Karya: Dr. Sitti Rachmi Masie, M.Pd.
PROSESNEWS.ID – Pernikahan sering dipahami sebagai pertemuan dua hati yang saling mencintai. Namun, dalam realitas kehidupan, pernikahan sesungguhnya adalah pertemuan dua cara berpikir, dua kebiasaan, dua latar keluarga, bahkan dua cara berkomunikasi yang tidak selalu sama. Tidak sedikit pasangan yang memasuki gerbang pernikahan dengan kesiapan finansial dan administratif yang baik, tetapi belum memiliki kecakapan komunikasi yang memadai. Akibatnya, persoalan-persoalan sederhana berkembang menjadi konflik yang sulit diselesaikan.
Di sinilah Sekolah Pranikah Salimah (Serasi) menemukan urgensinya. Sekolah Pranikah Salimah tidak lagi cukup dipahami sebagai sarana penyampaian hukum-hukum pernikahan atau tata cara membangun rumah tangga secara normatif. Lebih dari itu, Sekolah Pranikah perlu menjadi ruang pembelajaran literasi komunikasi bagi calon pasangan suami istri. Sebab, keberhasilan sebuah pernikahan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar cinta yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa baik pasangan mampu mengomunikasikan cinta tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai organisasi yang berkomitmen pada pemberdayaan perempuan, anak, dan keluarga, Salimah memandang bahwa keluarga bukan sekadar unit sosial terkecil, melainkan pusat pendidikan pertama dan utama bagi pembentukan karakter manusia. Di dalam keluargalah nilai-nilai keimanan, akhlak, kasih sayang, tanggung jawab, dan kepedulian sosial ditanamkan sejak dini. Perhatian Salimah terhadap keluarga diwujudkan melalui berbagai program pembinaan yang bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan rumah tangga.
Literasi komunikasi tidak cukup pada kemampuan berbicara. Literasi komunikasi mencakup kemampuan mendengar secara empatik, memahami pesan secara utuh, mengelola emosi dalam percakapan, memilih kata yang tepat, serta menyampaikan pendapat tanpa melukai perasaan pasangan. Kemampuan ini sering kali tidak diajarkan secara sistematis dalam pendidikan formal, padahal sangat menentukan kualitas hubungan keluarga.
Banyak pasangan memasuki pernikahan dengan asumsi bahwa komunikasi akan berjalan secara alami. Padahal, komunikasi yang efektif merupakan keterampilan yang perlu dipelajari, dilatih, dan dikembangkan. Kesalahpahaman dalam rumah tangga sering kali bukan disebabkan oleh niat buruk, melainkan oleh kegagalan memahami pesan yang disampaikan pasangan.
Sekolah Pranikah Salimah Gorontalo memiliki peluang besar untuk mengatasi persoalan tersebut. Melalui berbagai aktivitas pembelajaran, calon pasangan dapat dilatih memahami prinsip-prinsip komunikasi interpersonal yang sehat. Mereka belajar bagaimana mengungkapkan kebutuhan tanpa menyalahkan, menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan, dan menyelesaikan konflik tanpa harus saling melukai.
Perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru dalam komunikasi keluarga. Interaksi yang semakin banyak dilakukan melalui media digital sering kali mengurangi kedalaman makna dan kehangatan hubungan. Oleh karena itu, Sekolah Pranikah perlu membekali peserta dengan literasi komunikasi digital agar mereka mampu menjaga kualitas hubungan di tengah derasnya arus teknologi informasi.
Dalam perspektif Islam, komunikasi yang baik merupakan bagian dari akhlak mulia. Al-Qur’an mengajarkan pentingnya berkata benar, berkata baik, berkata lemah lembut, dan berkata mulia. Prinsip-prinsip tersebut menunjukkan bahwa komunikasi bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Rumah tangga yang dibangun di atas komunikasi santun akan lebih mudah menghadirkan ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan.
Karena itu, sudah saatnya Sekolah Pranikah Salimah menempatkan literasi komunikasi sebagai salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki calon pasangan suami istri. Materi tentang komunikasi efektif, komunikasi empatik, manajemen konflik, dan etika dialog perlu diberikan secara lebih aplikatif melalui simulasi, studi kasus, dan latihan praktik. Dengan demikian, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Pada akhirnya, keluarga yang harmonis lahir dari komunikasi yang sehat. Ketika suami dan istri mampu saling mendengar sebelum menilai, memahami sebelum menyalahkan, dan berdialog sebelum mengambil keputusan, maka berbagai tantangan rumah tangga akan lebih mudah dihadapi. Sekolah Pranikah sebagai ruang pembelajaran literasi komunikasi menjadi investasi penting untuk membangun keluarga yang tangguh, sakinah, mawaddah, dan rahmah.















