
PROSESNEWS.ID – Di tengah keterbatasan fiskal dan tantangan ekonomi nasional yang belum sepenuhnya pulih, Provinsi Gorontalo justru mencatat lompatan pertumbuhan yang mengejutkan. Pada Triwulan I tahun 2026, daerah paling utara di Pulau Sulawesi itu tumbuh hingga 7,68 persen, melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 5,61 persen.
Angka tersebut bukan hanya menjadi capaian tertinggi Gorontalo dalam lima tahun terakhir, tetapi juga menempatkan daerah ini sebagai salah satu wilayah dengan pertumbuhan ekonomi paling progresif di kawasan Sulawesi.
Di balik capaian itu, Gusnar Ismail Gubernur Gorontalo mulai menjadi pusat perhatian. Kepemimpinannya dinilai berhasil menghadirkan ritme baru dalam pembangunan daerah, menggerakkan sektor-sektor produktif, dan membangun optimisme ekonomi di tengah keterbatasan anggaran.
Banyak pihak mulai melihat Gusnar bukan sekadar kepala daerah administratif, melainkan maestro yang mampu membaca momentum ekonomi Gorontalo secara tepat. Dengan APBD yang hanya berkisar Rp1,5 triliun, Gorontalo justru mampu menciptakan pertumbuhan yang melampaui ekspektasi.
Di tangan Gusnar, pembangunan tidak hanya bertumpu pada proyek-proyek besar, tetapi pada bagaimana denyut ekonomi masyarakat dapat bergerak serentak. Sawah tetap produktif, perdagangan terus hidup, investasi mulai masuk, dan sektor-sektor baru perlahan tumbuh menjadi penggerak ekonomi daerah.
Pertanian masih menjadi tulang punggung utama Gorontalo. Hamparan sawah, perkebunan jagung, dan hasil perikanan menjadi sumber penghidupan ribuan masyarakat desa. Namun di saat yang sama, sektor perdagangan dan konstruksi ikut mengalami pertumbuhan signifikan, menciptakan perputaran ekonomi yang semakin terasa hingga ke tingkat bawah.
Sektor pertambangan dan penggalian juga mulai menunjukkan geliat yang kuat. Aktivitas industri pengolahan, transportasi, dan pergudangan tumbuh positif, menandai bahwa struktur ekonomi Gorontalo mulai bergerak lebih dinamis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Pertumbuhan itu semakin kuat karena didorong oleh meningkatnya aktivitas ekspor yang menjadi salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi daerah. Perlahan, Gorontalo mulai membangun identitas baru sebagai daerah yang tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai berani melesat.
Di bawah kepemimpinan Gusnar, arah pembangunan terlihat fokus pada penguatan sektor riil dan ekonomi masyarakat. Program-program nasional dimanfaatkan sebagai peluang untuk menciptakan efek ekonomi berantai hingga ke desa-desa.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, dipandang mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru karena mendorong kebutuhan besar terhadap komoditas pangan lokal. Petani, nelayan, peternak, hingga pelaku UMKM mulai menjadi bagian dari rantai ekonomi yang lebih luas.
Sementara program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih diproyeksikan memperkuat ekonomi kerakyatan dan menjaga perputaran usaha masyarakat di tingkat bawah tetap hidup.
Momentum pertumbuhan itu juga diperkirakan semakin menguat menjelang pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVII pada Juni mendatang. Puluhan ribu peserta dari berbagai daerah akan datang ke Gorontalo, membawa dampak ekonomi besar bagi sektor jasa, perdagangan, transportasi, hingga pelaku UMKM lokal.
Hotel, rumah makan, pasar tradisional, hingga usaha kecil masyarakat diprediksi akan ikut merasakan efek dari perputaran ekonomi tersebut.
Di tengah geliat itu, angka 7,68 persen akhirnya menjadi lebih dari sekadar statistik. Berubah menjadi simbol tentang bagaimana sebuah daerah kecil mampu bergerak cepat ketika kepemimpinan, arah pembangunan, dan momentum ekonomi berjalan dalam irama yang sama.
Dan di tengah irama itu, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail perlahan tampil sebagai tokoh yang memainkan peran atas lonjakan ekonomi Gorontalo yang kini mulai mencuri perhatian nasional.
Penulis: Gunawan













