
PROSESNEWS.ID — Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Ratri Rahmatya Hiola, menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bagian timur yang tampil sebagai presenter sekaligus Impact Delegate dalam World Economic & Leadership Forum (WELF) 2026.
Forum internasional yang diselenggarakan oleh Sustainable Development League bekerja sama dengan Warmadewa University tersebut berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 di Denpasar, Bali. WELF 2026 mempertemukan generasi muda dari berbagai negara, termasuk Rusia, Malaysia, Vietnam, Bangladesh, Uzbekistan, Papua Nugini, dan Indonesia, untuk membahas isu strategis seputar ekonomi global, teknologi, rekonstruksi, perubahan iklim, serta kepemimpinan generasi muda.
Dalam forum tersebut, Ratri membawa nama Universitas Negeri Gorontalo dan mengikuti berbagai rangkaian diskusi sebagai Impact Delegate. Keikutsertaannya menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa UNG dalam membawa perspektif akademik ke forum internasional yang melibatkan peserta dari berbagai negara dan latar belakang.
Selain mengikuti diskusi, Ratri berkesempatan mempresentasikan proyek bertajuk “Youth Economic Policy Lab: Building Economic Resilience in an Uncertain Global Environment”. Gagasan tersebut merupakan inisiatif berbasis kepemudaan yang dirancang untuk menghubungkan economic research, policy dialogue, dan youth engagement dalam membangun pemahaman serta merumuskan gagasan kebijakan ekonomi yang lebih responsif terhadap ketidakpastian global.
Melalui Youth Economic Policy Lab, mahasiswa dan generasi muda didorong untuk memahami berbagai persoalan ekonomi melalui pendekatan berbasis data. Inisiatif ini juga membuka ruang diskusi bersama akademisi dan praktisi, sekaligus mendorong penerjemahan hasil kajian menjadi gagasan dan rekomendasi yang lebih mudah dipahami masyarakat.
“Youth Economic Policy Lab saya gagas sebagai ruang yang menghubungkan penelitian ekonomi dengan diskusi kebijakan dan keterlibatan anak muda. Saya melihat bahwa generasi muda tidak hanya perlu memahami bagaimana kebijakan ekonomi memengaruhi kehidupan mereka, tetapi juga perlu memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan dan terlibat dalam pembahasan isu ekonomi,” ujar Ratri.
Gagasan yang dipresentasikan Ratri berangkat dari pengalaman akademiknya dalam melakukan penelitian mengenai kebijakan fiskal dan Foreign Direct Investment (FDI) di negara-negara ASEAN+3 selama periode 2010–2023.
Penelitian tersebut menjadi salah satu pijakan untuk memahami bagaimana data dan riset ekonomi dapat digunakan dalam menganalisis hubungan antara kebijakan fiskal, kondisi makroekonomi, dan investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Melalui proyek tersebut, Ratri menekankan bahwa economic resilience atau ketahanan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan suatu negara menghadapi guncangan ekonomi. Menurutnya, ketahanan ekonomi juga membutuhkan kebijakan yang kredibel, kapasitas fiskal yang kuat, investasi produktif, serta keterlibatan masyarakat dan generasi muda dalam memahami berbagai persoalan ekonomi.
“Pengalaman mengikuti WELF membuat saya melihat bahwa persoalan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kebijakan atau satu indikator. Ketahanan ekonomi membutuhkan kombinasi antara kebijakan yang baik, institusi yang kuat, investasi produktif, dan keterlibatan berbagai pihak. Di sinilah saya melihat ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi melalui riset, dialog, dan aksi,” lanjut Ratri.
Keikutsertaan dalam WELF 2026 diharapkan menjadi ruang bagi Ratri untuk terus mengembangkan Youth Economic Policy Lab, khususnya sebagai wadah pembelajaran dan diskusi bagi mahasiswa dalam memahami isu ekonomi dan kebijakan publik secara lebih kritis serta berbasis bukti.
Partisipasi tersebut sekaligus memperluas jejaring akademik mahasiswa FEB UNG dan membawa perspektif Universitas Negeri Gorontalo ke forum internasional. Kehadiran Ratri juga menunjukkan keterlibatan mahasiswa UNG dalam diskusi mengenai ekonomi, pembangunan, dan tantangan global yang semakin kompleks.















