
PROSESNEWS.ID – Sebuah skripsi mahasiswa Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo, menyoroti fenomena yang tampak sederhana, namun sarat makna, yakni penggunaan tas kecil di kalangan mahasiswa. Di balik pilihan aksesori yang ringkas tersebut, tersimpan perubahan cara pandang tentang apa yang disebut sebagai “kebutuhan akademik”.
Penelitian berjudul “Tren Global dan Standar Estetika Penggunaan Tas Kecil dalam Redefinisi Kebutuhan Akademik di Kalangan Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo” yang disusun oleh Melsandra Miradj ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi terhadap delapan mahasiswa aktif Jurusan Sosiologi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali makna di balik pilihan gaya yang tampak kasual tersebut.
Secara fungsional, tas merupakan alat untuk membawa perlengkapan kuliah. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa tas kecil kini tidak lagi dimaknai semata-mata sebagai media penyimpanan buku dan alat tulis. Tas kecil telah mengalami transformasi makna menjadi simbol gaya hidup yang dipengaruhi tren global dan budaya visual.
Mahasiswa memilih tas kecil karena dinilai lebih praktis, ringan, dan nyaman. Di era digital, ketika banyak materi kuliah tersimpan dalam gawai, kebutuhan membawa buku tebal semakin berkurang. Tas kecil pun dianggap cukup untuk memuat barang esensial, seperti buku tipis, alat tulis, dan telepon pintar.
Akan tetapi, alasan praktis bukan satu-satunya pertimbangan. Tas kecil juga mencerminkan kesadaran estetika. Ia menjadi bagian dari identitas visual mahasiswa—cara mereka menampilkan diri di ruang kelas maupun di media sosial.
Penelitian ini menemukan adanya redefinisi kebutuhan akademik. Kesiapan mengikuti perkuliahan tidak lagi diukur dari banyaknya perlengkapan yang dibawa, melainkan dari kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan akademik yang kian dipengaruhi simbol, citra, dan ekspresi diri.
Dalam konteks ini, konsumsi mahasiswa tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga simbolik. Pilihan tas kecil dapat dibaca sebagai bentuk adaptasi terhadap budaya populer kampus yang menekankan kesederhanaan gaya serta tampilan visual yang “bersih” dan modern. Mahasiswa tidak sekadar membawa barang, tetapi juga membawa pesan tentang siapa diri mereka.
Kajian ini menunjukkan bahwa tren fashion global dan budaya populer memainkan peran penting dalam membentuk pola konsumsi mahasiswa. Kampus tidak terlepas dari arus globalisasi yang menghadirkan standar estetika baru melalui media sosial dan budaya visual.
Melalui penelitian ini, terlihat bahwa perubahan kecil dalam keseharian—seperti memilih tas kecil—dapat merefleksikan dinamika sosial yang lebih luas. Skripsi ini memberikan kontribusi dalam kajian sosiologi budaya, khususnya terkait konsumsi simbolik dan pembentukan identitas di kalangan mahasiswa.
Pada akhirnya, tas kecil bukan sekadar pilihan praktis, melainkan cerminan bagaimana generasi muda memaknai kehidupan akademik di era global—sebuah perpaduan antara fungsi, gaya, dan identitas.












