
PROSESNEWS.ID — Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga (Disparekrafpora) Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, menegaskan bahwa Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026 bukan sekadar perhelatan budaya, tetapi harus menjadi ruang strategis untuk memperkuat identitas daerah sekaligus menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Menurut Sultan, Karawo memiliki posisi penting sebagai salah satu identitas budaya Gorontalo yang harus terus diperkenalkan dan dikembangkan. Melalui Karnaval Karawo, kekayaan budaya tersebut diharapkan semakin dikenal masyarakat luas sekaligus mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Gorontalo.
“Karawo ini bukan hanya sebuah kerajinan. Karawo adalah identitas budaya kita. Karena itu, melalui Karnaval Karawo kita ingin memperkuat identitas tersebut sekaligus menjadikannya sebagai daya tarik wisata Gorontalo,” ujar Sultan.
Ia menilai penyelenggaraan GKK 2026 memiliki nilai strategis karena tidak hanya menampilkan seni dan budaya, tetapi juga melibatkan masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif secara langsung.
Sebanyak 265 UMKM lokal turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Selain itu, para pegiat food street juga mendapatkan ruang untuk memperkenalkan produk kuliner kepada masyarakat dan wisatawan.
Sultan mengatakan keterlibatan ratusan UMKM tersebut menjadi bukti bahwa event pariwisata dan budaya dapat memberikan ruang promosi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Harapan kita, Karnaval Karawo ini tidak hanya menjadi tontonan. Tetapi juga menjadi ruang promosi bagi UMKM, baik kuliner maupun kerajinan tangan. Dengan begitu, event ini bisa memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat,” katanya.
Menurut Sultan, promosi produk lokal melalui event berskala besar dapat membantu pelaku UMKM memperluas pasar. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati rangkaian acara, tetapi juga dapat mengenal berbagai produk unggulan yang dihasilkan masyarakat Gorontalo.
Karena itu, ia mendorong agar sinergi antara sektor pariwisata, budaya, UMKM dan ekonomi kreatif terus diperkuat.
“Ketika wisatawan datang, mereka bukan hanya melihat karnaval. Mereka juga bisa menikmati kuliner kita, membeli kerajinan, dan mengenal produk-produk lokal. Ini yang ingin kita bangun,” jelasnya.
Selain itu, Sultan juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pengembangan ekonomi kreatif.
Menurutnya, generasi muda memiliki kreativitas dan kemampuan inovasi yang dapat menjadi kekuatan baru dalam mengembangkan potensi budaya lokal.
Karawo, kata Sultan, harus mampu dikembangkan mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dan identitas budayanya.
“Kita ingin memberikan ruang bertumbuh bagi generasi muda. Mereka jangan hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi pelaku dalam ekonomi kreatif,” ujarnya.
Ia menilai generasi muda dapat mengambil peran dalam berbagai subsektor, mulai dari fesyen, desain, kuliner, kriya, fotografi, konten digital, hingga pemasaran produk lokal.










