
PROSESNEWS.ID – Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) menjadi tempat yang nyaman bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang. Hal tersebut dirasakan oleh Greis Kristina Yoolut, mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang berasal dari Sulawesi Tengah.
Greis mengaku sempat diliputi keraguan saat memutuskan melanjutkan pendidikan di UMGO. Sebagai mahasiswa non-Muslim yang berasal dari kalangan minoritas, ia sempat mempertanyakan bagaimana suasana dan lingkungan kampus yang akan dihadapinya.
Namun, pengalaman selama menjalani perkuliahan justru mengubah pandangannya. Menurutnya, UMGO menghadirkan lingkungan akademik yang inklusif, hangat, dan penuh rasa kekeluargaan.
Ia mengatakan, dukungan yang diberikan oleh teman-teman maupun para dosen membuatnya merasa diterima dan nyaman selama menempuh pendidikan.
“Selama berada di kampus, rangkulan dari teman-teman dan para dosen sangat terasa. Saya bangga menjadi bagian dari Universitas Muhammadiyah Gorontalo,” ujar Greis dalam pesan dan kesannya.
Mahasiswi yang merantau dari Sulawesi Tengah ke Gorontalo tersebut menilai UMGO bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi ruang untuk bertumbuh, membangun relasi, dan belajar menghargai perbedaan.
Pengalaman yang dirasakan Greis menjadi gambaran bahwa keberagaman di lingkungan kampus dapat tumbuh seiring dengan semangat saling menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan. Bagi Greis, rasa nyaman dan kekeluargaan yang ia rasakan selama berkuliah menjadi alasan mengapa ia bangga menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Muhammadiyah Gorontalo.













