Prosesnews.id
  • Home
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Tenggara
    • Sumatera Utara
    • Jawa Timur
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Traveling
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Tenggara
    • Sumatera Utara
    • Jawa Timur
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Traveling
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prosesnews.id
No Result
View All Result
Home Daerah Gorontalo

Indrawati Gobel dan Ujian Politik NasDem Gorontalo

Editor by Editor
15 Sep 2026 18:43
in Gorontalo, Opini

Oleh: Dr. Funco Tanipu, S.T., M.A. (Founder The Gorontalo Institute)

PROSESNEWS.ID – Penunjukan Indrawati Gobel sebagai Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Gorontalo pada 14 September 2026 mengakhiri satu fase ketidakpastian setelah kepergian Rachmat Gobel. Surya Paloh memilih adik kandung Rachmat untuk memimpin partai yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh menjadi salah satu kekuatan utama politik Gorontalo.

Pilihan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa NasDem memilih jalur keberlanjutan melalui keluarga Gobel ketika partai sedang kehilangan figur yang selama ini menjadi pusat kekuatannya.

Namun, pergantian ketua tidak serta-merta menyelesaikan persoalan yang ditinggalkan Rachmat. Jabatan memang dapat dialihkan melalui keputusan organisasi, tetapi pengaruh, kewibawaan, jaringan, dan kepercayaan tidak dapat dipindahkan hanya melalui surat keputusan.

Karena itu, tantangan Indrawati bukan sekadar menempati kursi yang sebelumnya diduduki kakaknya. Tantangan yang lebih besar adalah membangun alasan baru mengapa para elite NasDem tetap bersedia berada dalam satu barisan di bawah kepemimpinannya.

Situasi ini menjadi semakin menarik karena dua partai besar di Gorontalo kini dipimpin perempuan. NasDem dipimpin Indrawati Gobel, sementara Golkar dipimpin Idah Syahidah.

Keduanya sama-sama perempuan dan sama-sama memiliki hubungan dengan keluarga politik yang kuat. Namun, keduanya sampai ke pucuk kepemimpinan melalui pengalaman, jaringan, dan sumber kekuatan yang berbeda.

Modal Keluarga dan Kekuatan Awal Indrawati

Indrawati memulai kepemimpinannya dengan modal yang tidak kecil. Ia merupakan adik Rachmat Gobel, figur yang pada Pemilu 2024 memperoleh 195.322 suara untuk DPR RI dan selama beberapa tahun menjadi wajah utama NasDem di Gorontalo.

Kedekatan keluarga dengan figur sebesar Rachmat memberikan pengenalan dan penerimaan awal yang tidak mudah diperoleh oleh seorang politisi baru.

Modal tersebut bahkan tidak hanya berasal dari Rachmat. Keluarga Gobel telah memiliki hubungan sosial yang panjang dengan Gorontalo, jauh sebelum Rachmat terjun ke dunia politik.

Nama Thayeb Mohammad Gobel, kegiatan ekonomi keluarga, hubungan dengan dunia pendidikan, kegiatan sosial, serta berbagai aktivitas lainnya membuat nama Gobel telah lama berada dalam ingatan masyarakat.

Karena itu, ketika Indrawati masuk ke pucuk pimpinan NasDem, ia tidak memulai dari nol. Ia membawa nama keluarga yang sudah dikenal, jaringan sosial yang telah terbentuk, hubungan ekonomi yang luas, serta warisan politik yang sebelumnya dirintis Rachmat.

Dalam politik lokal, seluruh modal tersebut memiliki nilai. Seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan jabatan, tetapi juga pengenalan, jaringan, dan kepercayaan.

Kekuatan tersebut hanya dapat dipahami apabila politik Gorontalo dibaca bersamaan dengan struktur sosialnya. Kekerabatan masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Gorontalo. Marga juga tetap menjadi salah satu penanda asal-usul, hubungan keluarga, dan reputasi sosial.

Nama keluarga dalam banyak kasus bukan sekadar nama belakang. Ia membawa cerita tentang siapa keluarga tersebut, bagaimana mereka dikenal, dan jaringan apa yang berada di sekitarnya.

Nama-nama seperti Gobel, Habibie, Monoarfa, Uno, Katili, dan keluarga besar lainnya menunjukkan bagaimana kekerabatan dapat bertahan di tengah modernisasi politik.

Partai, pemilu, survei, dan media tidak menghapus hubungan keluarga. Sebaliknya, berbagai arena tersebut justru memberikan ruang baru bagi kekuatan keluarga untuk masuk ke dalam arena politik.

Nama keluarga kemudian dapat menjadi jembatan yang menghubungkan reputasi sosial dengan kekuasaan politik.

Dalam konteks tersebut, Indrawati memiliki keuntungan yang nyata. Ia membawa nama Gobel ketika NasDem membutuhkan figur yang dapat menjaga rasa keberlanjutan setelah kehilangan Rachmat.

Bagi sebagian kader dan elite, nama tersebut dapat memberikan rasa aman bahwa kepemimpinan baru masih berada dalam lingkaran yang dikenal dan dianggap memiliki hubungan langsung dengan warisan politik Rachmat.

Namun, modal keluarga tetap memiliki batas. Nama besar dapat mempercepat penerimaan, tetapi tidak secara otomatis membuat seseorang mampu mengelola partai, menyelesaikan konflik, atau mengendalikan berbagai kepentingan.

Kekuatan keluarga hanya menjadi modal awal. Kemampuan politik tetap harus dibuktikan melalui keputusan dan kerja kepemimpinan.

Di sinilah perbandingan dengan Idah Syahidah menjadi penting. Idah juga tidak dapat dilepaskan dari jaringan keluarga politik, tetapi ia memasuki kepemimpinan Golkar setelah memiliki pengalaman yang lebih panjang dalam birokrasi, organisasi sosial, DPR RI, Pilkada, dan pemerintahan daerah.

Dengan kata lain, Idah membawa modal keluarga sekaligus pengalaman yang telah lama dikumpulkan melalui berbagai jabatan.

Indrawati berada pada posisi yang berbeda. Modal awalnya mungkin sangat besar karena nama Gobel dan warisan Rachmat, tetapi pengalaman kepemimpinan politiknya belum sepanjang Idah.

Perbedaan tersebut bukan soal siapa yang lebih layak, melainkan mengenai sumber kekuatan yang berbeda serta pekerjaan politik yang harus dilakukan setelah menduduki jabatan.

Membangun Otoritas Sendiri

Tantangan utama Indrawati adalah membangun kewibawaan yang tidak hanya bersumber dari nama kakaknya.

Selama ini, jejak publiknya dalam jabatan struktural partai, pemerintahan, atau lembaga politik belum sepanjang sejumlah elite yang sekarang akan dipimpinnya. Ia langsung masuk ke posisi tertinggi NasDem Gorontalo ketika partai sedang menghadapi masa transisi.

Keadaan tersebut membuat Indrawati memiliki jabatan lebih cepat dibandingkan pengalaman politik yang terlihat di ruang publik.

Ia memiliki kewenangan formal karena ditunjuk oleh Ketua Umum dan memiliki kekuatan simbolik karena membawa nama Gobel. Namun, kewibawaan politik yang lahir dari kemampuan mengendalikan konflik, mengatur kepentingan, menghadapi pemilu, dan mengambil keputusan sulit masih harus dibangun.

Masalah berikutnya adalah bayang-bayang Rachmat yang sangat besar.

Dalam jangka pendek, bayang-bayang tersebut membantu Indrawati karena membuatnya mudah dikenali dan diterima sebagai bagian dari keberlanjutan. Namun, dalam jangka panjang, ia harus keluar dari posisi sebagai “adik Rachmat” dan mulai dikenal karena keputusan serta kemampuan politiknya sendiri.

Tugas tersebut tidak mudah karena Rachmat dahulu menjalankan banyak fungsi sekaligus.

Ia bukan hanya Ketua DPW, tetapi juga figur nasional, pemilik daya elektoral yang besar, penghubung ke pusat, pemilik jaringan ekonomi, serta orang yang dapat mengambil keputusan ketika terjadi perselisihan di internal partai.

Karena itu, banyak elite NasDem bukan sekadar menghormati jabatan Rachmat, tetapi juga memperhitungkan kapasitas personal yang melekat padanya.

Indrawati membawa nama yang sama, tetapi kondisi politiknya tidak sama. Nama Gobel dapat diwariskan, sedangkan kemampuan menjadi penjamin bagi berbagai kelompok di dalam partai hanya dapat dibangun melalui pengalaman.

Di sinilah kepemimpinannya akan diuji sejak awal.

Ujian tersebut semakin berat karena NasDem Gorontalo tidak diisi politisi yang baru belajar politik. Di dalamnya terdapat kepala daerah seperti Rum Pagau dan Sofyan Puhi, Wakil Bupati Pohuwato Iwan Adam, serta figur-figur lain seperti Marten Taha, Ridwan Monoarfa, Mikson Yapanto, Umar Karim, Roni Imran, Feriyanto Mayulu, dan sejumlah tokoh lainnya yang masing-masing memiliki pengalaman, jaringan, dan basis politik.

Mereka bukan sekadar pengurus yang menunggu instruksi Ketua DPW. Masing-masing memiliki hubungan dengan pemilih, kelompok masyarakat, pengusaha, birokrasi, tokoh agama, dan jaringan politik di daerahnya.

Karena itu, seorang ketua tidak cukup hanya memiliki kewenangan administratif. Ia harus mampu membuat seluruh kekuatan tersebut tetap melihat NasDem sebagai rumah yang memberikan manfaat politik.

Pada masa Rachmat, kebutuhan tersebut relatif lebih mudah dipenuhi. Banyak politisi datang ke NasDem dari latar belakang yang berbeda, dan sebagian tidak tumbuh sejak awal melalui kaderisasi internal partai.

Mereka dapat berkumpul karena ada Rachmat sebagai figur yang memberikan jaminan, akses, perlindungan, dan daya tawar yang kuat.

Di sinilah kekuatan NasDem sekaligus menjadi sumber kerentanannya.

Partai tumbuh besar karena mampu menarik tokoh-tokoh yang telah memiliki modal politik sendiri. Namun, semakin banyak elite kuat yang bergabung, semakin besar pula kebutuhan terhadap figur yang mampu menjaga keseimbangan di antara mereka.

Rachmat memainkan fungsi tersebut. Kini Indrawati harus membangun kemampuan yang sama, meskipun mungkin melalui cara yang berbeda.

Jika dibandingkan dengan Idah, posisi Indrawati lebih rumit. Idah memimpin Golkar setelah melewati pengalaman panjang di birokrasi, organisasi, parlemen, dan pemerintahan. Ia memiliki bekal untuk membaca watak organisasi serta berbagai kepentingan di dalamnya.

Selain itu, ia berada di tengah jaringan Golkar yang telah lama terbentuk dan memiliki banyak figur senior yang memahami sejarah internal partai.

Idah juga masih memiliki Rusli Habibie di sampingnya sebagai sumber rujukan politik yang penting. Rusli pernah memimpin Golkar, menjadi gubernur selama dua periode, dan memiliki pengalaman panjang dalam membaca peta elite Gorontalo.

Keberadaan figur seperti ini memberikan ruang konsultasi dan koreksi ketika keputusan politik yang rumit harus diambil, meskipun kewenangan formal tetap berada pada Idah sebagai ketua.

Indrawati belum terlihat memiliki figur pendamping dengan posisi dan pengalaman yang setara.

Rachmat dahulu justru menjadi pusat tempat banyak keputusan bermuara. Ketika ia tidak ada, NasDem kehilangan orang yang selama ini berfungsi sebagai tempat terakhir untuk menyelesaikan perselisihan.

Kekosongan tersebut dapat menjadi persoalan yang lebih serius daripada persoalan popularitas Indrawati sendiri.

Persoalan gender juga perlu dibaca secara hati-hati. Menjadi perempuan bukan kelemahan Indrawati. Namun, arena politik lokal masih banyak dikendalikan oleh jaringan laki-laki, baik di partai, pemerintahan, bisnis, maupun hubungan informal antarelite.

Dalam lingkungan seperti itu, seorang perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan atas kewibawaannya.

Idah relatif lebih siap menghadapi keadaan tersebut karena telah lama berada dalam berbagai arena politik dan organisasi.

Indrawati harus membangun penerimaan tersebut dalam waktu yang lebih singkat, sembari membawa ekspektasi besar dari nama Gobel.

Karena itu, tantangannya bukan hanya memimpin NasDem, tetapi juga membuktikan bahwa kewibawaannya tidak bergantung terus-menerus pada nama kakaknya.

NasDem Setelah Rachmat

Masa depan NasDem tidak akan ditentukan oleh kemampuan Indrawati menjadi Rachmat kedua.

Bahkan jika ia mencoba meniru sepenuhnya cara Rachmat, hasilnya belum tentu sama karena keduanya memiliki pengalaman, jaringan, dan kekuatan yang berbeda.

Yang lebih penting adalah apakah Indrawati dapat menemukan bentuk kepemimpinan yang sesuai dengan keadaan NasDem setelah Rachmat.

Rachmat memiliki sumber daya yang memungkinkan banyak keputusan bertumpu pada dirinya. Indrawati kemungkinan harus bekerja dengan cara berbeda, yakni membagi ruang kepada berbagai pusat kekuatan yang sudah ada dan memastikan semuanya tetap bergerak dalam satu arah.

Ia lebih membutuhkan kemampuan mengoordinasikan daripada memusatkan seluruh kekuasaan.

Kondisi ini membuat masa depan NasDem sangat bergantung pada hubungan antara ketua baru dan para elite yang telah lama berada di dalam partai.

Jika Rum Pagau, Sofyan Puhi, Iwan Adam, dan para legislator tetap melihat NasDem sebagai kendaraan politik yang menjanjikan, partai masih memiliki daya tahan yang kuat.

Namun, jika mereka mulai merasa bahwa jaminan yang dahulu diberikan Rachmat telah hilang, setiap orang akan mulai menghitung kembali kepentingannya sendiri.

NasDem kini memasuki tahap ketika kekuatan partai dan kekuatan Rachmat mulai dapat dipisahkan.

Selama Rachmat masih hidup, keduanya sulit dibedakan karena suara partai dan suara personal Rachmat tumbuh bersama. Setelah Rachmat tidak ada, baru akan terlihat seberapa kuat NasDem sebagai organisasi dan seberapa besar selama ini partai bergantung pada seorang figur.

Ujian pertama adalah konsolidasi internal.

Selama belum ada pembagian posisi, pencalonan, atau keputusan yang menyentuh kepentingan langsung elite, suasana partai mungkin tetap terlihat tenang.

Ujian sebenarnya biasanya datang ketika harus menentukan siapa mendapatkan tempat, siapa maju dalam pemilu, siapa memperoleh dukungan, dan siapa harus mengalah.

Di titik-titik tersebut kemampuan Indrawati akan diuji.

Ia harus mampu mengambil keputusan yang cukup kuat untuk dihormati, tetapi juga cukup lentur agar tidak memecah jaringan yang telah dibangun Rachmat.

Jika keputusan terlalu lemah, ketua dapat kehilangan kewibawaan. Sebaliknya, jika terlalu keras tanpa pemahaman mendalam terhadap peta internal, konflik dapat melebar.

Rachmat dahulu memiliki semacam kontrak tidak tertulis dengan banyak elite NasDem.

Selama mereka berada di dalam partai, ada figur nasional yang memiliki akses ke pusat, sumber daya, hubungan dengan Ketua Umum, dan kemampuan menjadi penjamin ketika muncul persoalan.

Kontrak politik seperti itu sekarang tidak dapat bekerja dengan cara yang sama.

Karena itu, Indrawati harus membangun kesepakatan baru dengan para elite.

Ia perlu menawarkan kepastian, rasa keadilan dalam distribusi peran, akses yang terbuka terhadap keputusan, serta prospek politik yang membuat mereka tetap merasa bahwa NasDem merupakan kendaraan yang masuk akal.

Tanpa hal tersebut, nama Gobel saja tidak akan cukup untuk menjaga seluruh jaringan tetap berada dalam satu rumah.

Di sinilah pengetahuan mengenai politik Gorontalo menjadi sangat menentukan.

Politik lokal bukan hanya tentang aturan partai, tetapi juga mengenai hubungan keluarga, sejarah persaingan, loyalitas lama, sentimen wilayah, hubungan personal, dan konflik yang terkadang tidak pernah muncul di ruang publik.

Ketua yang tidak memahami lapisan-lapisan tersebut dapat mengambil keputusan yang benar secara aturan, tetapi salah dalam perhitungan politik.

Perbandingan dengan Golkar kembali menunjukkan tantangan yang dihadapi Indrawati.

Idah memimpin partai yang lebih tua, memiliki ingatan organisasi yang panjang, serta didukung banyak kader yang telah melewati beberapa periode pergantian kepemimpinan.

Indrawati memimpin partai yang kebesarannya di Gorontalo tumbuh sangat erat dengan satu figur. Karena itu, ia harus membangun kekuatan organisasi ketika bayangan figur tersebut masih sangat kuat.

Pemilu 2029 akan menjadi ukuran yang paling terbuka.

Dalam dua pemilu terakhir, sebagian besar suara NasDem untuk DPR RI di Gorontalo terkonsentrasi pada Rachmat. Tanpa Rachmat sebagai calon dan magnet utama, NasDem akan mengetahui berapa banyak suara yang benar-benar telah menjadi milik partai.

Jika NasDem mampu mempertahankan kekuatan elektoralnya, berarti sebagian besar warisan Rachmat berhasil diubah menjadi kekuatan organisasi.

Jika suara DPR RI turun tetapi kekuatan NasDem di tingkat DPRD tetap bertahan, berarti partai masih memiliki jaringan lokal yang kuat meskipun kehilangan mesin personal Rachmat.

 

Namun, jika keduanya sama-sama turun, hal tersebut menjadi tanda bahwa ketergantungan kepada Rachmat selama ini jauh lebih besar daripada yang terlihat.

 

Karena itu, Indrawati tidak perlu menghabiskan energi untuk menjadi Rachmat yang baru.

 

Ia justru perlu membangun NasDem yang tidak lagi membutuhkan satu orang sebagai penyangga seluruh kekuatan partai.

 

Jika berhasil, kepemimpinannya akan memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar meneruskan nama keluarga.

 

Kekerabatan dapat membantu proses tersebut, tetapi tidak boleh menjadi tujuan akhir.

 

Nama Gobel dapat digunakan untuk menjaga kepercayaan pada masa transisi, sementara partai membangun aturan, kaderisasi, mekanisme penyelesaian konflik, dan pembagian kewenangan yang lebih sehat.

Pada titik tersebut, modal keluarga benar-benar berubah menjadi kekuatan organisasi.

Sebaliknya, jika elite NasDem hanya bertahan selama masih percaya bahwa nama Gobel mampu memberikan jaminan yang sama seperti Rachmat, partai akan menghadapi persoalan serius.

NasDem akan terlihat lebih menyerupai kumpulan jaringan politik yang dahulu disatukan oleh seorang figur daripada organisasi yang memiliki daya ikat sendiri.

Ketika jaminan personal melemah, setiap jaringan akan kembali menghitung pilihan yang paling menguntungkan.

Itulah ujian terbesar Indrawati Gobel.

Pertanyaannya bukan lagi apakah keluarga Gobel masih dapat memimpin NasDem, karena Surya Paloh telah menjawabnya dengan menunjuk Indrawati.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indrawati mampu membuat para politisi yang dahulu merasa aman karena Rachmat tetap memiliki alasan untuk bertahan setelah Rachmat tidak lagi ada.

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan arah NasDem Gorontalo dalam beberapa tahun ke depan.

Jika Indrawati berhasil membangun kewibawaan sendiri dan mengubah warisan Rachmat menjadi kekuatan partai, NasDem dapat keluar dari ketergantungan pada satu figur.

Jika tidak, penunjukannya hanya akan memperpanjang keberlanjutan nama Gobel tanpa menyelesaikan persoalan utama NasDem setelah kehilangan Rachmat.

ShareTweetSendSharePin

Berita Terkait

Hampir 7 Bulan Lapor Pengeroyokan, Warga Kabgor Pertanyakan Kejelasan

by Editor
15 Sep 2026
0

Gambar Ilustrasi AI PROSESNEWS.ID – Warga Desa Bondula, Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Maryam S. Male mencurahkan kekecewaannya terkait...

Keripik Tilihuwa Disiapkan Masuk Pasar Nasional, Baznas Kabgor Kucurkan Rp50 Juta

by Editor
15 Sep 2026
0

PROSESNEWS.ID – Produk keripik yang selama ini diproduksi masyarakat Kelurahan Tilihuwa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, mulai mendapat perhatian serius untuk...

Anggota DPRD Provinsi Gorontalo saat memperingati dua tahun menjabat dengan menggelar doa syukuran dan ceramah agama di Kantor DPRD, Selasa (15/9/2026). Foto: DPRD

Peringatan Dua Tahun Masa Jabatan Anggota DPRD Gorontalo, Politik Harus Berujung Pengabdian

by Editor
15 Sep 2026
0

Anggota DPRD Provinsi Gorontalo saat memperingati dua tahun menjabat dengan menggelar doa syukuran dan ceramah agama di Kantor DPRD, Selasa...

Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, saat menerima audiensi jajaran PT BNPG di Kantor Gubernur Gorontalo, Selasa (15/9/2026).

Gubernur Gusnar Ismail Sambut Positif Investasi PT BNPG di Gorontalo

by Editor
15 Sep 2026
0

Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, saat menerima audiensi jajaran PT BNPG di Kantor Gubernur Gorontalo, Selasa (15/9/2026). PROSESNEWS.ID - Pemerintah Provinsi...

Ketua Komisi I DPRD Boalemo saat memimpin rapat di ruang komisi, Senin (14/9/2026)

Dugaan Pungli Berkedok PTSL di Wonosari Tembus Miliaran, DPRD Boalemo Minta Mantan Kepala BPN Bertanggung Jawab

by Editor
15 Sep 2026
0

Ketua Komisi I DPRD Boalemo, Helmi Rasid, saat memimpin rapat di ruang komisi, Senin (14/9/2026) PROSESNEWS.ID - Praktik dugaan pungutan...

Load More

Komentar DonkBatalkan balasan

Trending

Ketua Komisi I DPRD Boalemo saat memimpin rapat di ruang komisi, Senin (14/9/2026)
Daerah

Dugaan Pungli Berkedok PTSL di Wonosari Tembus Miliaran, DPRD Boalemo Minta Mantan Kepala BPN Bertanggung Jawab

by Editor
15 Sep 2026
0

Ketua Komisi I DPRD Boalemo, Helmi Rasid, saat memimpin rapat di ruang komisi, Senin (14/9/2026) PROSESNEWS.ID - Praktik dugaan pungutan...

Hampir 7 Bulan Lapor Pengeroyokan, Warga Kabgor Pertanyakan Kejelasan

15 Sep 2026
Ilustrasi/AI

Jejak Korupsi Sepanjang Agustus 2026

2 Sep 2026
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, saat menerima audiensi jajaran PT BNPG di Kantor Gubernur Gorontalo, Selasa (15/9/2026).

Gubernur Gusnar Ismail Sambut Positif Investasi PT BNPG di Gorontalo

15 Sep 2026
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo saat memperingati dua tahun menjabat dengan menggelar doa syukuran dan ceramah agama di Kantor DPRD, Selasa (15/9/2026). Foto: DPRD

Peringatan Dua Tahun Masa Jabatan Anggota DPRD Gorontalo, Politik Harus Berujung Pengabdian

15 Sep 2026

Surya Paloh Pilih Indrawati Gobel Melanjutkan Kepemimpinan DPW NasDem Gorontalo

14 Sep 2026

TERBARU

Hampir 7 Bulan Lapor Pengeroyokan, Warga Kabgor Pertanyakan Kejelasan

15 Sep 2026

Keripik Tilihuwa Disiapkan Masuk Pasar Nasional, Baznas Kabgor Kucurkan Rp50 Juta

15 Sep 2026
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo saat memperingati dua tahun menjabat dengan menggelar doa syukuran dan ceramah agama di Kantor DPRD, Selasa (15/9/2026). Foto: DPRD

Peringatan Dua Tahun Masa Jabatan Anggota DPRD Gorontalo, Politik Harus Berujung Pengabdian

15 Sep 2026

Indrawati Gobel dan Ujian Politik NasDem Gorontalo

15 Sep 2026
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, saat menerima audiensi jajaran PT BNPG di Kantor Gubernur Gorontalo, Selasa (15/9/2026).

Gubernur Gusnar Ismail Sambut Positif Investasi PT BNPG di Gorontalo

15 Sep 2026
  • Home
  • Tentang
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

©2026 Prosesnews.id. All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Tenggara
    • Sumatera Utara
    • Jawa Timur
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Traveling
  • Opini
  • Infografis

©2026 Prosesnews.id. All Rights Reserved.