
PROSESNEWS.ID — Keterbatasan fasilitas ambulans di Rumah Sakit Boliyohuto menjadi sorotan publik setelah seorang ibu dilaporkan meninggal dunia saat akan dirujuk untuk persalinan.
Pasien tersebut diketahui dalam kondisi kritis dan membutuhkan penanganan segera di rumah sakit rujukan. Namun, proses rujukan mengalami keterlambatan karena tidak tersedianya ambulans pada saat dibutuhkan.
Direktur Rumah Sakit Boliyohuto, dr. Imelda Mohammad menjelaskan, pihaknya memiliki dua unit ambulans rujukan. Akan tetapi, keduanya tidak dapat digunakan pada saat kejadian.
“Satu ambulans sedang berada di bengkel dan diperkirakan baru bisa digunakan dalam waktu sekitar satu minggu. Sementara satu lainnya sedang mengambil sampel di RS Dunda, dan dalam perjalanan pulang mengalami kendala pada ban sehingga harus dilakukan perbaikan,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihak rumah sakit telah berupaya menghubungi ambulans dari sejumlah puskesmas. Puskesmas Tilango kemudian bersedia membantu proses rujukan pasien ke RS Ainun.
Meski demikian, pasien baru tiba di rumah sakit rujukan dan mendapatkan penanganan. Namun, sekitar dua jam setelah tiba, nyawa pasien tidak dapat diselamatkan.
Peristiwa ini memicu keprihatinan masyarakat terhadap kesiapan fasilitas layanan kesehatan, khususnya dalam penanganan kondisi darurat.
Bersamaan dengan itu, Imelda berharap rumah sakit mendapatkan tambahan jumlah ambulans guna menunjang pelayanan kesehatan, terutama dalam situasi rujukan yang membutuhkan respons cepat.
“Saya berharap kita bisa mendapatkan tambahan mobil Ambulance, sehingga bisa memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan sarana dan prasarana kesehatan guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.













