
PROSESNEWS.ID – Keberadaan hakim dianggap perwakilan tuhan di Bumi, dan merupakan representatif dari tuhan sebagai pengambil keputusan pada setiap masalah yang bergulir di pengadilan.
Tentunya, dalam setiap perkataan dan tindakan, hakim harus menitikberaatkan pada nilai kearifan dan kebijaksanaan.
Sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia Nomor: 047/KMA/SKB/IV/2009 – 02/SKB/P.KY/IV/2009 tentang kode etik dan perilaku hakim.
Bahwa, kode etik dan pedoman perilaku hakim, merupakan panduan keutamaan moral setiap hakim, baik dalam kedinasaan maupun di luar kedinasan.
Mirisnya, video yang beredar viral di whatsapp group, memperlihatkan oknum hakim dengan lontaran kata-kata yang tidak pantas di keluarkan kepada masa aksi dan masyarakat luas.
Salah satu Aktivis Gorontalo Fian Hamzah, SH, menilai Video yang beredar luas di media sosial itu terlihat, hakim tersebut menyampaikan dengan nada yang penuh amarah, “boleh berapi-api, ngomong segala macam, tapi pakai otak lah”. Lebih lanjut—oknum hakim ini bilang “kalau saya orang sumatera memang keras dan kasar”.
Bagi Fian, lontaran kata-kata ini tidak pantas di keluarkan oleh hakim saat menerima masa aksi yang melaksanakn unjuk rasa di Pengadilan Negeri (PN) Gorontalo.
Oknum hakim ini kata Fian, jika melihat dari nada bicara dan gestur tubuhnya seolah-olah sedang mempertontonkan “keangkuhanya” sebagai pribadi dan melekat sebagai hakim di pengadilan negeri.
Dengan begitu, Fian mendesak hakim ini untuk segera di pindah tugaskan dari Gorontalo, dan meminta maaf kepada masyarakat khususnya masa aksi dan masyarakat Sumatera Utara. Karena dari perkataan yang bersangkutan timbul spekulasi, bahwa orang Sumatera adalah orang-orang keras dan kasar.
“Jangan sampai pernyataan hakim tersebut, menimbulkan gejolak baru, antara Warga Gorontalo dan Warga Sumatera pada umumnya,” tegasnya.
Lebih lanjut kata Fian, Untuk menjaga kerukunan antara Warga Gorontalo dan Warga Sumatra, oknum Hakim terbut wajib angkat kaki dari Gorontalo.
















Dia yg menyatakan dirinya sebagai orang Sumatra keras dan kasar trus apanya yg rasis..
Menurut fikiran saya orang awwam, sebetulnya di Carikan jalan untuk damai bukan memberikan asumsi di media sehingga melahirkan fikiran begatif bagi warga, saya lebih setuju aktivis memediasi setiap ada oerselisihan hingga menciptakan kedamaian dan ketenteraman,🙏 mohon maaf ini cuman pendapat orang tak bertitel jangan dutanggapi kalau keliru