
Oleh: Sandy Syafrudin Nina, Warga Gorontalo Utara.
Siang tadi, jalanan bukan lagi milik kita. Dari arah Tomilito, bergerak menuju entah ke gerbang perusahaan mana, saya berpapasan dengan sebuah ironi yang nyata.
Bukan satu, melainkan truk-truk yang berlalu-lalang, beriringan bak pawai kematian yang tak diundang. Muatan kayu di punggung kendaraan itu menjulang angkuh, ditumpuk melampaui batas nalar, miring dan renta, seolah menantang gravitasi untuk menjatuhkannya tepat di atas kepala kita.
Ini bukan sekadar pelanggaran lalu lintas. Ini adalah teror psikologis bagi siapa pun yang melintas di sisinya.
Melalui tulisan ini, saya menggugat nurani tiga pilar yang seharusnya melindungi tanah ini:
- Kepada PERUSAHAAN: Apakah efisiensi angkutan kalian harus dibayar dengan rasa was-was warga? Jalanan Tomilito hingga ke lokasi Anda bukan jalur pribadi. Ketika Anda membiarkan armada beroperasi dengan muatan “obesitas” (overload) seperti ini secara massal, Anda sedang berjudi dengan nyawa orang lain. Jangan biarkan ketamakan menutupi etika keselamatan.
-
Kepada PEMERINTAH GORONTALO UTARA: Di mana mata kalian saat iring-iringan bahaya ini melenggang bebas setiap hari? Diamnya birokrasi di hadapan pelanggaran kasat mata adalah sebuah pengkhianatan terhadap amanat publik. Jalan raya adalah ruang hidup warga, jangan biarkan ia berubah menjadi ladang pembantaian karena pembiaran yang sistematis.
-
Kepada DPRD GORUT: Bapak dan Ibu Wakil Rakyat, konstituen Anda sedang bertaruh nyawa di jalanan dapil Anda sendiri. Fungsi pengawasan Anda sedang dinanti. Jangan sampai rakyat menganggap Anda bisu, membiarkan raksasa-raksasa jalanan ini mengintimidasi rakyat kecil.
Dan kepada Penegak Hukum: Mohon segera lakukan penertiban. Iring-iringan ini nyata, bahayanya nyata.
Kita semua punya keluarga yang menunggu di rumah. Jangan sampai ada “berita duka” dulu, baru kita semua sibuk saling menyalahkan.
Cukup. Tertibkan sekarang, atau bersiaplah menanggung dosa atas bencana yang kalian biarkan.
Kita kini hidup di zaman di mana dinding tebal birokrasi bisa ditembus oleh cahaya layar gawai. Dunia telah berubah; kebenaran dan bahaya tak bisa lagi disembunyikan di balik meja kerja atau rapat tertutup.
Lensa kamera kami adalah mata pengawas yang tak pernah tidur, dan media sosial adalah parlemen jalanan tempat kami menuntut keadilan.
Saya terbangkan pesan visual ini ke langit algoritma dengan satu harapan sederhana: semoga notifikasi ini bergetar di saku baju dinas Bapak/Ibu sekalian. Semoga ia tidak sekadar lewat di beranda, tetapi berhenti di hati nurani.
Zaman sudah terlalu canggih untuk berpura-pura tidak tahu. Kami telah bersuara, kini giliran Anda membuktikan bahwa telinga kekuasaan belum tuli.













