PROSESNEWS.ID — Masyarakat Kabupaten Gorontalo tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras hingga akhir tahun 2026. Pemerintah Kabupaten Gorontalo memastikan stok beras masih dalam kondisi aman, meski wilayah tersebut tengah menghadapi musim kemarau.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Gorontalo, Hermanto Feybie Asona, mengatakan ketersediaan beras pada Agustus 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 8.506,13 ton.
Sementara itu, kebutuhan beras masyarakat Kabupaten Gorontalo diperkirakan mencapai sekitar 4.183 ton setiap bulan. Dengan kondisi tersebut, neraca beras Kabupaten Gorontalo masih mencatat surplus sekitar 4.323,14 ton.
“Untuk ketersediaan di bulan Agustus ini, hasil proyeksi bulan Juli sesuai data yang ada, ketersediaannya kurang lebih 8.506,13 ton. Sementara kebutuhan beras setiap bulan untuk Kabupaten Gorontalo sekitar 4.183 ton,” ujar Hermanto.
Hermanto menjelaskan, proyeksi ketersediaan beras tersebut dihitung berdasarkan luas lahan sawah yang dipanen serta jumlah penduduk Kabupaten Gorontalo.
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, produksi beras lokal dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Bahkan, angka surplus tersebut belum memasukkan stok beras yang tersedia di Perum Bulog.
“Ini belum kami cantumkan ketersediaan yang ada di Bulog. Pernyataan dari Bulog juga bisa mencukupi sampai bulan Desember. Jadi ini baru proyeksi dari hasil produksi di Kabupaten Gorontalo,” jelasnya.
Selain mengandalkan produksi lokal dan stok Bulog, pemerintah juga memiliki Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) yang menjadi salah satu penyangga ketersediaan pangan masyarakat.
Untuk bantuan pangan periode Juli, Agustus, dan September 2026, penerima bantuan akan mendapatkan beras sebanyak 30 kilogram sekaligus pada Agustus.
Jumlah tersebut merupakan akumulasi bantuan selama tiga bulan, dengan jatah 10 kilogram beras per bulan untuk setiap keluarga penerima manfaat.
Namun, penyaluran bantuan pangan kali ini berbeda dari sebelumnya. Bantuan yang diberikan hanya berupa beras dan tidak disertai minyak goreng.
“Kalau bulan kemarin ada minyak goreng dua liter per keluarga penerima. Untuk CPP nanti yang dibagikan adalah beras untuk tiga bulan dan diterimakan sekaligus di bulan Agustus,” kata Hermanto.
Meski ketersediaan beras secara proyeksi dinilai mencukupi, Hermanto mengakui produksi beras Kabupaten Gorontalo tidak seluruhnya beredar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.
Sebagian hasil produksi justru didistribusikan ke daerah lain, termasuk Kota Gorontalo. Sebaliknya, sejumlah wilayah di Kabupaten Gorontalo juga mendapatkan pasokan beras dari luar daerah, seperti Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.
Menurut Hermanto, kondisi tersebut merupakan bagian dari mekanisme distribusi pangan antardaerah. Pergerakan komoditas memungkinkan daerah yang mengalami kekurangan pasokan mendapatkan suplai dari daerah lain.
“Memang kalau melihat data proyeksi dengan jumlah luas lahan yang ditanami, khusus Kabupaten Gorontalo sangat mencukupi. Tetapi itu di atas kertas. Faktanya di lapangan, banyak produksi dari Kabupaten Gorontalo yang larinya ke Kota Gorontalo,” ungkapnya.
Ia menambahkan, distribusi pangan antardaerah menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan masyarakat.
Dengan dukungan produksi lokal, stok Bulog, serta Cadangan Pangan Pemerintah, Pemerintah Kabupaten Gorontalo optimistis kebutuhan beras masyarakat tetap terpenuhi hingga penghujung tahun.
“Proyeksi kami sampai dengan akhir Desember, kebutuhan beras di Kabupaten Gorontalo insya Allah akan mencukupi,” tegas Hermanto.










