pohon trembesi merupakan tumbuhan mayoritas di De Djawatan sekaligus menjadi daya tarik utama. Ini adalah alasan terbesar pengunjung untuk datang berwisata ke kawasan sejuk yang resmi masuk dalam daftar obyek wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi sejak Juni 2018. Tumbuhan bernama ilmiah <em>Samanea saman</em> tersebut tumbuh subur di De Djawatan dengan ketinggian 25-30 meter dari permukaan tanah.</p>
<p>Menurut Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Selatan Panca Putra Sihite, pohon-pohon trembesi di De Djawatan jumlahnya ratusan batang, sepertiganya berusia 100-200 tahun. Trembesi dikenal sebagai pohon hujan karena kemampuan besarnya dalam menyerap air sehingga menyebabkan dahannya begitu lembab dan menjadi rumah paling nyaman bagi tumbuhan <em>epifit</em>, seperti jenis paku-pakuan. Rumput-rumputan pun ikut tumbuh subur di sekitar trembesi.</p>
<p>Pohon asli Amerika Selatan ini dapat cepat tumbuh membesar dengan karakteristik khas, yaitu belasan dahan pohonnya meliuk-liuk melebar membentuk kanopi atau payung. Kesuburan tanah latosol berunsur hara yang memadai di kawasan De Djawatan ikut berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan pohon-pohon trembesi hingga tinggi menjulang dan membuat kawasan sekitarnya menjadi teduh.</p>
<p><strong>Siluet Indah</strong></p>
<p>Daun-daun trembesi memang tidak selebar daun pohon mangga, tapi memberikan keuntungan berupa kemampuan menghadirkan sebuah atraksi alam yang indah, terutama di siang hari saat cuaca cerah. Itu terjadi ketika sinar mentari berlomba-lomba menyelinap masuk menembus sisi-sisi dahan kecil dan batang besar trembesi dan jatuh ke permukaan tanah. Terjangan sinar mentari di antara daun-daun dan dahan trembesi membentuk siluet indah dan pemandangan ini dapat dengan mudah ditemukan di De Djawatan setiap harinya.</p>
<p>Selintas, De Djawatan dengan lebatnya hutan trembesi ditambah kanopi alami beserta <em>efipit</em> dan siluet indah sinar mentari karya Sang Pencipta mirip dengan penggambaran hutan pada film layar lebar <em>The Lords of The Rings</em>. Film trilogi fenomenal karya sutradara Peter Jackson ini banyak mengambil latar kawasan hutan di kampung halamannya, Selandia Baru. Salah satunya Taman Nasional Kaitoke di North Island, Wellington. Taman nasional seluas 2.500 ha ini dalam film dikisahkan sebagai Rivendell, tempat tinggal kaum Elven.</p>
<p>Begitu juga penggambaran hutan lebat Mirkwood di Dunia Tengah pada kisah versi novel <em>The Lord of The Rings</em> karya sastrawan legendaris Inggris, John Ronald Reuel Tolkien, yang hidup antara 1892-1973. Tolkien menggambarkan lebatnya Mirkwood seperti Puzzlewood, hutan alam hijau seluas 14 ha di Coleford, Gloucesteshire, Inggris, dikarenakan ia kerap menyinggahinya.</p>
<p>Karena alasan itu pula, tak sedikit dari pengunjung yang menyebut De Djawatan sebagai hutan <em>The Lords of The Rings</em> dan kemudian foto-fotonya menjadi viral di media sosial pada 2017. Semakin seringnya masyarakat yang mengunjungi kawasan sejuk ini pascaviral menjadi alasan pemerintah setempat menjadikannya sebagai obyek wisata alam.</p>
<p>Lingkungan hutan ini pun ditata ulang agar menarik untuk dikunjungi sekaligus sebagai pelepas penat, dengan tambahan ratusan meter jalan setapak beralas tanah, pemagaran pohon-pohon trembesi raksasa, dan tambahan fasilitas toilet dan musala. Di beberapa sudut disediakan pula bangku-bangku terbuat dari kayu jati. Agar pengunjung tak cepat lelah, pengelola menyediakan fasilitas delman. Pengelola juga menyediakan sudut-sudut cantik bagi para pengunjung untuk berfoto dengan latar pohon pohon trembesi raksasa.</p>
<p>Sebelum terkenal sebagai obyek wisata seperti sekarang ini, masyarakat Benculuk lebih mengenal hutan ini sebagai Tapel Pelas. Selama puluhan tahun, bahkan sejak masa kolonial Belanda, Tapel Pelas dijadikan lokasi tempat penimbunan kayu (TPK) dan hasil hutan yang dikelola Perhutani.</p>
<p><strong>Ramai Dikunjungi </strong></p>
<p>Setelah lokasi TPK dipindahkan ke Desa Gaul, Kecamatan Purwoharjo dan Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, Tapel Pelas pun mulai hening dan tak ada lagi aktivitas pekerja menumpukkan kayu-kayu hasil hutan. Sisa-sisa potongan kayu gelondongan yang bertumpuk-tumpuk masih bisa disaksikan di sekitar De Djawatan.</p>
<p>Sejak menjadi obyek wisata, Dinas Pariwisata Banyuwangi mencatat setiap harinya De Djawatan dikunjungi sekitar 300 orang dan hampir 1.000 orang pada akhir pekan. Salah satu pengunjung istimewanya adalah Ketua DPR RI Puan Maharani Sukarnoputri yang berkunjung pada 2 Maret 2021.</p>
<p>Pengelola juga mengutip tiket masuk tak lebih dari Rp5.000 per orang dan tarif delman sekitar Rp15.000 per orang. Di awal pandemi, obyek wisata ini sempat ditutup untuk umum, yakni pada 12 Maret hingga 21 Juli 2020.</p>
<p>Dan setelah dibuka kembali, pengelola mengeluarkan aturan ketat bagi para pengunjung termasuk penerapan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak selama di De Djawatan. Kalau tidak memakai masker, pengelola akan melarang pengunjung masuk.</p>
<p>Obyek wisata ini jaraknya sekitar 45 kilometer arah barat pusat kota Banyuwangi dan dapat ditempuh dengan perjalanan darat paling lama sekitar 60 menit. Berada di jalur utama Banyuwangi-Jember arah selatan, sebenarnya tak sulit untuk menemukan lokasi cantik ini karena sudah dilengkapi penunjuk jalan. Jika memakai kendaraan umum, bisa menaiki bus antarkota jurusan Banyuwangi-Jember atau Banyuwangi-Surabaya dari Terminal Karangente dan turun di pertigaan Benculuk lalu menyambung menggunakan jasa ojek.</p>
<p>Bagi mereka yang belum pernah ke kawasan De Djawatan, bisa saja kebablasan ketika sampai di pertigaan lampu merah Benculuk. Pasalnya, papan penunjuk jalan ke De Djawatan berukuran agak kecil. Itulah sebabnya, mesjid besar bernama Masjid Jami Al-Falah Benculuk atau Masjid Benculuk biasa dijadikan sebagai patokan. Masjid ini berada di sisi kanan jalan dari arah Kota Banyuwangi.</p>
<p>Pintu masuk menuju De Djawatan ditandai dengan sebuah gerbang desa setinggi 5 meter dan lebar 7 meter lengkap dengan dua pilar besar. Pengunjung harus menyusuri jalan desa selebar 4 meter sejauh 100 meter hingga bertemu gerbang berpagar besi dengan tulisan mencolok De Djawatan di dalam lokasi obyek wisata. Supaya mudah, disarankan untuk mengaktifkan sistem navigasi daring pada alat komunikasi agar lebih cepat menuju De Djawatan.</p>
<pre><strong><em>Penulis : Anton Setiawan
Redaktur : Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari</em></strong></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/merasakan-the-lords-of-the-rings-di-de-djawatan/">Merasakan “The Lords of The Rings” di De Djawatan</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/merasakan-the-lords-of-the-rings-di-de-djawatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pesona Alam dan Aura Mistis Alas Purwo</title>
		<link>https://prosesnews.id/pesona-alam-dan-aura-mistis-alas-purwo/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/pesona-alam-dan-aura-mistis-alas-purwo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2021 01:07:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[Lokasi Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Savana Sadengan]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[Pandemi Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai G-Land]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Protokol Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional Alas Purwo]]></category>
		<category><![CDATA[Wana Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=22189</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain tersohor dengan padang rumput savana dan pantai pasir putihnya yang cantik, tempat ini juga...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/pesona-alam-dan-aura-mistis-alas-purwo/">Pesona Alam dan Aura Mistis Alas Purwo</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_22190" aria-describedby="caption-attachment-22190" style="width: 671px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-22190 size-full" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612690717_3DA2146F_A279_47DE_8724_C66FAE0E69FC.jpeg" alt="" width="671" height="458" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612690717_3DA2146F_A279_47DE_8724_C66FAE0E69FC.jpeg 671w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612690717_3DA2146F_A279_47DE_8724_C66FAE0E69FC-300x205.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612690717_3DA2146F_A279_47DE_8724_C66FAE0E69FC-250x171.jpeg 250w" sizes="(max-width: 671px) 100vw, 671px" /><figcaption id="caption-attachment-22190" class="wp-caption-text">Habitat hewan di Taman Nasional Alas Purwo. Foto: ANTARA FOTO</figcaption></figure>
<blockquote><p><em><strong>Selain</strong> tersohor dengan padang rumput savana dan pantai pasir putihnya yang cantik, tempat ini juga memiliki beberapa lokasi yang angker, mistis, dan penuh misteri.</em></p></blockquote>
<p>Tak lengkap rasanya saat mengunjungi Banyuwangi, Jawa Timur, jika belum menikmati pesona savana, pantai, maupun keangkeran goa-goa di kawasan Taman Nasional Alas Purwo.</p>
<p>Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) yang terbentang di wilayah Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur sudah lama jadi salah satu wana wisata unggulan Banyuwangi. Selain destinasi Kawah Ijen, tentunya.</p>
<p>Tak hanya tersohor dengan padang rumput savana dan pantai pasir putihnya yang cantik, tempat ini juga memiliki beberapa lokasi yang dianggap angker, mistis, dan penuh misteri. Para pelancong ke Alas Purwo bukan hanya para penikmat wisata alam maupun para petualang rimba.</p>
<p>Di beberapa lokasi itu terdapat pura, makam tua, petilasan, dan goa yang acap menjadi tujuan komunitas kepercayaan untuk melaksanakan ritual batin, seperti semedi. Masyarakat penganut Hindu juga rutin menggelar ritual adat mereka di sejumlah pura di kawasan tersebut.</p>
<p>Seperti dilansir dari situs resmi Taman Nasional Alas Purwo, wilayah yang terletak di ujung timur pulau Jawa itu memiliki luas mencapai 44.037 hektare. Wana wisata yang sudah ditetapkan pemerintah sebagai Geopark Nasional ini memang memiliki lokasi wisata yang komplet. Oleh karenanya, destinasi pelesiran ini dikenal hingga seantero dunia.</p>
<p>Di sini terdapat padang savana, wisata budaya, hutan mangrove, goa kuno, hingga aneka pantai pasir putih. Kawasan itu menjadi tempat berkembangnya sekitar 700 jenis flora, 50 jenis mamalia, 320 jenis burung, 15 jenis amfibi, dan 48 jenis reptil. Ekosistem TN Alas Purwo cukup kaya dengan keragaman hayatinya.</p>
<p>Salah satu kawasan yang wajib Anda kunjungi di Alas Purwo adalah Padang Savana Sadengan. Di hamparan padang savana ini terdapat binatang seperti banteng jawa, burung merak, dan rusa. Wisatawan bisa melihat mereka dari menara pantau. Jika mau melihat burung merak, misalnya, turis diharapkan datang pagi-pagi sekitar pukul 06.00 WIB.</p>
<p>Bagi para pencari panorama foto terbaik, suasana dan pemandangan terbaik bisa terlihat di pagi hari antara pukul 06.00–09.00 WIB atau sore antara pukul 15.30–17.00 WIB. Pada jam-jam tersebut, para binatang biasanya akan berkumpul dan bermain.</p>
<p>Bagi Anda menggemari napak tilas sejarah Majapahit maupun suka menelusuri situs-situs kuno, bisa juga menyambangi Pura Luhur Giri Salaka dan Situs Kawitan. Lokasi Situs Kawitan berada di jalan masuk menuju Pantai Trianggulasi.</p>
<p>Dalam bahasa Jawa Kawi, kawitan artinya adalah asal-usul. Ini terkait dengan Alas Purwo yang dipercaya sebagai tanah yang pertama kali ada saat penciptaan tanah Jawa. Umat Hindu setempat rutin melaksanakan upacara keagamaan di pura itu.</p>
<p>Alas Purwo juga memiliki kawasan ekowisata berupa hutan mangrove yang cukup terkenal, yakni Hutan Mangrove Bedul. Hutan mangrove ini merupakan yang terluas di Pulau Jawa. Wisatawan bisa berkeliling area hutan mangrove dengan menyewa perahu nelayan.</p>
<p>Bagi para pegiat selancar (<em>surfing</em>), Pantai Plengkung atau Pantai G Land sudah dikenal sebagai lokasi surfing terbaik di dunia. Pantai Plengkung punya ombak yang tinggi dan berjajar tiga lapis sebagai ciri khasnya. Tak mengherankan, pantai ini bahkan sempat beberapa kali dijadikan lokasi <em>event</em> selancar tingkat dunia.</p>
<p>Bagi yang gemar mengamati aktivitas penyu bertelur di pantai bisa mampir ke Pantai Ngagelan. Adapun Pantai Cungur dikenal sebagai lokasi untuk menyaksikan beragam jenis burung migran liar. Sedangkan bagi yang mau menikmati pasir putih bisa ke Pantai Trianggulasi dan Pantai Teluk Biru.</p>
<p>Pengelola TN Alas Purwo juga menyediakan lokasi <em>camping ground</em> di sekitar pantai. Taman Nasional Alas Purwo dikenal mempunyai banyak lokasi goa. Beberapa di antaranya adalah Goa Istana, Goa Mayangkoro, Goa Padepokan, Goa Basori, Goa Songgo Langit, dan Goa Jepang. Goa-goa tersebut dipakai sebagai tempat semedi dan habitat kelelawar serta ular.</p>
<p>Di Goa Jepang masih ada alat-alat yang digunakan dalam Perang Dunia II, seperti meriam. Yang pasti, tidak cukup cuma sehari untuk mengeksplorasi keindahan, eksotisme serta aura mistis di Alas Purwo tersebut. Siapkan rencana perjalanan Anda dengan baik.</p>
<p>Ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin bepergian ke Alas Purwo di masa kebiasaan adaptasi baru. Sempat tutup pada akhir Desember 2020, sejak 4 Januari 2021 TN Alas Purwo kembali membuka operasional kunjungan selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali, 11 Januari 2021 sampai 8 Februari 2021.</p>
<p>Untuk melakukan kunjungan ke sana, ada beberapa aturan dan larangan yang harus dipatuhi para wisatawan agar bisa berkunjung dengan tertib, aman, dan nyaman sesuai protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19.</p>
<p>Pertama, TN Alas Purwo memberlakukan jam buka terbatas selama pandemi Covid-19. Jam operasional wisata mulai pukul 08.00–16.00 WIB. Kedua, jumlah maksimal kapasitas wisatawan dibatasi tidak boleh lebih dari 500 orang sehari. Khusus untuk kawasan Padang Savana, blok Sadengan, pelancong dibatasi maksimal 50 wisatawan dengan sistem buka tutup. Beberapa kawasan wisata goa ditutup untuk mencegah penularan corona.</p>
<p>Ketiga, pengelola TN Alas Purwo menerapkan secara ketat protokol kesehatan seperti pengunjung wajib memakai masker, pemeriksaan suhu tubuh, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Hal lainnya adalah wisatawan luar Banyuwangi harus menunjukkan surat hasil negatif <em>rapid test</em> antigen atau antibodi, maupun RT-PCR.</p>
<p>Di samping sejumlah aturan tersebut, ada pula beberapa larangan lain yang berlaku khusus di Purwo. Di antaranya adalah mengambil tumbuhan, membawa kabur satwa, dan berburu. Selain itu khusus untuk di Savana Sadengan, dilarang untuk menerbangkan <em>drone</em>.</p>
<pre class="fotoCap"><em><strong>Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Redaktur Bahasa : Ratna Nuraini/ Elvira Inda Sari</strong></em></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/pesona-alam-dan-aura-mistis-alas-purwo/">Pesona Alam dan Aura Mistis Alas Purwo</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/pesona-alam-dan-aura-mistis-alas-purwo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
