
PROSESNEWS.ID – Banyak pejabat kerap gagap saat bersentuhan langsung dengan masyarakat, terjebak pada aturan normatif dan sekat-sekat protokoler. Namun hal itu tidak berlaku bagi Idah. Ia justru memusatkan makna kekuasaan di tengah masyarakat, bukan pada pernak-pernik jabatan dan simbol formal kekuasaan.
Sejak awal, Idah memandang jabatan bukan sebagai ruang untuk menikmati privilese. Pengalamannya selama lebih dari sepuluh tahun mendampingi gubernur sebagai istri, serta lima tahun menjadi wakil rakyat di Senayan, telah memberinya cukup pelajaran tentang makna kekuasaan dan pengabdian.
Lantas, apa yang mendorongnya kembali memilih jalan sebagai pejabat publik? Jawabannya sederhana: cinta—cinta kepada rakyat. Dengan pengalaman lebih dari lima belas tahun tersebut, Idah tidak mengalami kesulitan memperlakukan jabatannya sebagai milik masyarakat, bukan milik pribadi atau kelompok tertentu.
Di tengah pandangan sinis bahwa politik identik dengan kepentingan dan kekotoran, Idah hadir membawa harapan lain: bahwa politik juga dapat dijalankan dengan kesucian niat.
Kesucian itu tercermin dari caranya menempatkan jabatan di hadapan publik—sebagai amanah, bukan alat kekuasaan.
Hal tersebut tampak saat kunjungannya ke Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kamis (29/01/2026).
Kehadirannya membuat banyak orang di sekitarnya terkejut. Di ruang kelas, siswa-siswi diperlakukan layaknya anak sendiri, tanpa jarak formalitas.
“Tolong makanan, buah dan sayur diubah ya, diganti dengan yang banyak gizinya, anak-anak ini masa depan kita semua”, ujarnya saat itu.
Perhatian itu bukan hanya untuk hari ini, melainkan untuk masa depan. Idah berharap Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo bagi anak sekolah dapat berjalan optimal, dimulai dari kualitas makanan yang sehat dan bergizi.
Komitmen tersebut kembali ditunjukkannya keesokan hari, Jumat (30/01/2026). Sejak pukul 04.30 Wita, Idah telah bergerak menuju wilayah barat Gorontalo, tepatnya di Kabupaten Boalemo, untuk melakukan inspeksi mendadak di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Tujuannya jelas, memastikan seluruh proses penyaluran MBG berjalan sesuai dengan ketentuan. Dapur MBG diperiksa hingga ke aspek paling mendasar. Para pekerja ditemui satu per satu untuk memastikan standar pelayanan dan kebersihan terpenuhi.
Cintanya terhadap masa depan anak-anak kembali ia tegaskan melalui pesan yang tegas namun penuh kepedulian.











