<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Imlek Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<atom:link href="https://prosesnews.id/tag/imlek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prosesnews.id/tag/imlek/</link>
	<description>Konsisten, Aktual, Independen</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Feb 2021 04:05:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2024/01/icon-prosesnews-75x75.png</url>
	<title>Berita Imlek Viral Terkini - Prosesnews.id</title>
	<link>https://prosesnews.id/tag/imlek/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kuasa Politik di Balik Perubahan Istilah China-Tionghoa</title>
		<link>https://prosesnews.id/kuasa-politik-di-balik-perubahan-istilah-china-tionghoa/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/kuasa-politik-di-balik-perubahan-istilah-china-tionghoa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2021 04:05:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Imlek]]></category>
		<category><![CDATA[imlek 2021]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru imlek]]></category>
		<category><![CDATA[tionghoa]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=22627</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penyebutan China untuk orang Tionghoa di Indonesia memiliki sejarah panjang. Begitu pula dengan perubahan sebutan...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/kuasa-politik-di-balik-perubahan-istilah-china-tionghoa/">Kuasa Politik di Balik Perubahan Istilah China-Tionghoa</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_22628" aria-describedby="caption-attachment-22628" style="width: 718px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-22628 " src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/7f67ef38-67da-4525-9b8d-b61e9787349d_169.jpeg" alt="" width="718" height="403" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/7f67ef38-67da-4525-9b8d-b61e9787349d_169.jpeg 650w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/7f67ef38-67da-4525-9b8d-b61e9787349d_169-300x168.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/7f67ef38-67da-4525-9b8d-b61e9787349d_169-250x140.jpeg 250w" sizes="(max-width: 718px) 100vw, 718px" /><figcaption id="caption-attachment-22628" class="wp-caption-text">Penyebutan istilah China menjadi Tionghoa/Tiongkok atau sebaliknya berubah seiring keputusan politik rezim. Ilustrasi (CNN Indonesia/Safir Makki).</figcaption></figure>
<p><strong>Penyebutan China</strong> untuk orang Tionghoa di Indonesia memiliki sejarah panjang. Begitu pula dengan perubahan sebutan China menjadi Tiongkok. Keputusan politik pemerintah memiliki andil besar dalam perubahan-perubahan tersebut.</p>
<div id="_forkInArticleAdContainer"><ins></p>
<div id="beacon_bca5246af0"><span style="background-color: #ffffff;">Istilah China sendiri dicetuskan pertama kali oleh Inggris setelah Tiongkok kalah dari Perang Candu pada abad ke-19.</span></div>
<p></ins></div>
<p>Perang ini dipicu oleh penyelundupan opium illegal dari Inggris ke Tiongkok. Aksi penyelundupan ini menyebabkan perekonomian Tiongkok menjadi defisit.</p>
<p>Tiongkok tak tinggal diam. Mereka mengirim surat kepada Ratu Victoria untuk menghentikan aksi tersebut. Namun, ketegangan Inggris dan Tiongkok tak menurun.</p>
<p>Pihak Tiongkok kemudian membuat pelarangan dan penyitaan opium yang datang dari luar negeri. Sementara itu pihak Inggris membalasnya dengan mengirim militer ke Tiongkok dan berhasil menundukkan mereka.</p>
<p>Tan Swie Ling dalam buku &#8216;G30S 1965, Perang Dingin dan Kehancuran Nasionalisme&#8217;, menjelaskan dalam Perang Candu, Inggris memberikan sebutan &#8216;China&#8217; kepada Tiongkok dan rakyatnya. Menurutnya, penyebutan China adalah bentuk dari olok-olok orang Inggris.</p>
<p>&#8220;&#8230; disengaja atau tidak, niscaya pada sebutan China tersebut terkandung konotasi pelecehan,&#8221; tulis Tan Swie Ling (halaman 533).</p>
<p>Tan mengatakan orang Tiongkok pada masa Dinasti Han lebih senang menyebut dirinya sebagai Tionggoan.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, tulis Tan, sebutan China menjadi beragam lantaran pelafalan setiap daerah berbeda-beda. Lidah melayu menyebut China menjadi Cina, Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi Cino, serta di Jakarta menjadi Cine.</p>
<p>Sebutan Tionghoa di Indonesia baru dikenal tahun 1900-an setelah berdirinya sebuah organisasi yang didirikan oleh tokoh-tokoh Tionghoa.</p>
<p>&#8220;Sejak 17 Maret 1900 memperoleh padanan sebutan dengan kata Tionghoa. Sebagaimana hal tersebut tercantum dalam Akte Pendirian Roemah Perkoempoelan Tiong Hwa Hwee Kwan,&#8221; tulis Tan (halaman 534).</p>
<p>Kendati demikian, Tan mencatat, penyebutan Tionghoa baru menyebar di Indonesia pada medio 1928 setelah Sumpah Pemuda. Ia melihat ada semangat yang sama dalam penyebutan &#8216;Tionghoa&#8217; dan Indonesia. Semangat untuk merdeka dari terbelenggu penindasan.</p>
<p>Istilah Tionghoa bertahan hingga masa Presiden Sukarno. Penyebutan Tionghoa baru dihapus saat Presiden ke-2 RI Soeharto berkuasa di bawah bendera Orde Baru.</p>
<p>Ketika itu terbit Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pres.Kab/6/1967 tentang Masalah China.</p>
<p>&#8220;Maka untuk mencapai uniformitas dari efektivitas, begitu pula untuk menghindari dualisme di dalam peristilahan di segenap aparat Pemerintah, baik sipil maupun militer, ditingkat Pusat maupun Daerah kami harap agar istilah &#8220;China&#8221; tetap dipergunakan terus, sedang istilah &#8220;Tionghoa/Tiongkok ditinggalkan,&#8221; bunyi poin ke-empat dalam surat edaran tersebut.</p>
<p>Dalam surat edaran tersebut juga menyebut penggunaan istilah Tionghoa mengandung nilai-nilai yang memberi asosiasi-psikopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia. Sedangkan istilah China hanya mengandung arti nama dari suatu dinasti dari mana China tersebut datang.</p>
<p>Tak sampai di situ, Presiden Soeharto ketika itu mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China.</p>
<p>Dalam aturan itu, Soeharto meminta etnis Tionghoa yang merayakan pesta agama atau ada istiadat tidak mencolok di depan umum, melainkan hanya di dalam lingkungan keluarga. Perayaan Imlek dan Cap Go Meh kemudian masuk dalam kategori tersebut.</p>
<p>Sejarawan JJ Rizal menjelaskan surat edaran Presidium Kabinet Ampera tersebut berawal dari Seminar Angkatan Darat (AD) di Bandung, Jawa Barat. Rizal menyebut surat edaran itu bertujuan untuk menunjukkan superioritas militer pada masa Orde Baru.</p>
<p>Selain lewat surat edaran, pemerintah Orba saat itu juga membuat ketakutan dan tuduhan-tuduhan terkait etnis Tionghoa.</p>
<p>&#8220;Zaman Orde Baru, (etnis Tionghoa) dianggap darah kotor, bukan Indonesia asli, mereka pun identik dengan komunis,&#8221; kata Rizal kepada <em>CNNIndonesia.com</em>, Kamis (11/1).</p>
<p>Rizal mengatakan pemerintah Orba juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang diskriminatif terhadap etnis Tionghoa, seperti mengganti nama hingga melarang membuat acara terkait kebudayaan dan kepercayaan Tionghoa.</p>
<p>&#8220;Sebab itu diganyang dan dipaksa jadi orang Indonesia, misalnya dengan mengganti nama, meninggalkan budaya dan kepercayaan mereka, serta pemberlakuan Surat Bukti Kewarganegaraan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Terkait penyebutan Tionghoa (Tiongkok) dan China, Rizal menyebut tak ada masalah yang berarti. Ada yang suka disebut Tionghoa, ada juga yang suka disebut China. Menurutnya, konotasi negatif yang disematkan pada penyebutan China hanya konstruksi pemerintah Orba.</p>
<p>&#8220;Ini (China) menjadi kata yang dirasakan sebagai ungkapan menghina dan bahkan rasis karena konstruksi politik Orde Baru. Itu kesadaran akan bahaya pola pikiran kuasa militeristik fasis Orde Baru dengan kroninya yang dari beragam etnis juga termasuk di dalamnya orang Tionghoa,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Setelah Soeharto lengser pada 1998 lalu, etnis Tionghoa di Indonesia terlepas dari kungkungan rezim. Mereka juga akhirnya mendapat izin untuk merayakan Imlek secara terbuka oleh Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.</p>
<p>Ketika itu, Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 dengan menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000. Ketika itu Imlek dan Cap Go Meh mulai dirayakan di Jakarta serta Surabaya.</p>
<p>Perayaan Imlek baru ditetapkan sebagai hari nasional di era Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri pada 2002. Imlek menjadi hari libur nasional baru terlaksana setahun kemudian.</p>
<p>Penggunaan diksi China kembali berubah pada era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014 Tentang Pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor Se-06/Pres.Kab/6/1967.</p>
<p>Lewat keppres tersebut, SBY mengganti istilah &#8216;China&#8217; dengan &#8216;Tionghoa&#8217;. Kemudian mengubah penyebutan negara Republik Rakyat China menjadi Republik Rakyat Tiongkok</p>
<p>&#8220;Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, maka dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, penggunaan istilah orang dan atau komunitas Tjina/China/Cina diubah menjadi orang dan atau komunitas Tionghoa, dan untuk penyebutan negara Republik Rakyat China diubah menjadi Republik Rakyat Tiongkok.&#8221; bunyi Keppres 12/2014.</p>
<p><b>(yla/fra/</b><strong>CNN<em>Indonesia</em></strong><b>)</b></p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/kuasa-politik-di-balik-perubahan-istilah-china-tionghoa/">Kuasa Politik di Balik Perubahan Istilah China-Tionghoa</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/kuasa-politik-di-balik-perubahan-istilah-china-tionghoa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kemaro, Delta Cinta dari Musi</title>
		<link>https://prosesnews.id/kemaro-delta-cinta-dari-musi/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/kemaro-delta-cinta-dari-musi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2021 03:19:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[Cap Go Meh]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Imlek]]></category>
		<category><![CDATA[Palembang]]></category>
		<category><![CDATA[Protokol Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Kemaro]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Gerong]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Musi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=22542</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sepenggal pulau, tak jauh dari Jembatan Ampera, menyimpan sebuah kisah romantis. Pulau itu juga menjadi titik pertahanan Musi adalah batang atau aliran sungai sepanjang 750...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/kemaro-delta-cinta-dari-musi/">Kemaro, Delta Cinta dari Musi</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Sepenggal pulau</em><em>,</em><em> tak jauh </em><em>dari </em><em>Jembatan Ampera</em><em>,</em><em> menyimpan </em><em>sebuah </em><em>kisah romantis. </em><em>P</em><em>ulau </em><em>itu </em><em>juga </em><em>men</em><em>jadi titik pertahanan</em></p></blockquote>
<figure id="attachment_22543" aria-describedby="caption-attachment-22543" style="width: 726px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-22543 " src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1613092434_zvzz.jpeg" alt="" width="726" height="450" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1613092434_zvzz.jpeg 750w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1613092434_zvzz-300x186.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1613092434_zvzz-250x155.jpeg 250w" sizes="(max-width: 726px) 100vw, 726px" /><figcaption id="caption-attachment-22543" class="wp-caption-text">Pulau Kemoro di Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Wisata Sumetera</figcaption></figure>
<p><strong>Musi</strong> adalah batang atau aliran sungai sepanjang 750 kilometer yang membelah Kota Palembang menjadi dua sisi, yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir.</p>
<p>Pada beberapa bagian Musi, terutama menjelang muara ke Selat Bangka, Laut Natuna Utara, terdapat delta di tengah sungai. Delta merupakan endapan lumpur atau sedimen yang terbentuk dari pertemuan dua arus sungai yang salah satunya memiliki aliran lebih lemah.</p>
<p>Salah satu delta terkenal di aliran Musi adalah Pulau Kemaro, sebuah daratan seluas 79 hektare di pertemuan dua arus, Musi dan Sungai Gerong. Pulau ini lokasinya ada di Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II.</p>
<p>Dengan daratan seluas itu, terdapat beragam industri di sekelilingnya, termasuk kehadiran dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pabrik milik PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) serta kilang pengolahan minyak (<em>refinery</em>) PT Pertamina di Plaju dan Sungai Gerong.</p>
<p>Pulau Kemaro, salah satu titik terlebar dari Sungai Musi, yakni selebar 1.350 meter, merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah masa lampau Kota Palembang. Pulau subur berpenduduk sekitar 40 kepala keluarga itu adalah titik pertahanan penting bagi Kesultanan Palembang Darussalam di awal abad ke-19.</p>
<p>Meski ketinggian daratannya rata-rata hanya lima meter dari permukaan air, pulau mungil ini jarang tergenang saat Musi sedang pasang. Oleh karena itu, masyarakat sekitar sejak lama menamainya sebagai Pulau Kemaro, berasal dari kata ‘kemarau’ karena pulau ini selalu terlihat kering.</p>
<p>Atas dasar itu pula Sultan Mahmud Badaruddin II yang memerintah Kesultanan Palembang Darussalam pada 1803-1821 membangun Benteng Tambak Bayo di Kemaro. Pembangunannya bersamaan dengan berdirinya Benteng Keraton Kuto Besak, sebagai pertahanan utama untuk melindungi isi kota pempek itu.</p>
<p>Seperti dikutip dari buku <em>Perang Palembang 1819-1821</em> karya Djohan Hanafiah terbitan 1986, Benteng Tambak Bayo dan Benteng Kuto Besak mampu menjalankan fungsi pada Perang Palembang I tahun 1819. Ratusan prajurit kesultanan di benteng-benteng tersebut sukses memukul mundur pasukan kolonial Belanda pimpinan Laksamana JC Wolterbeck dari tanah Palembang.</p>
<p>Namun dua tahun kemudian, tepatnya pada 8 Mei 1821, sebuah ekspedisi berkekuatan hampir 40 kapal perang dipimpin Mayor Jenderal Hendrik Markus Baron de Kock kembali berlayar menuju Palembang. Tujuan mereka hanya satu, ingin menguasai kota yang kini menjadi pusat Provinsi Sumatra Selatan tersebut.</p>
<p>Lewat pertempuran sengit selama sebulan, pada 24 Juni 1821, Mayjen de Kock bersama Kapten van der Wijck akhirnya menguasai Palembang. Benteng-benteng Kesultanan Palembang Darussalam pun dihancurkan, termasuk Tambak Bayo.</p>
<p><strong>Legenda Pulau Jodoh</strong></p>
<p>Saat ini, tak ada lagi sisa-sisa bangunan Benteng Tambak Bayo di Pulau Kemaro dan tergantikan oleh kehadiran Klenteng Hok Tjing Rio atau lebih dikenal sebagai Klenteng Kuan Im yang dibangun pada 1962.</p>
<p>Sebuah pagoda berlantai sembilan karya arsitek Aliong menjulang setinggi 45 meter juga turut dibangun pada 2006. Ada juga Buddha Tertawa, patung besar bercorak emas setinggi lima meter dengan pose berdiri, sedang tertawa lebar, sambil memperlihatkan bagian perut yang membusung.</p>
<p>Kehadiran Klenteng Kuan Im dan Pagoda China, demikian warga menyebutnya, melengkapi pulau itu sebagai salah satu pusat persembahyangan umat Buddha di Kota Palembang. Tak hanya sebagai tempat peribadatan, Kemaro juga menjadi salah satu tujuan wisata warga Palembang dan sekitarnya.</p>
<p>Beragam jenis kapal seperti perahu kayu atau perahu cepat (<em>speed boat</em>) siap mengantar pengunjung dari dermaga wisata Benteng Kuto Besak, dekat Jembatan Ampera, menuju Kemaro. Perjalanan sejauh enam kilometer itu memakan waktu sekitar 10-20 menit.</p>
<p>Seorang pengurus Yayasan Toa Pekong Pulau Kemaro yang bernama Burhan mengatakan, terdapat sebuah legenda dari cerita rakyat di masa lampau mengenai terbentuknya pulau ini. Cerita legenda Pulau Kemaro juga tertulis pada sebuah prasasti di salah satu sudut pulau. Kisahnya mirip Sam Pek Eng Tay atau Romeo dan Juliet.</p>
<p>Tersebutlah Tan Bun An, seorang pangeran dari tanah Tiongkok yang berniaga hingga ke Palembang dan menjalin kasih dengan Siti Fatimah, putri bangsawan setempat. Dengan izin orang tua Siti Fatimah, pangeran pun mengajak pujaan hatinya bertemu keluarganya di Tiongkok.</p>
<p>Sekembalinya ke Palembang, keduanya dibekali tujuh guci yang ternyata berisi sawi-sawi asin. Tan yang kecewa karena semula mengira isinya adalah emas, kemudian membuang guci di aliran Musi dekat muara sungai.</p>
<p>Ketika akan membuang guci terakhir, benda itu kemudian terjatuh di dek kapal dan pecah. Isinya pun berhamburan berupa perhiasan dan logam emas dalam jumlah banyak diselimuti sawi-sawi asin tadi. Rupanya sayuran tadi hanya sebagai pengecoh agar perhiasan emas itu aman dan tidak dirampok selama perjalanan.</p>
<p>Tan pun terkejut dan tanpa pikir panjang langsung terjun ke dalam aliran sungai bersama pengawalnya untuk mengambil guci-guci yang telah ia buang. Namun, keduanya tak muncul, dan membuat putri cemas. Siti Fatimah pun akhirnya memutuskan ikut terjun ke aliran sungai mencari kekasihnya sambil berucap jika ada tanah muncul di permukaan Musi, maka itu adalah makam mereka.</p>
<p>Bersamaan dengan itu muncul Pulau Kemaro di mana pada salah satu sudutnya terdapat batu mirip <em>bongpai</em> (nisan) kecil dengan tiga altar kayu. Di bawah altar terdapat daun-daun kering membentuk tiga gundukan yang dikawal oleh empat Kilin, binatang dalam mitologi Tiongkok. Gundukan tadi dipercaya masyarakat sebagai makam putri raja, pangeran Tiongkok, dan seorang pengawalnya.</p>
<p>Pulau ini akan sangat ramai jika perayaan Cap Go Meh tiba. Ribuan warga Tionghoa dari sejumlah kota di Sumatra dan luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan bahkan Tiongkok berduyun-duyun menuju Kemaro. Cap Go Meh digelar pada hari ke-15 dari perayaan Tahun Baru Imlek.</p>
<p>Selain bersembahyang, mereka juga mengadakan berbagai acara kesenian seperti melepaskan ribuan lampion, makan bersama, menggelar kesenian barongsai, dan wayang potehi.</p>
<p>Di antara puluhan ribu umat itu, terselip juga permohonan doa agar bisa menemukan jodohnya. Sebuah pohon besar jenis beringin (<em>Ficus benjamina</em>) berusia hampir 100 tahun pun ikut dijadikan sarana penyampaian keinginan berjodoh atau melanggengkan sebuah hubungan.</p>
<p>Semula di sekujur batang Pohon Cinta, begitu namanya diberikan oleh pengunjung, terukir beragam tulisan tangan dari pengunjung pulau yang membawa kekasihnya. Isi coretan itu berupa harapan agar hubungan mereka bisa berlanjut hingga ke pelaminan.</p>
<p>&#8220;Tetapi kami terpaksa membangun pagar untuk melindungi kelestarian pohon ini agar tidak makin rusak oleh coretan-coretan pengunjung,&#8221; kata pengelola Pulau Kemaro, Tjik Harun.</p>
<p>Tertarik berkunjung ke Pulau Kemaro? Jangan lupa untuk selalu melaksanakan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, dan jauhi kerumunan. Semua itu demi terhindar dari penularan virus Covid-19.</p>
<pre class="fotoCap"><strong><em>Penulis : Anton Setiawan
Editor : Firman Hidranto/ Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa : Ratna Nuraini</em></strong></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/kemaro-delta-cinta-dari-musi/">Kemaro, Delta Cinta dari Musi</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/kemaro-delta-cinta-dari-musi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Sikap Toleransi dari Penjaga Klenteng Gorontalo yang Beragama Islam</title>
		<link>https://prosesnews.id/belajar-sikap-toleransi-dari-penjaga-klenteng-gorontalo-yang-beragama-islam/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/belajar-sikap-toleransi-dari-penjaga-klenteng-gorontalo-yang-beragama-islam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arfandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2021 07:25:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Budha]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Imlek]]></category>
		<category><![CDATA[Penjaga Klenteng]]></category>
		<category><![CDATA[Umat Muslim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=22497</guid>

					<description><![CDATA[<p>PROSESNEWS.ID &#8211; Berbeda Ras, Suku apalagi Agama bukan menjadi satu penghalang bagi kita untuk saling...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/belajar-sikap-toleransi-dari-penjaga-klenteng-gorontalo-yang-beragama-islam/">Belajar Sikap Toleransi dari Penjaga Klenteng Gorontalo yang Beragama Islam</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_22498" aria-describedby="caption-attachment-22498" style="width: 674px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class=" wp-image-22498" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-12-at-13.28.01-300x146.jpeg" alt="" width="674" height="328" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-12-at-13.28.01-300x146.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-12-at-13.28.01-1024x498.jpeg 1024w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-12-at-13.28.01-768x373.jpeg 768w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-12-at-13.28.01-250x121.jpeg 250w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-12-at-13.28.01-750x364.jpeg 750w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-12-at-13.28.01-1140x554.jpeg 1140w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-12-at-13.28.01.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 674px) 100vw, 674px" /><figcaption id="caption-attachment-22498" class="wp-caption-text">Piyan Husain (34), warga Kabupaten Gorontalo (Kabgor) ini memilih bekerja di tempat ibadah umat budha</figcaption></figure>
<p><strong>PROSESNEWS.ID &#8211;</strong> Berbeda Ras, Suku apalagi Agama bukan menjadi satu penghalang bagi kita untuk saling merangkul meski berbeda keyakinan. Sikap toleransi umat beragama merupakan kuncinya.</p>
<p>Hal itu dibuktikan oleh Piyan Husain (34), warga Kabupaten Gorontalo (Kabgor) ini memilih bekerja di tempat ibadah umat budha. Meski ia beragama islam, ia kini bekerja sebagai penjaga Klenteng.</p>
<p>Bagi Piyan, berbeda agama tidak menjadi satu penghalang untuk dia menjauhi agama lain. Terlebih lagi, ia saat ini mencari nafkah di tempat tersebut.</p>
<p>Pengaga Klenteng Wihara Buddha Dharma Gorontalo ini tidak pernah terbesit di pikirannya untuk membenci agama lain. Selain sikap toleransi yang ada di benak pria ini, tidak menjadi penghalang untuk dia mencari nafkah demi menghidupi anak dan istrinya.</p>
<p>Piyan yang setiap harinya kerap terlihat di Klenteng itu, ternyata ia tidak haya menjaga saja. Ia juga turut merawat hingga membersihkan tempat ibadah orang budha itu setiap harinya.</p>
<p>Tidak hanya itu, ternyata ia sudah 5 tahun terakhir ini sudah tinggal di Klenteng yang dijaganya itu. Bahkan anak dan istrinya pun telah diajak untuk tinggal bersamanya di Klenteng tersebut.</p>
<p>&#8220;Alhamdulilah, selama saya di Klenteng ini tidak pernah merasa tersisihkan. Bahkan umat Budha saja menerima akan kehadiran saya dan keluarga di sini,&#8221; kata Piyan Husain</p>
<p>Piyan Husain mengaku, keberadaanya di situ sangat dihargai oleh umat budha meskipun ia seorang muslim yang taat.</p>
<p>&#8220;Mereka sangat menghargai perbedaan. Menurut mereka keyakinan bukan merupakan sekat bagi kita,&#8221;tutur Piyan Husain.</p>
<p>Terlepas dari semua itu, Piyan Husain tentunya Mengucapkan selamat hari raya imlek untuk umat Buddha. Semoga selalu maju dan tentunya lebih sukses kedepannya.</p>
<p>&#8220;kalau kita beritikad baik tentunya orang juga akan baik kepada kita. Sekalipun orang tersebut beda keyakinan dengan kita,&#8221; ia menandaskan.</p>
<pre><strong>Reporter : Abd Kadir Djauhari  </strong></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/belajar-sikap-toleransi-dari-penjaga-klenteng-gorontalo-yang-beragama-islam/">Belajar Sikap Toleransi dari Penjaga Klenteng Gorontalo yang Beragama Islam</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/belajar-sikap-toleransi-dari-penjaga-klenteng-gorontalo-yang-beragama-islam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PNS Nekat Liburan Imlek, Siap-Siap Kena Sanksi</title>
		<link>https://prosesnews.id/pns-nekat-liburan-imlek-siap-siap-kena-sanksi/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/pns-nekat-liburan-imlek-siap-siap-kena-sanksi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arfandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2021 06:01:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[ASN]]></category>
		<category><![CDATA[Dilarang]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Imlek]]></category>
		<category><![CDATA[Liburan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=22448</guid>

					<description><![CDATA[<p>PROSESNEWS.ID — Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, menerbitkan Surat Edaran Nomor 4/2021 tentang...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/pns-nekat-liburan-imlek-siap-siap-kena-sanksi/">PNS Nekat Liburan Imlek, Siap-Siap Kena Sanksi</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_22165" aria-describedby="caption-attachment-22165" style="width: 689px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-22165" src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/asn-300x169.jpg" alt="" width="689" height="388" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/asn-300x169.jpg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/asn-768x433.jpg 768w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/asn-250x141.jpg 250w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/asn-750x422.jpg 750w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/asn.jpg 790w" sizes="auto, (max-width: 689px) 100vw, 689px" /><figcaption id="caption-attachment-22165" class="wp-caption-text">Ilustrasi ASN</figcaption></figure>
<p><strong>PROSESNEWS.ID</strong> — Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, menerbitkan Surat Edaran Nomor 4/2021 tentang pembatasan kegiatan bepergian ke luar daerah bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri sipil (PNS) selama libur Imlek 2021 ini.</p>
<p>Surat Edaran tersebut menjelaskan perlu dilakukan pembatasan kegiatan bepergian ke luar daerah bagi pegawai dalam rangka mencegah dan memutus rantai penyebaran Covid-19 yang berpotensi meningkat dikarenakan perjalanan orang selama libur Tahun Baru Imlek 2572 Kongzili.</p>
<p>Deputi Bidang Kelembagaan dan Tata Laksana, Rini Widyantini mengatakan, pemerintah akan memberikan hukuman disiplin apabila ada PNS yang kedapatan berlibur keluar kota pada periode larangan berlibur. Adapun pelarangan berlaku pada 11 Februari hingga 14 Februari 2021.</p>
<p>&#8220;Apabila terdapat pegawai Aparatur Sipil negara yang melanggar hal tersebut, maka yang bersangkutan diberikan hukuman disiplin. Dalam hal terbukti memberi dampak negatif bagi negara maka akan dijatuhi hukuman berat,&#8221; kata Rini, Jakarta, Kamis (11/2/2021).</p>
<p>Rini melanjutkan, apabila PNS dalam keadaan terpaksa perlu untuk bepergian ke luar daerah pada periode itu, maka harus terlebih dahulu mendapatkan izin tertulis dari pejabat pembina kepegawaian di lingkungan instansinya.</p>
<p>&#8220;PNS yang dalam keadaan terpaksa perlu bepergian ke luar daerah diharuskan selalu memperhatikan peta zonasi risiko penyebaran Covid-19 yang ditetapkan Satuan Tugas Penanganan Covid-19,&#8221; kata Rini.</p>
<p>Kemudian, memperhatikan peraturan dan atau kebijakan pemerintah daerah asal maupun tujuan perjalanan mengenai pembatasan keluar dan masuk orang.</p>
<p>PNS juga harus memperhatikan kriteria, persyaratan, dan protokol perjalanan yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19.</p>
<p>Anggun P. Situmorang/Merdeka.com</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/pns-nekat-liburan-imlek-siap-siap-kena-sanksi/">PNS Nekat Liburan Imlek, Siap-Siap Kena Sanksi</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/pns-nekat-liburan-imlek-siap-siap-kena-sanksi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Angpau Merah Naik Ojek Online</title>
		<link>https://prosesnews.id/angpau-merah-naik-ojek-online/</link>
					<comments>https://prosesnews.id/angpau-merah-naik-ojek-online/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majid Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2021 06:42:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[Angpau]]></category>
		<category><![CDATA[Imlek]]></category>
		<category><![CDATA[Menkes Budi Gunadi Sadikin]]></category>
		<category><![CDATA[Ojek Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prosesnews.id/?p=22403</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masyarakat Tionghoa dan pemeluk Konghucu siap merayakan Imlek dari rumah. Upacara resmi disiarkan melalui televisi...</p>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/angpau-merah-naik-ojek-online/">Angpau Merah Naik Ojek Online</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_22404" aria-describedby="caption-attachment-22404" style="width: 734px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-22404 " src="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612752857_4EC901C5_DD51_466A_A219_31DA8A57100D-750x502.jpeg" alt="" width="734" height="491" srcset="https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612752857_4EC901C5_DD51_466A_A219_31DA8A57100D-750x502.jpeg 750w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612752857_4EC901C5_DD51_466A_A219_31DA8A57100D-300x201.jpeg 300w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612752857_4EC901C5_DD51_466A_A219_31DA8A57100D-1024x686.jpeg 1024w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612752857_4EC901C5_DD51_466A_A219_31DA8A57100D-768x514.jpeg 768w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612752857_4EC901C5_DD51_466A_A219_31DA8A57100D-250x167.jpeg 250w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612752857_4EC901C5_DD51_466A_A219_31DA8A57100D-1140x763.jpeg 1140w, https://prosesnews.id/wp-content/uploads/2021/02/1612752857_4EC901C5_DD51_466A_A219_31DA8A57100D.jpeg 1280w" sizes="auto, (max-width: 734px) 100vw, 734px" /><figcaption id="caption-attachment-22404" class="wp-caption-text">Dua anak memegang angpao pemberian kerabat. Foto: ANTARA FOTO.</figcaption></figure>
<blockquote><p><em><strong>Masyarakat Tionghoa</strong> dan pemeluk Konghucu siap merayakan Imlek dari rumah. Upacara resmi disiarkan melalui televisi dan media sosial. Angpa</em><em>u</em><em> bisa dibagikan lewat ojek.</em></p></blockquote>
<p>Beribu-ribu lampion hias warna merah cabai, dalam berbagai bentuk dan ukuran, terpajang di kios-kios yang berjajar di tepi jalan Pasar Petak 9 Petamburan, Glodok, Jakarta. Sejak memasuki awal Februari, segala pernak-pernik barang properti untuk menyambut Sin Cia, tahun baru masyarakat Tionghoa, yang ke-2.572, bertaburan di pasar kecil itu. Sin Cia 2021 ini bertepatan dengan 12 Februari.</p>
<p>Lampion-lampion merah cabai itu berjajar rapi dan bergantungan pada bilah-bilah kayu. Di bawahnya terhampar kemasan kudapan-kudapan khas untuk prosesi hari besar Imlek: kue keranjang, kue lapis legit, <em>yusheng</em> (salad ikan), manisan segi delapan, dan masih banyak lainnya. Tak ketinggalan, ada ikat kepala, baju-baju tradisional, aksesori, kertas bertuliskan doa-doa, lilin, hio, dan tentu saja angpau. Semuanya berwarna merah cabai.</p>
<p>Orang hilir mudik datang. Kebanyakan kalangan Tionghoa, sebagian terbesar warga Jakarta, tapi ada pula yang datang dari Karawang, Bekasi, Bogor, dan Tangerang. “Mumpung belum terlalu ramai,” begitu alasan Rudi Tandiyono, lelaki 50 tahunan, yang datang mengendarai Kijang Innova miliknya dari Bekasi Timur untuk memborong kue-kue Imlek. “Buat orang rumah saja,” katanya.</p>
<p>Imlek, atau ada yang menyebutnya Sin Cia, adalah hari raya bagi masyarakat Tionghoa. Secara resmi, Sin Cia mulai dilembagakan sejak 2.571 tahun silam bersamaan dengan tumbuhnya sistem kepercayaan konfusianisme (Konghucu). Namun banyak pendapat yang menyebut, upacara Sin Cia sudah ada sejak era Dinasti Xia, seribu tahun sebelum Konghucu.</p>
<p>Kemeriahan menyambut Imlek pun telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa di mana pun mereka berada, termasuk yang di Indonesia. Perayaan umumnya dipusatkan di vihara-vihara tempat para pemeluk Konghucu melakukan aktivitas  spiritualnya. Namun, tak berarti yang di luar Konghucu tak merayakannya.</p>
<p>Rudi Tandiyono beragama Nasrani tak pernah absen merayakan Imlek. Dulu, kata Rudi, acara Imlek acap digelar di rumah kakeknya di Kota Tangerang. Setelah sang kakek meninggal, dia tetap merayakan Imlek bersama anak istri. Perayaan bisa dilakukan di rumah ayahnya, yang juga ada di Tangerang, atau ramai-ramai bersama keluarga besar menyewa vila di sejumlah kawasan wisata, seperti Puncak, Bogor, Lembang Bandung, ataupun di Bali.</p>
<p>‘’Tapi tahun 2021 ini, saya sudah bilang ke mama dan papa, kita rayakan di rumah sendiri,” kata Rudi, yang sehari-harinya mengoperasikan bengkel dan toko <em>spareparts</em> mobil dan motor itu.</p>
<p>Dia bahkan sudah mengumumkan ke kerabatnya tak akan mengelar <em>open house</em> di rumahnya. “Kita tak mau habis senang-senang Sin Cia terus ada yang masuk rumah sakit karena Covid-19,” katanya.</p>
<p>Jauh-jauh hari sebelumnya, Harjanto Halim, tokoh masyarakat Tionghoa di Semarang, sudah mengeluarkan seruan pada tokoh-tokoh di komunitasnya agar tidak menggelar keramaian pada Imlek 2021. “Kami meminta umat untuk merayakan di rumah saja, merayakanya bersama keluarga inti. Walaupun dekat, kami pun meminta agar tidak saling berkunjung.  Kalau kangen, lewat <em>video call</em> atau <em>zoom meeting</em> saja,&#8221; ujarnya,seperti dikutip <em>iNew.Jateng.id</em>, pada Jumat (5/2/2021).</p>
<p>Harjanto Halim mengaku sudah menerima edaran dari Pemprov Jawa Tengah untuk tidak menggelar keramaian Imlek. “Kami tentu menghormati keputusan pemerintah, kami bisa menerimanya, karena kami juga tidak ingin perayaan Imlek justru akan menimbulkan klaster baru,” kata Harjanto.</p>
<p>Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) memastikan, bakal mengikuti imbauan pemerintah untuk menggelar perayaan Imlek 2021 secara virtual untuk mencegah potensi penyebaran virus corona (Covid-19) , “Matakin  dari awal sudah mengimbau agar perayaan Imlek dilaksanakan di rumah,” kata Ketua Umum Matakin Budi Santoso Tanuwibowo.</p>
<p>Budi mengatakan, telah berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, terkait perayaan Imlek secara virtual. Atas dukungan para pejabat pemerintahan, Matakin pun bekerja sama dengan sejumlah stasiun televisi nasional untuk menggelar acara prosesi ritual Imlek secara <em>live</em> dan <em>virtual</em>. “Acara puncak itu kita gelar pada 14 Februari,” ujar Budi Santoso.</p>
<p>Ketika menyampaikan pesan untuk Imlek, dari Istana Kepresidenan pada hari Kamis (4/2/2021), Menteri Kesehatan Budi Gunawan Sadikin juga menekankan agar segala kegiatan dilakukan tanpa menimbulkan kerumunan. Pelibatan orang bisa dilakukan secara virtual. “Sekarang ini semua bisa dilakukan secara digital dan itu mudah sekali,” kata BGS, sapaan Budi Gunawan, yang hari itu didampingi Menteri Agama Yaqut Qoumas.</p>
<p>Sebagai profesional yang sejak usia muda bekerja di lembaga keuangan dan bergaul dengan masyarakat  Tionghoa, BGS mengatakan dapat memahami keceriaan Imlek, dengan tradisi sosial membagi-bagi angpau berisi uang, dari orang tua pada anak, dari abang ke adik, para paman kepada keponakan, atau dari orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Tradisi itu mempererat kekerabatan.</p>
<p>Diyakini, keriaan tradisi angpau itu tak harus terputus akibat acara Imlek yang serba <em>virtual</em>. Bahkan mengirim angpau secara digital, menurut Menkes BGS, sangat mudah untuk dilakukan. Namun kalau ingin dianggap lebih punya sentuhan pribadi, amplop merah itu bisa dikirimkan melalui jasa kurir.</p>
<p>“Amplop merah itu dapat dikirim lewat ojek <em>online</em>, misalnya,” kata Menkes BGS. Selain akan lebih afdol, cara itu juga memberikan penghasilan tambahan bagi ribuan driver ojek <em>online</em>. <em>Toh</em> untuk memastikan semuanya sesuai, pengawasan langsung di lapangan tetap diperlukan.</p>
<pre><em><strong>Penulis: Putut Tri Husodo
Redaktur: Ratna Nuraini/ Elvira Inda Sari</strong></em></pre>
<p>The post <a href="https://prosesnews.id/angpau-merah-naik-ojek-online/">Angpau Merah Naik Ojek Online</a> appeared first on <a href="https://prosesnews.id">Prosesnews.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prosesnews.id/angpau-merah-naik-ojek-online/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
