
PROSESNEWS.ID — Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengawali semester ganjil Tahun Akademik 2026 dengan menggelar kuliah umum bertajuk “Growth Mindset untuk Insan Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya”, Senin (24/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruangan Loolade Lantai 1 FSB UNG tersebut menghadirkan Prof. Karmila Machmud, Guru Besar FSB UNG sekaligus Tenaga Ahli Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UNG, sebagai narasumber.
Kuliah umum tersebut menjadi ruang refleksi bagi sivitas akademika FSB UNG untuk memahami bahwa proses akademik tidak selalu berjalan mulus. Proses tersebut membutuhkan kemauan untuk belajar, keberanian menghadapi tantangan, serta kemampuan untuk terus berkembang.
Dekan FSB UNG, Prof. Dra. Nonny Basalama dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun pola pikir yang terbuka terhadap perubahan dan perkembangan. Ia sekaligus membuka kegiatan tersebut secara resmi.
Menurut Prof. Nonny, lingkungan akademik harus menjadi ruang yang mendorong setiap individu untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.
Ia mengatakan, konsep growth mindset relevan dengan kehidupan akademik karena keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan yang dimiliki sejak awal, tetapi juga oleh kemauan untuk belajar dan berkembang.
“Kita harus membangun keyakinan bahwa kemampuan kita dapat terus berkembang. Jangan menjadikan keterbatasan hari ini sebagai batas bagi pencapaian kita di masa depan. Tantangan, kesalahan, bahkan kegagalan harus kita jadikan bagian dari proses untuk menjadi lebih baik,” ujar Prof. Nonny.
Ia berharap kuliah umum tersebut tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan akademik, baik oleh dosen maupun mahasiswa.
Menurutnya, insan bahasa, sastra, seni, dan budaya dituntut memiliki kreativitas serta kemampuan beradaptasi yang tinggi di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat.
Sementara itu, Wakil Dekan I Bidang Akademik FSB UNG, Dr. Salam menjelaskan bahwa growth mindset merupakan keyakinan bahwa kapasitas manusia, termasuk kecerdasan, bakat, dan kemampuan, bukanlah sesuatu yang bersifat tetap.
Kemampuan tersebut, kata Dr. Salam, dapat terus dikembangkan melalui usaha, strategi yang tepat, pengalaman, serta pembelajaran dari kegagalan.
“Bagi insan di bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, growth mindset memiliki relevansi yang sangat tinggi karena bidang-bidang tersebut menuntut kreativitas, ketekunan, refleksi kritis, dan keberanian untuk bereksperimen,” jelasnya.
Dr. Salam menambahkan, growth mindset tidak semata-mata dapat dipandang sebagai motivasi individual. Lebih dari itu, konsep tersebut dapat menjadi kerangka epistemologis yang mengubah cara insan akademik dalam memaknai proses, kegagalan, dan potensi.
Dalam konteks perguruan tinggi, penerapan growth mindset dapat dilakukan dalam berbagai aspek, mulai dari proses pembelajaran, penelitian, pengembangan karya, hingga tata kelola dan administrasi akademik.
“Integrasi growth mindset dalam pengajaran, penelitian, dan administrasi akademik dapat memperkuat ekosistem pembelajaran yang resilien, inovatif, dan berorientasi pada pengembangan berkelanjutan,” ungkapnya.
Kuliah umum tersebut juga menjadi momentum bagi FSB UNG untuk memperkuat budaya akademik yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menghargai proses.
Bagi mahasiswa, growth mindset dapat menjadi bekal dalam menghadapi berbagai tantangan selama menjalani pendidikan tinggi. Nilai, prestasi, maupun pencapaian akademik bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Kemampuan untuk belajar dari pengalaman, memperbaiki kekurangan, dan terus meningkatkan kompetensi juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Sementara bagi dosen dan tenaga kependidikan, pola pikir bertumbuh dapat mendorong lahirnya inovasi dalam pembelajaran, penelitian, pelayanan akademik, serta pengembangan kelembagaan.
Dengan demikian, “belum mampu” tidak harus dimaknai sebagai “tidak mampu”. Masih terdapat ruang untuk belajar, mencoba kembali, menemukan strategi baru, dan berkembang.
Kuliah umum tersebut dihadiri Dekan FSB UNG, para Wakil Dekan, Guru Besar, Ketua dan Sekretaris Jurusan, Ketua dan Sekretaris Penjaminan Mutu, dosen, serta mahasiswa di lingkungan FSB UNG.
Melalui kegiatan tersebut, FSB UNG menegaskan komitmennya membangun insan akademik yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memiliki mental pembelajar, tangguh menghadapi perubahan, kreatif, adaptif, dan berani bertumbuh.
Pada akhirnya, growth mindset mengajarkan satu hal penting: potensi bukanlah titik akhir, melainkan titik awal untuk terus berkembang.











