
PROSESNEWS.ID – Senja belum sepenuhnya turun ketika langkah-langkah para pejabat, legislator, dan tokoh masyarakat memenuhi Hulondalo Ballroom (24/2/2026). Aroma hidangan berbuka puasa berpadu dengan suasana khidmat. Di ruang itulah, satu tahun kepemimpinan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie direfleksikan, bukan sebagai perayaan kekuasaan, melainkan sebagai jeda untuk merenung.
Bagi Gusnar, setahun bukan sekadar hitungan waktu, namun rangkaian keputusan, perdebatan, dan harapan rakyat yang tak pernah berhenti mengetuk pintu pemerintah.
Menariknya, Gusnar tidak langsung berbicara tentang capaian. Ia justru memulai dengan sebuah pertanyaan yang sederhana, namun mendalam. Apakah pemerintah sudah benar-benar mampu menjawab ekspektasi masyarakat yang kian hari kian tinggi?
Pertanyaan itu, menurutnya, menjadi titik tolak dari seluruh kebijakan yang dirumuskan selama setahun terakhir. Diskusi panjang bersama DPRD, koordinasi lintas OPD, hingga komunikasi intens dengan pemerintah pusat lahir dari kesadaran bahwa pembangunan tak bisa berjalan sendiri. Pembangunan menuntut kebersamaan, kepercayaan, dan keberanian untuk terus mengevaluasi diri.
Dalam perjalanan itu, Gorontalo mencatatkan capaian yang tak sedikit. Di tengah keterbatasan fiskal, provinsi ini justru mencuri perhatian nasional dengan menempati peringkat pertama pengelolaan pendapatan daerah dan peringkat kelima pengelolaan belanja daerah. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa tata kelola keuangan mulai menemukan ritmenya.
Namun bagi Gusnar, keberhasilan tersebut bukanlah tujuan akhir. Kepercayaan pemerintah pusat yang berhasil diraih menjadi pintu masuk bagi berbagai program strategis nasional. Dari makan bergizi gratis, sekolah rakyat, hingga penguatan ketahanan pangan, pertanian, peternakan, dan UMKM, semuanya diarahkan pada satu tujuan besar, yakni menjaga denyut pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan kemiskinan.
Malam semakin larut ketika refleksi itu berakhir. Namun pesan yang tertinggal justru terasa semakin terang. Setahun kepemimpinan Gusnar-Idah adalah kisah tentang ikhtiar yang belum selesai. Tentang pemerintah yang terus belajar mendengar, menimbang, dan melangkah bersama rakyatnya.
Harapan besar itu masih dijaga, untuk mewujudkan “Gorontalo Maju dan Sejahtera”!
Prosesnews.id//Gunawan












