
Refleksi Hari Anak Nasional 2026
Oleh: Sitti Rachmi Masie, Dosen Fakultas Sastra dan Budaya UNG
PROSESNEWS.ID – Seperti biasa, saya bergegas menuju tempat kerja. Kendaraan mulai memenuhi jalan raya Andalas Kota Gorontalo. Nampak kendaraan berlomba dengan waktu untuk sampai ke tujuan masing-masing. Di tengah hiruk-pikuk kesibukan orang dewasa, lampu merah di sebuah perempatan jalan memaksa berhenti sejenak. Namun, di sanalah saya kembali diingatkan bahwa tidak semua orang memiliki kemewahan untuk sekadar berhenti dan beristirahat.
Di antara deru kendaraan dan suara klakson yang bersahutan, tampak beberapa anak kecil berjalan menghampiri satu per satu jendela mobil yang tertutup rapat. Sebagian membawa kantong plastik kecil, sebagian lainnya hanya mengulurkan tangan dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Wajah mereka masih terlalu belia untuk memahami kerasnya kehidupan, tetapi mata mereka seolah telah dipaksa dewasa lebih cepat oleh keadaan.
Ada yang masih mengenakan pakaian lusuh kebesaran, ada yang menggendong adiknya yang tak kalah kecil usianya. Lampu merah yang hanya berdurasi sembilan puluh detik menjadi ruang perjuangan mereka. Dalam waktu yang singkat itu, mereka belajar tentang penolakan, belas kasihan, dan mungkin juga ketidakpedulian.
Ketika lampu berubah hijau, kendaraan kembali melaju meninggalkan perempatan. Namun, mereka tetap tinggal di sana, menunggu lampu berikutnya berubah merah, berharap ada tangan yang terulur untuk sekadar membantu mengisi perutnya hari ini.
Saya pun bertanya dalam diam, apakah mereka sempat menikmati masa kecilnya? Apakah mereka mengetahui bahwa hari ini bangsa ini sedang berbicara tentang Indonesia Emas 2045? Ataukah yang mereka pahami hanyalah bagaimana caranya dapat membawa pulang uang untuk membantu orang tuanya?
Bukankah cita-cita kemerdekaan bangsa ini adalah melindungi segenap tumpah darah Indonesia dan mencerdaskan kehidupan bangsa? Kalimat itu tidak pernah dibatasi oleh ruang geografis tertentu.
Ia tidak hanya milik anak-anak yang tinggal di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga milik anak-anak yang hidup di daerah jauh dari ibu kota, pulau-pulau kecil, di lereng pegunungan, dan di wilayah-wilayah yang sering disebut “terpencil”.
Jeritan anak-anak dari ufuk timur bukan semata-mata tentang kemiskinan material. Ia adalah jeritan tentang kesetaraan yang belum sepenuhnya hadir. Mereka tidak meminta dilahirkan di kota-kota besar dengan segala kemudahannya. Mereka hanya berharap bahwa tempat kelahiran tidak menjadi alasan hilangnya kesempatan untuk bermimpi.
Kita sering menyebut anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Namun, di perempatan jalan itu, saya justru melihat sebuah ironi. Di saat sebagian anak sedang belajar tentang kecerdasan buatan dan teknologi masa depan, sebagian lainnya masih berjuang mendapatkan hak yang paling mendasar sebagai anak, yaitu hak untuk bermain, belajar, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang.
Mungkin mereka tidak meminta menjadi anak-anak yang paling pintar atau paling berprestasi. Mereka hanya ingin menjadi anak-anak sebagaimana mestinya. Pergi ke sekolah tanpa rasa khawatir. Bermain bersama teman-temannya tanpa dibebani tanggung jawab yang terlalu besar untuk usianya. Pulang ke rumah dan dipeluk oleh orang-orang yang mencintainya.
Pemandangan di perempatan jalan itu selain sebagai persoalan kemiskinan ekonomi, juga sebagai potret tentang pekerjaan rumah bangsa ini yang belum selesai. Sebab, anak-anak yang berada di sana bukanlah angka dalam statistik semata. Mereka memiliki nama, mimpi, dan masa depan yang sama berharganya dengan anak-anak yang tumbuh di ruang-ruang nyaman dan penuh kesempatan.
Hari Anak Nasional seharusnya tidak hanya diperingati di ruang-ruang seremonial. Ia harus hadir di setiap perempatan jalan yang masih menyimpan jeritan anak-anak Indonesia. Sebab, ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi gedung yang dibangunnya, tetapi juga dari seberapa sungguh-sungguh bangsa itu menjaga senyum anak-anaknya.
Setiap kali lampu merah menyala, sesungguhnya ada pertanyaan yang sedang diajukan anak-anak itu kepada kita, apakah Indonesia telah benar-benar menjadi rumah yang aman bagi seluruh anak-anaknya? Dan sungguh pertanyaan yang paling mengusik adalah ketika kita bergegas menuju tempat kerja untuk membangun masa depan bangsa, sudahkah kita memastikan bahwa mereka juga sedang berjalan menuju masa depan yang sama?













