Prosesnews.id
  • Home
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Tenggara
    • Sumatera Utara
    • Jawa Timur
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Traveling
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Tenggara
    • Sumatera Utara
    • Jawa Timur
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Traveling
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prosesnews.id
No Result
View All Result
Home Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo

Prof. Suleman Bouti Soroti Nasib Bahasa Minoritas dalam Orasi Ilmiah Guru Besar

Editor by Editor
7 Feb 2026 00:44
in Universitas Negeri Gorontalo

PROSESNEWS.ID – Prof. Dr. Suleman Bouti, S.Pd., M.Hum menegaskan bahwa ortografi tidak dapat dipahami semata sebagai sistem teknis penulisan bahasa, melainkan sebagai arena sosial yang sarat dengan relasi kuasa, identitas, dan legitimasi. Penegasan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah berjudul “Ortografi dalam Masyarakat Tutur Minoritas” pada Sidang Terbuka Senat Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Guru Besar Tetap Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang berlangsung di Auditorium UNG, Selasa (3/2/2026).

Dalam orasinya, Guru Besar bidang Sosiolinguistik Ortografi itu menjelaskan bahwa setiap sistem tulisan selalu membawa ideologi tertentu tentang siapa yang berhak menentukan bentuk bahasa yang dianggap benar serta siapa yang tersisih dari proses tersebut. Menurutnya, bagi masyarakat tutur minoritas yang hidup kuat dalam tradisi lisan, kehadiran ortografi kerap berada di antara dua kutub: sebagai jembatan pelestarian bahasa sekaligus berpotensi menimbulkan alienasi linguistik.

Prof. Suleman menguraikan bahwa banyak bahasa minoritas memiliki kekayaan tradisi lisan berupa doa, ritual, nyanyian, dan peribahasa yang diwariskan melalui praktik tutur. Namun, ketika bahasa-bahasa tersebut dipaksakan masuk ke dalam sistem tulisan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan pengalaman linguistik penuturnya, bahasa justru berisiko membeku menjadi artefak, kehilangan sifat hidup dan performatifnya.

Bahasa Gorontalo menjadi salah satu fokus utama kajian yang dipaparkan. Ia menyoroti keberadaan dua sistem ortografi yang hidup berdampingan, yakni Arab-Pegon sebagai warisan tradisi keagamaan dan aksara Latin sebagai simbol modernitas serta otoritas negara. Kedua sistem ini, menurutnya, tidak sepenuhnya selaras dengan karakter fonetik dan morfologis bahasa Gorontalo, sehingga melahirkan ruang negosiasi berkelanjutan antara tradisi, kebijakan, dan teknologi.

Fenomena tersebut, lanjut Prof. Suleman, tidak berdiri sendiri. Ia membandingkannya dengan berbagai kasus global, seperti masyarakat Berber di Afrika Utara yang menggunakan tiga sistem tulisan berbeda, serta perbedaan ortografi Hindi dan Urdu yang memisahkan komunitas melalui simbol visual bahasa. Dalam konteks Indonesia, dominasi aksara Latin dinilai telah mendorong marginalisasi aksara-aksara lokal atas nama efisiensi dan modernitas.

Dalam orasi itu pula, Prof. Suleman menyinggung dampak psikologis dan sosial dari normalisasi ortografi. Ketika satu bentuk tulisan dilembagakan sebagai standar tunggal, variasi kerap dipersepsikan sebagai kesalahan, bukan sebagai kekayaan. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa ortografi telah beralih fungsi dari sekadar sistem representasi bunyi menjadi mekanisme sosial penegak kepatuhan.

Tantangan baru, tambahnya, datang dari dunia digital. Banyak sistem tulisan minoritas tidak kompatibel dengan papan ketik, perangkat lunak, maupun standar Unicode, sehingga secara perlahan terhapus dari ruang digital. Dalam konteks Gorontalo, kesulitan menuliskan tanda glotal dan vokal panjang membuat penutur menyesuaikan diri dengan ortografi dominan, yang berpotensi mengikis variasi lokal.

Menutup orasinya, Prof. Dr. Suleman Bouti menegaskan bahwa tugas ilmuwan bahasa bukanlah sekadar menentukan mana ortografi yang benar, melainkan memahami bagaimana sistem tulisan menjadi ruang negosiasi antara masa lalu dan masa depan, antara keaslian dan adaptasi. Ortografi, menurutnya, hanya akan hidup sejauh ia diterima, digunakan, dan dicintai oleh komunitas penuturnya.

Tags: Prof. Suleman Bouti
ShareTweetSendSharePin1

Berita Terkait

No Content Available
Load More

Komentar DonkBatalkan balasan

Trending

Pemda Gorontalo

Dungaliyo Competition, Tonny Junus: Ajang Pencarian Bakat Atlet

by Editor
9 Mar 2026
0

PROSESNEWS.ID – Pemerintah Kabupaten Gorontalo mulai memfokuskan pencarian bibit atlet potensial hingga ke tingkat desa melalui ajang kompetisi lokal. Langkah...

Kasus Korupsi Miliaran di Gorut Tanpa Kabar, Sikap Kejari Dipertanyakan

7 Mar 2026
Penampakan pisang raksasa asal Arfak, Papua. Indoflashlight.org

Pohon Pisang Musa Ingens Papua, Terbesar di Dunia

14 Mei 2021
Foto Istimewa: Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)

Intensitas Kader Demokrat Turun ke Rakyat Wujud Pengabdian, Bukan Manuver Politik

6 Mar 2026
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. (Foto ; Bisnis.com)

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh Banyak Mengalami Perubahan

8 Jul 2021

SMPN 1 Batudaa Terbakar, Dokumen Penting dan Laptop Ludes

7 Mar 2026

TERBARU

Dungaliyo Competition, Tonny Junus: Ajang Pencarian Bakat Atlet

9 Mar 2026

SMPN 1 Batudaa Terbakar, Dokumen Penting dan Laptop Ludes

7 Mar 2026

Kasus Korupsi Miliaran di Gorut Tanpa Kabar, Sikap Kejari Dipertanyakan

7 Mar 2026

Tony Yunus Ingatkan Pentingnya Mengamalkan Nilai Al-Qur’an di Tengah Tantangan Zaman

7 Mar 2026

Pemda Gorontalo Bahas Terkait Izin Lahan Sekolah Rakyat

7 Mar 2026
  • Home
  • Tentang
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

©2025 Prosesnews.id. All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Tenggara
    • Sumatera Utara
    • Jawa Timur
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Traveling
  • Opini
  • Infografis

©2025 Prosesnews.id. All Rights Reserved.