Merawat Tradisi Tumbilotohe di Tengah Wabah Covid-19

Bagi masyarakat Gorontalo, tradisi yang sudah berlangsung secara turun-temurun ini biasanya dilaksanakan tiga hari sebelum berakhirnya puasa Ramadan. Tahun 2019 lalu, suasana Tumbilotohe begitu dirasakan.

Pemasangan lampu tradisional di malam pasang lampu (Tumbilo tohe) Ft : Arlank Pakaya

Catatan : Apriyanto Rajak

SHOLAT magrib baru saja usai. Di depan rumahnya, seorang anak muda nampak sedang menyalakan sejumlah lampu botol yang menggantung rapi di tiang kayu yang dipasangi kawat. Di sebelah kiri deretan patokan kayu itu, berdiri sebuah “Alikusu” yang berbahan dari pohon bambu. Ini menandakan; Ramadan telah memasuki malam ke 27.

Selasa, 19 Mei 2020. Pada malam seberes hujan itu, saya mengitari Kota Gorontalo. Saya bermaksud menyambangi tempat-tempat yang menjadi pusat keramaian jika sedang berlangsungnya Tumbilotohe. Seperti; di Kelurahan Ipilo, Padebuolo, Talumolo, Dulalowo Timur, Tamalate, Heledulaa Utara dan di halaman rektorat UNG. Namun, beberapa lokasi ini berubah menjadi gelap dan sepi menyelimuti.

Bagi masyarakat Gorontalo, tradisi yang sudah berlangsung secara turun-temurun ini biasanya dilaksanakan tiga hari sebelum berakhirnya puasa Ramadan. Tahun 2019 lalu, suasana Tumbilotohe begitu dirasakan. Misalnya; di beberapa titik lokasi yang sudah saya sebutkan di atas adalah sebagai pusat keramaian jika sedang berlangsungnya tradisi tua ini.

Tak pelak, tempat-tempat itu menjadi incaran para pengunjung lokal maupun luar daerah untuk mengabadikan momen dengan berswafoto. Meskipun harus dibayar dengan susah payah menembus kemacetan akibat membludaknya kendaraan, dan kerumunan orang. Rupanya, beberapa tahun terakhir, tradisi ini sudah menjadi destinasi wisata religi bagi masyarakat di Gorontalo.

Wisata Tumbitohe

Sebuah makalah penelitian yang ditulis Asti Ayuningsi, seorang Magister Kaijan Pariwisata Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, dengan judul “Tradisi Tumbilotohe Sebagai Potensi Daya Tarik Wisata Budaya di Provinsi Gorontalo” menyebutkan, Tumbilotohe berasal dari kata tumbilo yang berati pasang dan tohe berarti lampu. Tumbilotohe adalah tradisi yang memasang lampu di halaman rumah penduduk dan di pinggir jalan terutama menuju masjid yang dilakukan secara sukarela oleh masyarakat, dengan tujuan untuk menerangi jalan penduduk yang berjalan menuju masjid untuk beribadah dan mempermudah warga yang akan membayar zakat fitrah di malam hari. Sebab pada zaman dahulu belum ada penerangan yang memadai.

“Selain itu, pemasangan lampu ini diyakini sebagai pengingat bahwa kitab suci Al-Qur’an membawa jalan terang bagi umat manusia agar kembali hidup dalam kebenaran, sekaligus menerangi orang-orang yang berada di sekitarnya. Tradisi ini dianggap sebagai tanda akan berakhirnya bulan suci Ramadan, yang telah berlangsung sejak abad XV,” tulis Asti Ayuningsi.

Asti menguraikan, pada awalnya sumber penerangan diperoleh dari damar. Damar yaitu getah pohon yang dapat dinyalakan dalam waktu lama. Damar ini dibungkus dengan Janur dan diletakkan di atas kayu. Oleh karena berkurangnya damar, penerangan dilakukan dengan minyak kelapa (padamala) lalu kemudian digantikan dengan minyak tanah. Seiring dengan perkembangan zaman, sebagian masyarakat mengganti dengan lampu pijar dengan berbagai warna. Akan tetapi, sebagian yang lain masih mempertahankan nilai tradisional dengan tetap mamakai lampu botol yang berbahan dari minuman berenergi dan sumbu kompor itu.

“Mayoritas masyarakat mengolaborasikan lampu tradisional dan lampu listrik. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga di luar Gorontalo, seperti Manado, Palu dan Makassar yang dengan sengaja untuk menyaksikan secara langsung. Pada tahun 2017 silam, tradisi ini masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) karena lima juta lampu menyemarakkan tradisi tersebut.”

Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo, pada tahun lalu juga menggelar lomba “Festival Tumbilotohe” yang diikuti oleh setiap kelurahan. Sedangkan pihak pemerintah provinsi, mengadakan lomba Festival Tumbilotohe antar kabupaten/kota dan juga festival beduk. Namun, perayaan Tumbilotohe kali ini berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya: di mana perpaduan cahaya lampu tradisional dan modern tidak lagi menerangi lapangan terbuka, area persawahan, halaman rumah warga, setelah kehadiran pandemi Covid-19.

Tumbilotohe dan Covid-19

Provinsi Gorontalo menjadi daerah terakhir di Indonesia yang diumumkan adanya kasus positif corona, Kamis, 9 April 2020. Lalu beberapa minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 4 Mei 2020 pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diteken melalui Surat Keputusan Gubernur Gorontalo No. 152/33/V/2020 dan Peraturan Gubernur No. 15 Tahun 2020. Kini, PSBB dilanjutkan ke tahap dua, hingga 31 Mei 2020.

Adanya pemberlakuan PSBB, secara otomatis semua kegiatan ataupun aktivitas masyarakat yang mengundang kerumunan tidak boleh dilakukan, tak terkecuali tradisi Tumbilotohe. Memang, beberapa tahun terakhir tradisi masyarakat Gorontalo ini dijadikan sebagai festival yang dilombakan.

Bagian Kesra Provinsi Gorontalo, Asri Banteng, menuturkan saat ini masih situasi pandemi Covid-19, sehingga Tumbilotohe yang dalam tradisinya digelar begitu meriah pada malam 27-29 Ramadan tersebut harus rela dilaksanakan secara sederhana.

Kata dia, perayaan Tumbilotohe hanya diisi dengan doa yang dipimpin seorang imam dan turut dihadiri oleh Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie beserta ibu Idah Syahidah. Acara itu berlangsung di Rumah Jabatan Gubernur, Selasa (19/5). Lalu dilanjutkan dengan menyalakan lampu botol oleh Gubernur, yang sudah bertengger rapi di Alikusu, depan rumah dinas.

“Meskipun Tumbilotohe tidak dilaksanakan besar-besaran seperti tahun sebelumnya, namun kita tetap menyerap makna di balik tradisi adat Gorontalo ini,” ujar Asri.

Sepanjang saya menyusuri pusat-pusat keramaian yang biasa digelar festival Tumbilotohe di Kota Gorontalo seperti tahun lalu itu; hanya bisa menemukan beberapa lampu botol, yang itupun sekadar di letakkan di teras dan di atas pagar rumah. Bahkan untuk menemukan “Alikusu” yang merupakan simbol merayakan tradisi Tumbilotohe, sangat sukar untuk ditemui. Hanya ada beberapa: seperti di rumah dinas Gubernur, kantor Walikota, perkantoran, masjid-masjid dan beberapa rumah warga.

Ketua Rema Muda Dulalowo Timur, Mhemo Yusuf, mengatakan bahwa Ramadan tahun ini nuansanya begitu berbeda, mulai dari menggeser ibadah di masjid ke rumah masing-masing; juga Tumbilohe yang harus dipaksa dilaksanakan secara sederhana. Mhemo mengisahkan, tahun lalu pihaknya mengikuti festival Tumbilotohe yang digagas oleh Pemkot Gorontalo dan mendapatkan juara dua.

“Tahun ini, kami masih tetap melaksanakan tradisi Tumbilotohe, meskipun hanya rumah masing-masing, tapi untuk festivalnya tidak. Kan saat ini sedang ada pandemi Covid-19, tentu tidak memungkinkan menyelenggarakan Tumbilotohe, yang mana pasti akan menciptakan kerumunan di tempat festival itu,” tandasnya.

Walaupun begitu, di tengah serangan wabah yang mematikan ini, masih bisa dijumpai jejeran lampu botol di samping kiri dan kanan jalan; meskipun tak lagi berhadapan. Seakan ia memberi sedikit cahaya ketika bumi sedang sekarat dalam kegelapan; sebagaimana makna yang terkandung di dalamnya.**** (Alam Indonesia)

Sumber : alam.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *