
PROSESNEWS.ID – Harga kebutuhan pokok terus naik dalam beberapa hari terakhir, Padahal, harga bapok itu sempat menurun setelah momen Idulfitri berlalu. Seperti kenaikan harga cabai, bawang, dan tomat yang turut mengalami peningkatan cukup signifikan.
Sementara, fluktuasi harga komoditas, cenderung akan menurunkan daya beli masyarakat yang pada akhirnya berdampak bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Hal itu bukan menjadi hal yang mustahil akan mengurangi kesejahteraan masyarakat.
Kenaikan pangan juga turut terjadi di Pasar Sentral Kota Gorontalo. Di mana, beberapa harga komoditas pangan terpantau melonjak dibanding dengan harga sebelumnya.
“Iya yang naik ini bahan pokok yang paling banyak dicari, seperti Rica, tomat, dan bawang,” terang Noval Mahmud seorang Pedagang di Pasar Sentral.
Diungkapkan Noval, harga Rica yang sebelumnya berkisar 85 ribu, kini menjadi 95 ribu per kilo. Sedangkan, Bawang merah dari 50 ribu per kilo, menjadi 65 ribu dan tomat, dari 18 ribu naik 28 ribu per kilo.
“Harga rica keriting juga naik, kini sudah mencapai 400 ribu per 8 kilo tidak sampe 9 kilo,” ungkap Noval.
Noval berharap kepada pemerintah agar harga bahan itu diturunkan dari petani jangan naik terus. Pasalnya, ketika harga naik pelanggan yang biasa membeli banyak, akan menurun pembeliannya.
“Setengah mati torang di sini, kurang pembeli di Pasar Sentral ini, pemerintah harus membantu turunkan harga pangan ini,” pungkasnya.
Menanggapi hal itu, Komisi B DPRD Kota Gorontalo akan melakukan kunjungan lapangan untuk memantau harga sembako menjelang jelang perayaan Idul Adha tahun 2022.
“Kami Komisi B akan memantau sejauh mana perkembangan harga sembako di lapangan,” aku Wakil Ketua Komisi B Mucksin Brekat.
Selain itu, kata Mucksin, DPRD akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kota Gorontalo untuk mencegah munculnya permainan harga bahan pokok.
Pasalnya, dijelaskan Mucksin, biasanya para pedagang yang ada dipasar menaikkan harga jual. Melihat, modal yang dikeluarkan pun cukup besar.
“Jadi kalau kita melakukan pemantauan, dimulai dari pedagang pasar kemudian di agen atau distributor,”jelasnya.
“Kalau kenaikan masih wajar, hanya 2 atau 3 persen, mungkin tidak akan masalah, tetapi kalau lebih akan menjadi masalah bagi masyarakat,” ucap Mucksin.
Reporter : Reza Saad













