<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Wisata Alam Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<atom:link href="https://prosesnews.id/tag/wisata-alam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prosesnews.id/tag/wisata-alam/</link>
	<description>Konsisten, Aktual, Independen</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Mar 2021 03:34:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2024/01/icon-prosesnews-75x75.png</url>
	<title>Berita Wisata Alam Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<link>https://prosesnews.id/tag/wisata-alam/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Merasakan “The Lords of The Rings” di De Djawatan</title>
		<link>https://prosesnews.id/merasakan-the-lords-of-the-rings-di-de-djawatan/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/merasakan-the-lords-of-the-rings-di-de-djawatan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2021 03:34:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[banyuangi]]></category>
		<category><![CDATA[De Djawatan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan mini]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi trembesi]]></category>
		<category><![CDATA[Obyek Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional Alas Purwo]]></category>
		<category><![CDATA[trembesi]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Alam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=24406</guid>

					<description><![CDATA[<p>De Djawatan adalah hutan mini seluas empat hektare di Kabupaten Banyuwangi yang memiliki koleksi trembesi...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/merasakan-the-lords-of-the-rings-di-de-djawatan/">Merasakan “The Lords of The Rings” di De Djawatan</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_24407" aria-describedby="caption-attachment-24407" style="width: 750px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-24407 size-jnews-featured-750" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM-750x465.jpeg" alt="" width="750" height="465" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM-750x465.jpeg 750w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM-300x186.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM-768x477.jpeg 768w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM-250x155.jpeg 250w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-15-at-11.31.08-AM.jpeg 775w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><figcaption id="caption-attachment-24407" class="wp-caption-text">Hutan wisata De Djawatan di Banyuwangi, Jawa Timur. ANTARA FOTO/ Budi Chandra Setya</figcaption></figure>
<p><strong><i>De Djawatan adalah hutan mini seluas empat hektare di Kabupaten Banyuwangi yang memiliki koleksi trembesi berusia lebih dari 100 tahun.</i></strong></p>
<p>Kabupaten Banyuwangi yang berada di ujung timur Pulau Jawa memiliki koleksi obyek wisata alam yang begitu lengkap. Tak hanya Taman Nasional Alas Purwo, dengan wisata Pantai Plengkung yang berombak besar dan kerap menggoda turis-turis mancanegara.</p>
<p>Ada juga, Taman Nasional Baluran dengan kondisi alam mirip seperti taman-taman nasional di Afrika, yang nyaris kering hampir sepanjang tahun. Lantaran itulah taman nasional tersebut dijuluki <em>Little Africa From Java</em>.</p>
<p>Ada pula wisata danau kawah vulkanik di puncak Gunung Ijen yang terletak di ketinggian 2.779 meter di atas permukaan laut. Danau kawah sedalam 200 meter dan luas 5.466 hektare (ha) itu merupakan danau air asam terbesar di dunia dan memiliki fenomena api biru (<em>blue fire</em>) di dasarnya. Fenomena langka ini hanya dapat dilihat ketika tak ada cahaya, atau pada dini hari.</p>
<p>Tetapi tunggu dulu, wisata alam Banyuwangi tidak hanya Pantai Plengkung, Alas Purwo, Baluran, dan Kawah Ijen. Ada lagi lokasi wisata alam lainnya yang tak kalah serunya dan wajib dikunjungi meski pada masa pandemi seperti sekarang. Namanya hutan wisata De Djawatan yang berlokasi di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. Hutan seluas 4 ha tersebut berada di bawah pengelolaan Perum Perhutani wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan Banyuwangi Selatan.</p>
<p>Pohon trembesi merupakan tumbuhan mayoritas di De Djawatan sekaligus menjadi daya tarik utama. Ini adalah alasan terbesar pengunjung untuk datang berwisata ke kawasan sejuk yang resmi masuk dalam daftar obyek wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi sejak Juni 2018. Tumbuhan bernama ilmiah <em>Samanea saman</em> tersebut tumbuh subur di De Djawatan dengan ketinggian 25-30 meter dari permukaan tanah.</p>
<p>Menurut Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Selatan Panca Putra Sihite, pohon-pohon trembesi di De Djawatan jumlahnya ratusan batang, sepertiganya berusia 100-200 tahun. Trembesi dikenal sebagai pohon hujan karena kemampuan besarnya dalam menyerap air sehingga menyebabkan dahannya begitu lembab dan menjadi rumah paling nyaman bagi tumbuhan <em>epifit</em>, seperti jenis paku-pakuan. Rumput-rumputan pun ikut tumbuh subur di sekitar trembesi.</p>
<p>Pohon asli Amerika Selatan ini dapat cepat tumbuh membesar dengan karakteristik khas, yaitu belasan dahan pohonnya meliuk-liuk melebar membentuk kanopi atau payung. Kesuburan tanah latosol berunsur hara yang memadai di kawasan De Djawatan ikut berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan pohon-pohon trembesi hingga tinggi menjulang dan membuat kawasan sekitarnya menjadi teduh.</p>
<p><strong>Siluet Indah</strong></p>
<p>Daun-daun trembesi memang tidak selebar daun pohon mangga, tapi memberikan keuntungan berupa kemampuan menghadirkan sebuah atraksi alam yang indah, terutama di siang hari saat cuaca cerah. Itu terjadi ketika sinar mentari berlomba-lomba menyelinap masuk menembus sisi-sisi dahan kecil dan batang besar trembesi dan jatuh ke permukaan tanah. Terjangan sinar mentari di antara daun-daun dan dahan trembesi membentuk siluet indah dan pemandangan ini dapat dengan mudah ditemukan di De Djawatan setiap harinya.</p>
<p>Selintas, De Djawatan dengan lebatnya hutan trembesi ditambah kanopi alami beserta <em>efipit</em> dan siluet indah sinar mentari karya Sang Pencipta mirip dengan penggambaran hutan pada film layar lebar <em>The Lords of The Rings</em>. Film trilogi fenomenal karya sutradara Peter Jackson ini banyak mengambil latar kawasan hutan di kampung halamannya, Selandia Baru. Salah satunya Taman Nasional Kaitoke di North Island, Wellington. Taman nasional seluas 2.500 ha ini dalam film dikisahkan sebagai Rivendell, tempat tinggal kaum Elven.</p>
<p>Begitu juga penggambaran hutan lebat Mirkwood di Dunia Tengah pada kisah versi novel <em>The Lord of The Rings</em> karya sastrawan legendaris Inggris, John Ronald Reuel Tolkien, yang hidup antara 1892-1973. Tolkien menggambarkan lebatnya Mirkwood seperti Puzzlewood, hutan alam hijau seluas 14 ha di Coleford, Gloucesteshire, Inggris, dikarenakan ia kerap menyinggahinya.</p>
<p>Karena alasan itu pula, tak sedikit dari pengunjung yang menyebut De Djawatan sebagai hutan <em>The Lords of The Rings</em> dan kemudian foto-fotonya menjadi viral di media sosial pada 2017. Semakin seringnya masyarakat yang mengunjungi kawasan sejuk ini pascaviral menjadi alasan pemerintah setempat menjadikannya sebagai obyek wisata alam.</p>
<p>Lingkungan hutan ini pun ditata ulang agar menarik untuk dikunjungi sekaligus sebagai pelepas penat, dengan tambahan ratusan meter jalan setapak beralas tanah, pemagaran pohon-pohon trembesi raksasa, dan tambahan fasilitas toilet dan musala. Di beberapa sudut disediakan pula bangku-bangku terbuat dari kayu jati. Agar pengunjung tak cepat lelah, pengelola menyediakan fasilitas delman. Pengelola juga menyediakan sudut-sudut cantik bagi para pengunjung untuk berfoto dengan latar pohon pohon trembesi raksasa.</p>
<p>Sebelum terkenal sebagai obyek wisata seperti sekarang ini, masyarakat Benculuk lebih mengenal hutan ini sebagai Tapel Pelas. Selama puluhan tahun, bahkan sejak masa kolonial Belanda, Tapel Pelas dijadikan lokasi tempat penimbunan kayu (TPK) dan hasil hutan yang dikelola Perhutani.</p>
<p><strong>Ramai Dikunjungi </strong></p>
<p>Setelah lokasi TPK dipindahkan ke Desa Gaul, Kecamatan Purwoharjo dan Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, Tapel Pelas pun mulai hening dan tak ada lagi aktivitas pekerja menumpukkan kayu-kayu hasil hutan. Sisa-sisa potongan kayu gelondongan yang bertumpuk-tumpuk masih bisa disaksikan di sekitar De Djawatan.</p>
<p>Sejak menjadi obyek wisata, Dinas Pariwisata Banyuwangi mencatat setiap harinya De Djawatan dikunjungi sekitar 300 orang dan hampir 1.000 orang pada akhir pekan. Salah satu pengunjung istimewanya adalah Ketua DPR RI Puan Maharani Sukarnoputri yang berkunjung pada 2 Maret 2021.</p>
<p>Pengelola juga mengutip tiket masuk tak lebih dari Rp5.000 per orang dan tarif delman sekitar Rp15.000 per orang. Di awal pandemi, obyek wisata ini sempat ditutup untuk umum, yakni pada 12 Maret hingga 21 Juli 2020.</p>
<p>Dan setelah dibuka kembali, pengelola mengeluarkan aturan ketat bagi para pengunjung termasuk penerapan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak selama di De Djawatan. Kalau tidak memakai masker, pengelola akan melarang pengunjung masuk.</p>
<p>Obyek wisata ini jaraknya sekitar 45 kilometer arah barat pusat kota Banyuwangi dan dapat ditempuh dengan perjalanan darat paling lama sekitar 60 menit. Berada di jalur utama Banyuwangi-Jember arah selatan, sebenarnya tak sulit untuk menemukan lokasi cantik ini karena sudah dilengkapi penunjuk jalan. Jika memakai kendaraan umum, bisa menaiki bus antarkota jurusan Banyuwangi-Jember atau Banyuwangi-Surabaya dari Terminal Karangente dan turun di pertigaan Benculuk lalu menyambung menggunakan jasa ojek.</p>
<p>Bagi mereka yang belum pernah ke kawasan De Djawatan, bisa saja kebablasan ketika sampai di pertigaan lampu merah Benculuk. Pasalnya, papan penunjuk jalan ke De Djawatan berukuran agak kecil. Itulah sebabnya, mesjid besar bernama Masjid Jami Al-Falah Benculuk atau Masjid Benculuk biasa dijadikan sebagai patokan. Masjid ini berada di sisi kanan jalan dari arah Kota Banyuwangi.</p>
<p>Pintu masuk menuju De Djawatan ditandai dengan sebuah gerbang desa setinggi 5 meter dan lebar 7 meter lengkap dengan dua pilar besar. Pengunjung harus menyusuri jalan desa selebar 4 meter sejauh 100 meter hingga bertemu gerbang berpagar besi dengan tulisan mencolok De Djawatan di dalam lokasi obyek wisata. Supaya mudah, disarankan untuk mengaktifkan sistem navigasi daring pada alat komunikasi agar lebih cepat menuju De Djawatan.</p>
<pre><strong><em>Penulis : Anton Setiawan
Redaktur : Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari</em></strong></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/merasakan-the-lords-of-the-rings-di-de-djawatan/">Merasakan “The Lords of The Rings” di De Djawatan</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/merasakan-the-lords-of-the-rings-di-de-djawatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menikmati Malam di Talulobutu, Desa yang Menyulap Drainase Menjadi Wisata Air</title>
		<link>https://prosesnews.id/menikmati-malam-di-talulobutu-desa-yang-menyulap-drainase-menjadi-wisata-air/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/menikmati-malam-di-talulobutu-desa-yang-menyulap-drainase-menjadi-wisata-air/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arfandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2021 11:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Talulobutu]]></category>
		<category><![CDATA[Toino]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Keren]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Malam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=23854</guid>

					<description><![CDATA[<p>PROSESNEWS.ID &#8211; Siapa sangka jika drainase atau irigasi saluran air bisa berubah menjadi tempat wisata...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/menikmati-malam-di-talulobutu-desa-yang-menyulap-drainase-menjadi-wisata-air/">Menikmati Malam di Talulobutu, Desa yang Menyulap Drainase Menjadi Wisata Air</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_23855" aria-describedby="caption-attachment-23855" style="width: 772px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class=" wp-image-23855" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/dd-300x202.jpeg" alt="" width="772" height="520" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/dd-300x202.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/dd-768x516.jpeg 768w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/dd-250x168.jpeg 250w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/dd-750x504.jpeg 750w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/03/dd.jpeg 960w" sizes="(max-width: 772px) 100vw, 772px" /><figcaption id="caption-attachment-23855" class="wp-caption-text">Menikmati Malam di Talulobutu, Desa yang Menyulap Drainase jadi Menjadi Wisata Air</figcaption></figure>
<p><strong>PROSESNEWS.ID &#8211;</strong> Siapa sangka jika drainase atau irigasi saluran air bisa berubah menjadi tempat wisata keren. Hal itu bisa dibuktikan oleh Pemerintah Desa Talulobutu bersama warga sekitar yang menyulap drainase ini menjadi tempat wisata yang unik.</p>
<p>Tepatnya di Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango (Bonebol), Gorontalo. Meski terbilang belum lama, wisata alam ini kian diminati banyak orang, mulai dari kalangan anak-anak, muda-mudi hingga orang dewasa kerap melancong di tempat itu.</p>
<p>Warga sekitar menamainya Obyek Wisata Air Toino. Wisata yang viral di media sosial ini menjadi perbincangan warganet setelah salah satu pengunjung mengunggahnya ke media sosial.</p>
<p>Gemerlap lampu hias yang berjajar rapi di tepian drainase menjadi salah satu daya tarik pengunjung. Suara gemercik air drainase membuat pengunjung makin betah seakan tidak mau beranjak dari tempat itu.</p>
<p>Tidak hanya suasananya saja, yang menjadi daya tarik pengunjung di tempat ini adalah kuliner khas Gorontalo yang dijajakan di tempat itu. Tidak hanya enak, harganya pun cukup terjangkau.</p>
<p>Maka tak heran, jika banyak pengunjung yang mengajak sanak dan keluarganya untuk menghabiskan malam di wisata Air Toino. Paling romantis lagi jika pengunjung mengajak pasangan untuk bersantai.</p>
<p>&#8220;Saya tau tempat ini dari postingan media sosial dari beberapa teman, ternyata sangat bagus,&#8221; kata Yana Karim salah satu pengunjung.</p>
<p>&#8220;Selain gemerlap lampu hias, di sini juga ada wahana perahu apung warna-warni yang bisa kita sewa,&#8221; ujar Yana.</p>
<p>Ternyata wisata tersebut digagas sebagai bentuk keprihatinan warga terhadap drainase yang kerap menjadi tempat pembuangan sampah.</p>
<p>Kepala Desa Talulobutu, Herman Eki mengatakan, bahwa tujuan dibangunnya wisata ini demi mengajarkan masyarakat agar bagaimana cara menjaga kelestarian sungai agar tidak tercemar.</p>
<p>&#8220;Agar tidak ada lagi masyarakat yg membuang sampah di kali ini. Menjaga air irigasi agar tetap bersih itu penting,&#8221; kata Herman.</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/menikmati-malam-di-talulobutu-desa-yang-menyulap-drainase-menjadi-wisata-air/">Menikmati Malam di Talulobutu, Desa yang Menyulap Drainase Menjadi Wisata Air</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/menikmati-malam-di-talulobutu-desa-yang-menyulap-drainase-menjadi-wisata-air/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemerintah Gorontalo Dorong Pengembangan Destinasi Wisata Bahari di Gorut</title>
		<link>https://prosesnews.id/pemerintah-gorontalo-dorong-pengembangan-destinasi-wisata-bahari-di-gorut/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/pemerintah-gorontalo-dorong-pengembangan-destinasi-wisata-bahari-di-gorut/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arfandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2021 03:47:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemprov Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau]]></category>
		<category><![CDATA[Salam Pagi]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Akhir Pekan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Gorontalo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=23396</guid>

					<description><![CDATA[<p>PROSESNEWS.ID &#8211; Gugusan pulau-pulau kecil memesona di lepas pantai utara Kabupaten Gorontalo Utara menjadi magnit...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/pemerintah-gorontalo-dorong-pengembangan-destinasi-wisata-bahari-di-gorut/">Pemerintah Gorontalo Dorong Pengembangan Destinasi Wisata Bahari di Gorut</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_23397" aria-describedby="caption-attachment-23397" style="width: 767px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class=" wp-image-23397" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/Screenshot_87-300x172.jpg" alt="" width="767" height="440" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/Screenshot_87-300x172.jpg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/Screenshot_87-250x143.jpg 250w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/Screenshot_87.jpg 696w" sizes="(max-width: 767px) 100vw, 767px" /><figcaption id="caption-attachment-23397" class="wp-caption-text">Suasana rapat koordinasi dan evaluasi Pemprov Gorontalo dengan Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara, Kamis (25/2/2021). Pertemuan ini membahas program strategis di Kabupaten Gorontalo Utara. (Foto – Salman)</figcaption></figure>
<p><strong>PROSESNEWS.ID &#8211;</strong> Gugusan pulau-pulau kecil memesona di lepas pantai utara Kabupaten Gorontalo Utara menjadi magnit pariwisata kelas dunia. Potensi alam yang luar biasa indah ini menjadi modal pengembangan ekonomi daerah ini di masa depan.</p>
<p>Pesona ini disampaikan oleh Gubernur Gorontalo Rusli Habibie saat menggelar rapat koordinasi dan evaluasi dengan Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara, Kamis (25/2/2021).<br />
Pertemuan ini membahas program strategis di Kabupaten Gorontalo Utara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pendapatan.</p>
<p>“Di Gorontalo Utara ini daya tariknya memang di destinasi wisata. Di sini banyak pulau-pulau yang sangat bagus. Beberapa waktu yang lalu, kami melakukan pertemuan dengan Menteri Pariwisata dan memang pemaparan dari Pak Wabup soal Pantai Minanga adalah yang paling menarik perhatian menteri. Di situ ditampilkan bagaimana ombaknya pantai ini, juga ditambahkan dengan Kota Jin. Ini destinasi perlu kita kembangkan, karena ada bau mistisnya,” kata Rusli Habibie.</p>
<p>Dalam pertemuan yang digelar di aula kantor bupati itu dipimpin Rusli Habibie dihadiri Bupati Gorontalo Utara Indra Yasin dan jajarannya.<br />
Dalam rapat ini Rusli Habibie meminta Kepala Dinas Pariwisata Rifli Katili menjelaskan lebih detail kebijakan wisata di Gorontalo.</p>
<p>Rifli Katili menjelaskan Pantai Minanga saat ini tengah digandrungi wisatawan. Rifli Katili mengusulkan kepada Bupati Gorut agar di kawasan destinasi wisata pantai ini dapat dibangun berbagai komunitas industri kreatif yang mendukung obyek wisata ini.</p>
<p>“Kita di Gorontalo sudah banyak destinasi wisata, tetapi belum ada satupun yang terintegrasi dengan perkampungan industri kreatif. Artinya hari ini orang datang berwisata tetapi ketika berbelanja malah di tempat lain. Jadi kami berharap di Minanga ini orang bisa menikmati juga kulinernya, kerajinan tangannya, dan ini pasti bisa meningkatkan ekonomi masyarakat lokal,” kata Rifli Katili.</p>
<p>Selain wisata, Rusli Habibie juga meminta sejumlah kepala OPD dengan program unggulan untuk menyampaikan programnya di Gorontalo Utara. Di antaranya dari dunia pendidikan, pertanian, perikanan dan PUPR.</p>
<p>“Di sini ada perwakilan masyarakat petani kan? Saya sengaja undang perwakilan petani karena memang pekerjaan masyarakat sebagian besar adalah petani. Jadi silahkan apapun tanyakan kepada Kadis Pertanian. Saya juga ajak Balai Jalan dan Balai Sungai,” ucap Rusli Habibie.</p>
<p>Terkait pembangunan jalan tembus Tolinggula-Marisa Pemerintah Provinsi Gorontalo mengakui adanya kendala, yaitu kawasan konservasi yang harus dilindungi.</p>
<p>“Kepala Dinas PUPR sedang mencari jalan keluarnya,” ucap Rusli Habibie.</p>
<p>Ia meminta setelah pertemuan ini para kepala dinas program unggulan melanjutkan pembahasan dengan Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara.</p>
<p>Dalam rakorev yang juga dihadiri anggota Komisi VIII DPR RI Idah Syahidah terungkap, Kabupaten Gorontalo Utara memiliki alokasi anggaran yang digelontorkan Pemprov Gorontalo tahun 2021 sebesar Rp238 miliar. Anggaran ini naik dari dari tahun sebelumnya yang hanya Rp149 miliar.</p>
<p>Dalam pertemuan ini Rusli membawa hampir semua pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Rapat Ini juga menjadi agenda rutin sejak ia menjadi gubernur tahun 2012, forum ini merupakan sarana untuk memaparkan dan mengevaluasi hasil program 2020 dan menyinkronkan APBD 2021 dengan program pemerintah daerah.</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/pemerintah-gorontalo-dorong-pengembangan-destinasi-wisata-bahari-di-gorut/">Pemerintah Gorontalo Dorong Pengembangan Destinasi Wisata Bahari di Gorut</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/pemerintah-gorontalo-dorong-pengembangan-destinasi-wisata-bahari-di-gorut/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pesona Alam dan Aura Mistis Alas Purwo</title>
		<link>https://prosesnews.id/pesona-alam-dan-aura-mistis-alas-purwo/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/pesona-alam-dan-aura-mistis-alas-purwo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2021 01:07:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[Lokasi Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Savana Sadengan]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[Pandemi Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai G-Land]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Protokol Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional Alas Purwo]]></category>
		<category><![CDATA[Wana Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=22189</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain tersohor dengan padang rumput savana dan pantai pasir putihnya yang cantik, tempat ini juga...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/pesona-alam-dan-aura-mistis-alas-purwo/">Pesona Alam dan Aura Mistis Alas Purwo</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_22190" aria-describedby="caption-attachment-22190" style="width: 671px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-22190 size-full" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612690717_3DA2146F_A279_47DE_8724_C66FAE0E69FC.jpeg" alt="" width="671" height="458" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612690717_3DA2146F_A279_47DE_8724_C66FAE0E69FC.jpeg 671w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612690717_3DA2146F_A279_47DE_8724_C66FAE0E69FC-300x205.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612690717_3DA2146F_A279_47DE_8724_C66FAE0E69FC-250x171.jpeg 250w" sizes="auto, (max-width: 671px) 100vw, 671px" /><figcaption id="caption-attachment-22190" class="wp-caption-text">Habitat hewan di Taman Nasional Alas Purwo. Foto: ANTARA FOTO</figcaption></figure>
<blockquote><p><em><strong>Selain</strong> tersohor dengan padang rumput savana dan pantai pasir putihnya yang cantik, tempat ini juga memiliki beberapa lokasi yang angker, mistis, dan penuh misteri.</em></p></blockquote>
<p>Tak lengkap rasanya saat mengunjungi Banyuwangi, Jawa Timur, jika belum menikmati pesona savana, pantai, maupun keangkeran goa-goa di kawasan Taman Nasional Alas Purwo.</p>
<p>Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) yang terbentang di wilayah Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur sudah lama jadi salah satu wana wisata unggulan Banyuwangi. Selain destinasi Kawah Ijen, tentunya.</p>
<p>Tak hanya tersohor dengan padang rumput savana dan pantai pasir putihnya yang cantik, tempat ini juga memiliki beberapa lokasi yang dianggap angker, mistis, dan penuh misteri. Para pelancong ke Alas Purwo bukan hanya para penikmat wisata alam maupun para petualang rimba.</p>
<p>Di beberapa lokasi itu terdapat pura, makam tua, petilasan, dan goa yang acap menjadi tujuan komunitas kepercayaan untuk melaksanakan ritual batin, seperti semedi. Masyarakat penganut Hindu juga rutin menggelar ritual adat mereka di sejumlah pura di kawasan tersebut.</p>
<p>Seperti dilansir dari situs resmi Taman Nasional Alas Purwo, wilayah yang terletak di ujung timur pulau Jawa itu memiliki luas mencapai 44.037 hektare. Wana wisata yang sudah ditetapkan pemerintah sebagai Geopark Nasional ini memang memiliki lokasi wisata yang komplet. Oleh karenanya, destinasi pelesiran ini dikenal hingga seantero dunia.</p>
<p>Di sini terdapat padang savana, wisata budaya, hutan mangrove, goa kuno, hingga aneka pantai pasir putih. Kawasan itu menjadi tempat berkembangnya sekitar 700 jenis flora, 50 jenis mamalia, 320 jenis burung, 15 jenis amfibi, dan 48 jenis reptil. Ekosistem TN Alas Purwo cukup kaya dengan keragaman hayatinya.</p>
<p>Salah satu kawasan yang wajib Anda kunjungi di Alas Purwo adalah Padang Savana Sadengan. Di hamparan padang savana ini terdapat binatang seperti banteng jawa, burung merak, dan rusa. Wisatawan bisa melihat mereka dari menara pantau. Jika mau melihat burung merak, misalnya, turis diharapkan datang pagi-pagi sekitar pukul 06.00 WIB.</p>
<p>Bagi para pencari panorama foto terbaik, suasana dan pemandangan terbaik bisa terlihat di pagi hari antara pukul 06.00–09.00 WIB atau sore antara pukul 15.30–17.00 WIB. Pada jam-jam tersebut, para binatang biasanya akan berkumpul dan bermain.</p>
<p>Bagi Anda menggemari napak tilas sejarah Majapahit maupun suka menelusuri situs-situs kuno, bisa juga menyambangi Pura Luhur Giri Salaka dan Situs Kawitan. Lokasi Situs Kawitan berada di jalan masuk menuju Pantai Trianggulasi.</p>
<p>Dalam bahasa Jawa Kawi, kawitan artinya adalah asal-usul. Ini terkait dengan Alas Purwo yang dipercaya sebagai tanah yang pertama kali ada saat penciptaan tanah Jawa. Umat Hindu setempat rutin melaksanakan upacara keagamaan di pura itu.</p>
<p>Alas Purwo juga memiliki kawasan ekowisata berupa hutan mangrove yang cukup terkenal, yakni Hutan Mangrove Bedul. Hutan mangrove ini merupakan yang terluas di Pulau Jawa. Wisatawan bisa berkeliling area hutan mangrove dengan menyewa perahu nelayan.</p>
<p>Bagi para pegiat selancar (<em>surfing</em>), Pantai Plengkung atau Pantai G Land sudah dikenal sebagai lokasi surfing terbaik di dunia. Pantai Plengkung punya ombak yang tinggi dan berjajar tiga lapis sebagai ciri khasnya. Tak mengherankan, pantai ini bahkan sempat beberapa kali dijadikan lokasi <em>event</em> selancar tingkat dunia.</p>
<p>Bagi yang gemar mengamati aktivitas penyu bertelur di pantai bisa mampir ke Pantai Ngagelan. Adapun Pantai Cungur dikenal sebagai lokasi untuk menyaksikan beragam jenis burung migran liar. Sedangkan bagi yang mau menikmati pasir putih bisa ke Pantai Trianggulasi dan Pantai Teluk Biru.</p>
<p>Pengelola TN Alas Purwo juga menyediakan lokasi <em>camping ground</em> di sekitar pantai. Taman Nasional Alas Purwo dikenal mempunyai banyak lokasi goa. Beberapa di antaranya adalah Goa Istana, Goa Mayangkoro, Goa Padepokan, Goa Basori, Goa Songgo Langit, dan Goa Jepang. Goa-goa tersebut dipakai sebagai tempat semedi dan habitat kelelawar serta ular.</p>
<p>Di Goa Jepang masih ada alat-alat yang digunakan dalam Perang Dunia II, seperti meriam. Yang pasti, tidak cukup cuma sehari untuk mengeksplorasi keindahan, eksotisme serta aura mistis di Alas Purwo tersebut. Siapkan rencana perjalanan Anda dengan baik.</p>
<p>Ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin bepergian ke Alas Purwo di masa kebiasaan adaptasi baru. Sempat tutup pada akhir Desember 2020, sejak 4 Januari 2021 TN Alas Purwo kembali membuka operasional kunjungan selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali, 11 Januari 2021 sampai 8 Februari 2021.</p>
<p>Untuk melakukan kunjungan ke sana, ada beberapa aturan dan larangan yang harus dipatuhi para wisatawan agar bisa berkunjung dengan tertib, aman, dan nyaman sesuai protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19.</p>
<p>Pertama, TN Alas Purwo memberlakukan jam buka terbatas selama pandemi Covid-19. Jam operasional wisata mulai pukul 08.00–16.00 WIB. Kedua, jumlah maksimal kapasitas wisatawan dibatasi tidak boleh lebih dari 500 orang sehari. Khusus untuk kawasan Padang Savana, blok Sadengan, pelancong dibatasi maksimal 50 wisatawan dengan sistem buka tutup. Beberapa kawasan wisata goa ditutup untuk mencegah penularan corona.</p>
<p>Ketiga, pengelola TN Alas Purwo menerapkan secara ketat protokol kesehatan seperti pengunjung wajib memakai masker, pemeriksaan suhu tubuh, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Hal lainnya adalah wisatawan luar Banyuwangi harus menunjukkan surat hasil negatif <em>rapid test</em> antigen atau antibodi, maupun RT-PCR.</p>
<p>Di samping sejumlah aturan tersebut, ada pula beberapa larangan lain yang berlaku khusus di Purwo. Di antaranya adalah mengambil tumbuhan, membawa kabur satwa, dan berburu. Selain itu khusus untuk di Savana Sadengan, dilarang untuk menerbangkan <em>drone</em>.</p>
<pre class="fotoCap"><em><strong>Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Redaktur Bahasa : Ratna Nuraini/ Elvira Inda Sari</strong></em></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/pesona-alam-dan-aura-mistis-alas-purwo/">Pesona Alam dan Aura Mistis Alas Purwo</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/pesona-alam-dan-aura-mistis-alas-purwo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merawat Eksotisme Benteng Pendem</title>
		<link>https://prosesnews.id/merawat-eksotisme-benteng-pendem/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/merawat-eksotisme-benteng-pendem/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2021 09:55:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[Bengawan Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Benteng Pendem]]></category>
		<category><![CDATA[Benteng Van Den Bosch]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Ngawi]]></category>
		<category><![CDATA[Pangeran Diponegoro]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Tol Trans Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=21820</guid>

					<description><![CDATA[<p>Benteng Pendem berlokasi tak jauh dari pertemuan dua sungai besar Bengawan Solo dan Sungai Madiun...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/merawat-eksotisme-benteng-pendem/">Merawat Eksotisme Benteng Pendem</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_21821" aria-describedby="caption-attachment-21821" style="width: 717px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-21821 " src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/01/1610861808_pndem.jpeg" alt="" width="717" height="411" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/01/1610861808_pndem.jpeg 620w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/01/1610861808_pndem-300x172.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/01/1610861808_pndem-250x143.jpeg 250w" sizes="auto, (max-width: 717px) 100vw, 717px" /><figcaption id="caption-attachment-21821" class="wp-caption-text">Area benteng pendam Van Den Bosch di Ngawi , Jawa Timur. (Foto : ANTARA FOTO).</figcaption></figure>
<p><em><strong>Benteng</strong> Pendem berlokasi tak jauh dari pertemuan dua sungai besar Bengawan Solo dan Sungai Madiun di Ngawi, Jawa Timur. Bangunan cagar budaya nasional itu kini sedang direvitalisasi oleh pemerintah agar tetap terjaga kelestariannya.</em></p>
<p>Ngawi tak hanya dikenal dengan wisata sejarah manusia purbanya. Kabupaten di Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah ini juga menyimpan potensi wisata sejarah, berupa bangunan benteng dari era Hindia Belanda. Namanya Benteng Van Den Bosch, berlokasi di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, atau sekitar 1 kilometer timur laut dari pusat pemerintahan kabupaten berpenduduk hampir 900 ribu jiwa itu.</p>
<p>Benteng ini diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-43, Johannes Graaf Van Den Bosch, yang dikenal dengan tanam paksa atau <em>cultuurstelsel</em>. Bangunan bersejarah berukuran panjang 165 meter dan lebar 80 meter itu berdiri di atas lahan seluas 15 hektare. Bangunan pertahanan tersebut mulai dibuat oleh arsitek Belanda, Jacobus von Dentzsch, antara tahun 1839 hingga 1845.</p>
<p>Posisi benteng ini tak seperti lazimnya sebuah bangunan pertahanan. Jika umumnya benteng dibangun dengan posisi lebih tinggi dari daratan di sekitarnya atau berada di perbukitan, tidak demikian dengan bangunan seluas 7.594,2 meter persegi (m2) itu. Arsitek Dentzsch justru mendirikannya dengan posisi bangunan lebih rendah dari tanah di sekitarnya. Karena posisinya yang terpendam itulah membuat Benteng Van Den Bosch juga disebut dengan Benteng Pendem.</p>
<p>Bukan itu saja, lokasi benteng berada di sudut sebuah lahan tempuran, atau pertemuan dua sungai besar, Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Dengan posisi seperti itu membuat keberadaan Benteng Pendem sangat diperlukan Pemerintah Hindia Belanda untuk mengamankan dan menguasai jalur perdagangan mereka.</p>
<p>Terlebih saat itu mereka usai menghadapi perlawanan berat dari Pangeran Diponegoro dalam perang yang berlangsung pada 1825-1830. Belanda menjadikan Ngawi dan Madiun sebagai pusat pertahanan ketika peperangan terjadi.</p>
<p>Membangun pusat pertahanan di tepian Bengawan Solo menjadi pilihan strategis bagi Van Den Bosch. Apalagi Bengawan Solo menjadi salah satu jalur transportasi penting yang menghubungkan pesisir utara dengan wilayah pedalaman Pulau Jawa.</p>
<p>Untuk memperkuat pertahanan, Van Den Bosch melengkapi bentengnya dengan 250 prajurit bersenjata bedil, 60 pasukan kavaleri, serta terdapat 6 meriam api yang ditempatkan di beberapa sudut benteng. Para prajurit ini diberikan kamar-kamar serupa asrama di lantai dua benteng. Sedangkan di bagian bawah tanahnya dibuat semacam penjara. Terdapat pula bangunan untuk gudang amunisi.</p>
<p>Meski sudah berusia hampir 2 abad dan tidak lagi berfungsi sebagai bangunan pertahanan, eksotisme Benteng Pendem tetap terjaga. Lekuk-lekuk kokoh bangunan khas Eropa masih terlihat, meski sebagian sudah tidak utuh. Ini akibat dibom pasukan Jepang pada masa Perang Kemerdekaan tahun 1942. Beberapa bagian dinding pun sudah terlihat kusam.</p>
<p>Batalyon Artileri Medan 12, salah satu kesatuan dalam Komando Strategis Cadangan TNI Angkatan Darat (Kostrad) di Kabupaten Ngawi pernah berkantor di benteng ini. Kesatuan inilah yang kemudian berinisiatif untuk ikut membantu merawat cagar budaya nasional dan membuka benteng sebagai salah satu tujuan wisata sejarah pada 2012.</p>
<p><strong>Revitalisasi Benteng Pendem</strong></p>
<p>Kini, lokasi ini menjadi tempat wisata sejarah di Ngawi serta dikenal sebagai salah satu lokasi pemotretan <em>outdoor</em> terbaik di Jawa Timur. Tak kurang dari Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana pernah menyempatkan diri berwisata ke Benteng Pendem pada 1 Februari 2019.</p>
<p>Saat itu Presiden Joko Widodo meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk merevitalisasi bangunan bersejarah ini. Presiden minta agar revitalisasi disesuaikan dengan fungsi sebagai tujuan wisata diselaraskan dengan lingkungan serta tetap mempertahankan kearifan lokal. Demikian pula dengan dilibatkannya pemerintah daerah mulai dari tahap perencanaan hingga pembangunan.</p>
<p>Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya sejak 10 Desember 2020 mulai melakukan restorasi Benteng Pendem. Restorasi dilakukan dengan tetap melindungi elemen-elemen bangunan utama sesuai dengan tahapan pelestarian bangunan gedung cagar budaya. Sehingga pemugaran tidak menghilangkan arsitektur asli dari bangunan tersebut. Terdapat 13 bangunan yang akan dilakukan restorasi di antaranya bangunan barak prjurit, mess perwira, dapur umum, kediaman dan kantor gubernur jenderal, baston, dan gerbang.</p>
<p>Kemudian juga dilakukan penataan kawasan dengan membangun jalan atau akses, drainase, pedestrian, jembatan, dan lansekap. Selain itu dibangun fasilitas tambahan seperti <em>deep wheel</em>, gardu listrik (<em>power house</em>), toilet, dan sarana prasarana air bersih.</p>
<p>Penataan Benteng Pendem meliputi juga kawasan seluas kurang lebih 42.181 m2. Kementerian PUPR pun telah menunjuk PT Nindya Karya sebagai pelaksana proyek revitalisasi dengan masa pengerjaan 780 hari dan ditargetkan selesai pada Januari 2023. Anggaran revitalisasi bersumber dari APBN tahun jamak (<em>multiyears</em>) 2020-2023 sebesar Rp113,7 miliar.</p>
<p>Dari program revitalisasi ini diharapkan tak hanya mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara, tetapi juga ikut memberikan dampak luas bagi perekonomian masyarakat sekitarnya. Kehadiran Tol Trans Jawa ruas Solo-Ngawi sepanjang 90 kilometer yang beroperasi penuh pada November 2018 juga bisa menjadi penunjang infrastruktur wisata sejarah ke Benteng Pendem ini.</p>
<p>Jangan lupa untuk selalu menjaga protokol kesehatan pada masa pandemi Covid-19. Selalu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan menjaga jarak minimal 2 meter sebagai upaya melawan penyebaran virus corona.</p>
<pre class="fotoCap"><em><strong>Penulis : Anton Setiawan
Editor : Eri Sutrisno/ Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa : Ratna Nuraini</strong></em></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/merawat-eksotisme-benteng-pendem/">Merawat Eksotisme Benteng Pendem</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/merawat-eksotisme-benteng-pendem/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
