
PROSESNEWS.ID – Sebagai salah satu daerah penghasil jagung terbesar di kawasan Indonesia Timur, Gorontalo kerap dihadapkan pada persoalan klasik berupa tumpukan limbah tongkol jagung yang berakhir sebagai sampah atau sekadar bahan bakar tradisional. Namun, melalui tangan tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG), limbah pertanian tersebut justru bertransformasi menjadi material bangunan inovatif yang mampu mendinginkan rumah secara alami tanpa bantuan energi listrik.
Inovasi yang diberi nama Eco-Cooler ini lahir dari penelitian berjudul “Integrasi Eco-Cooler Berbahan Limbah pada Desain Rumah Ramah Lingkungan sebagai Strategi Menuju Arsitektur Berkelanjutan.” Penelitian tersebut diketuai oleh Niniek Pratiwi, S.T., M.T., bersama anggota tim Dr. Ernawati, S.T., M.T., dan Dr. Rahmatiah, S.Pd., M.Si., serta melibatkan mahasiswa Program Studi Arsitektur.
“Inovasi ini dari limbah “Harta Karun” yang terbuang hasil pertanian masyarakat Gorontalo. Melalui program Riset Akselerasi Publikasi Internasional (RAPI) 2025 dari LPPM UNG, peneliti ingin membuktikan bahwa tongkol jagung memiliki potensi luar biasa bagi industri konstruksi,” ujar Niniek.
Eco-Cooler berfokus pada pemanfaatan limbah tongkol jagung—komoditas unggulan Gorontalo—sebagai sistem pendingin pasif tanpa listrik yang mampu menurunkan suhu ruang secara alami. Limbah tersebut diolah menjadi dua bentuk material, yakni abu tongkol jagung (Corn Cob Ash/CCA) dan serbuk tongkol jagung (Corn Cob Powder/CCP), yang digunakan sebagai substitusi sebagian semen dan pasir dalam pembuatan panel ventilatif bangunan.
Hasil pengujian laboratorium menunjukkan temuan yang signifikan. Penggunaan material limbah jagung CCA mampu membuat panel bangunan menjadi lebih ringan hingga 20 persen, sementara CCP mencapai 40 persen dibandingkan roster beton konvensional. Kendati demikian, material tersebut tetap memiliki kekuatan struktural yang tinggi.
“Data kami menunjukkan bahwa varian CCA 10% mampu mencatat kekuatan tekan hingga 46,18 MPa. Angka ini melampaui standar beton padat kelas I (SNI), yang berarti material ini sangat layak dan aman untuk diaplikasikan pada struktur bangunan ringan,” terang Niniek.
Secara teknis, Eco-Cooler bekerja melalui desain ventilasi yang mengandalkan prinsip aerodinamika untuk menurunkan suhu ruang secara alami. Dengan mekanisme tersebut, rumah tetap terasa sejuk meskipun berada pada kondisi cuaca panas, sehingga dapat menekan penggunaan pendingin ruangan (AC) yang boros energi listrik.
Inovasi ini menjadi wujud nyata penerapan konsep ekonomi sirkular. Penelitian tersebut tidak hanya menawarkan solusi atas persoalan limbah pertanian di Gorontalo, tetapi juga menghadirkan produk bernilai tambah tinggi yang mendukung efisiensi energi serta pengembangan bangunan tropis berkelanjutan.









