Prosesnews.id
  • Home
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Tenggara
    • Sumatera Utara
    • Jawa Timur
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Traveling
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Tenggara
    • Sumatera Utara
    • Jawa Timur
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Traveling
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prosesnews.id
No Result
View All Result
Home Daerah Gorontalo

Masih Mau Anggap Urusan Agraria Tidak Penting?

Editor by Editor
30 Apr 2020 15:05
in Gorontalo

Oleh : Azman Asgar

KITA sepakati saja bahwa hal lain yang mengancam di tengah Covid-19 adalah masalah agraria atau ketersediaan pangan dan peperangan, Malthus menyebutnya tiga bersaudara, Pandemi, Pangan dan Perang.

Tidak ada jaminan kepastian kapan pandemi ini akan berakhir, semua hanya sebatas prediksi, kecuali vaksin Covid-19 itu sudah benar-benar layak diaplikasikan ke manusia, tapi itu belum bisa tersedia 2-3 bulan kedepan, kemungkinan besar di tahun berikutnya.

Sore tadi saya berkesempatan mengikuti diskusi webiner yang mengangkat persoalan Covid-19 dan tenaga kerja di perusahaan raksasa PT.IMIP Morowali. Selain mendiskusikan persoalan tekhnis terkait ancaman dan kesiapan Pemda setempat dalam melindungi para pekerja dari penularan Covid-19, lingkungan dan ketersediaan pangan juga terselip dalam percakapan kami.

Salah seorang peserta diskusi memberi semacam diktum, begini bunyinya “Tim medis adalah garda terdepan, sementara petani adalah benteng pertahanan”.

Saya sangat sependapat dengan kalimat itu, selain garda depan, kita memang butuh benteng pertahanan hadapi pandemi Covid-19. Ibarat di sepak bola, soliditas penyerang dan pertahanan menjadi kunci kuatnya sebuah tim.

Jujur saja, ada banyak aib negara yang dipertontonkan saat pendemi Covid-19 ini mulai menyebar, mulai dari buruknya kordinasi, tumpang tindih kebijakan, fasilitas kesehatan yang buruk dsb.

Setelah kita sibuk bicara soal garda depan, kini kita mulai sibuk benahi pertahanan yang mulai rapuh. Terbukti, istana baru saja menginstruksikan kepada semua BUMN untuk membantu mempercepat percetakan sawah baru. Ini tidak main-main, signal dari Food and Agriculture Organization (FAO) tentang ancaman krisis pangan, bisa terjadi di tengah ketidak pastian kapan cerita Covid-19 ini akan berakhir.

Jika merujuk data yang di rilis oleh pemerintah, ada 7 Provinsi yang defisit beras, 11 Provinsi defisit Jagung, 23 Provinsi defisit cabai dan 22 Provinsi defisit gula pasir di situasi pandemi, belum lagi gelombang PHK terus meningkat tajam.

Jika kondisi ini terus memburuk, bukan tidak mungkin potensi kerusuhan juga terbuka lebar ketika stok pangan kita sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Dalam skala global, banyak fakta yang menjelaskan bahwa urusan pangan bisa menimbulkan perang paling mematikan.

Kalau kita menoleh kebelakang dalam melihat problem pangan yang terjadi, data dari pusat penelitian kedaulatan pertanian (PAKTA) Universitas Gadja Mada juga penting menjadi alasan mengapa pemerintah begitu cemas, jika merujuk pada data ATR/BPN 2018, angka alih fungsi lahan kita begitu signifikan dari 7,75 juta ha (2013) menjadi 7,1 juta ha (2018), Indonesia mengalami defisit lahan produktif sekitar 60 ribu ha pertahunnya. Jika demikian berarti ada sekitar 350 ribu ha sawah yang hilang dalam lima tahun terakhir, ini benar-benar masalah serius dalam urusan pangan kita.

Kalau kita pakai hitungan 5 ton hasil produksi per hektarnya, berarti ada sekitar 300-350 ton produksi kita yang hilang setiap masa panen, ini belum terhitung dengan ancaman lain seperti Organisme Pengganggu Tanaman (OTG) yang bisa menyerang tanaman pada masa tanam maupun jelang masa panen.

Masifnya alih fungsi lahan karena investasi yang ugal-ugalan harus berani kita akui sebagai aib di negara ini, tak perlu malu mengatakannya sebagai bahan evaluasi bersama, utamanya para pemangku kebijakan.
Kita seperti menutupi kebenaran lalu bersembunyi di balik kalimat hiperbolik “investasi itu penting”.

Covid-19 ini memaksa negara harus membuka aibnya dalam soal Agraria, pandemi ini harus menjadi titik balik bagi pemerintah untuk lebih serius mengurusi sektor pertanian. Pandemi ini membuat kita harus mengecek kembali seperti apa “jalan lurus” Reforma Agraria, sebab di situ letak utama program dasar pembangunan ekonomi kita di masa mendatang.

Di tengah pandemi seperti ini, terbukti bahwa perkebunan sawit berskala besar dan industri pertambangan milik korporasi justru tidak bisa memberi pertolongan sama sekali, kedua sektor yang kini lagi digandrungi itu terbukti tak bisa menjadi pertahanan sebuah negara di tengah bencana alam maupun non alam.

Negara jangan lagi meremehkan persoalan agraria di tanah air, problem kita tidak terletak pada hal-hal tekhnis seperti kualitas SDM petani, jarak tanam dll, tapi dipijakan dasarnya, yakni penguasaan tanah (sebagai alat produksi) oleh segelintir orang dan korporasi.

Benahi persoalan agraria kita, kaidah “menguasai” dalam pasal 33 UUD 45 tidak boleh ditafsirkan dimiliki oleh negara, tapi negara berkewajiban mendistribusikan tanah ke masyarakat seperti perintah UU PA 1960 demi kepentingan dan kesejahteraan banyak orang, bukan sekedar legalisasi aset dalam bentuk bagi-bagi sertifikat.

Kita tidak akan bisa menjelaskan hal-hal tekhnis dalam teori-teori kontemporer ilmu pertanian jika tidak pernah merombak sutruktur penguasaan atas tanah (sebagai alat produksi) itu sendiri, sekali lagi, disitulah letak problem pelik urusan agraria dan pangan kita. Kedepan, pangan dan energi akan menjadi kunci kekuatan sebuah Negara, maju dan tidaknya sebuah bangsa, tergantung dari dua hal tersebut.

Bangsa ini tidak sedang kehilangan petani, tapi memaksa petani untuk menghilang dengan sendirinya. Kehilangan tanah, tak ada perlindungan harga, kurangnya subsidi dan masifnya Industri pertambangan & perkebunan membuat para benteng pertahanan itu harus meninggalkan perannya sebagai subjek pertahanan.

Tetapi, saat ini kita harus menambal aib itu dengan optimisme, tak ada guna mengutuk itu semua di saat ribuan bahkan puluhan ribu orang terjangkit Corona virus, yang kita butuhkan sekarang adalah kerjasama dan menggalang solidaritas kemanusiaan dalam memutus rantai penularan Covid-19, hanya itu kunci mengakhiri pandemi ini.

Dalam sektor agraria, negara tidak boleh ingkar pada konstitusinya sendiri, tidak cukup hanya dengan menggerakkan BUMN untuk mencetak sawah baru, tapi harus memberikan lahan yang diklaim milik negara untuk menjadi wadah garapan kolektif petani kita sembari tunjang dengan teknologi pertanian, modal dan perlindungan harga beli produksi petani.


Penulis adalah Alumni Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat Palu yang juga Ketua PRD Kota Palu

Tags: AgrariaBUMNCovid-19ekonomiIndonesiaPBNpertanian
ShareTweetSendSharePin

Berita Terkait

Rekor Buruk: Empat Komoditas Pokok Termahal, Pemprov Gorontalo Dituntut Segera Bertindak

by Editor
25 Jul 2026
0

PROSESNEWS.ID - Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per Jumat, 24 Juli 2026, mencatat kondisi yang semakin memprihatinkan...

Dalam 1 Tahun Jumlah Masyarakat Miskin Gorontalo Turun 0,58 Persen

by Rijal Zulkarnaen
9 Agu 2024
0

PROSESNEWS.ID - Penduduk miskin di Provinsi Gorontalo pada Maret 2024 turun 0,58 persen dibandingkan pada bulan yang sama tahun 2023....

Musibah Gagal Panen, Nelson Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Terdampak

by Editor
23 Mar 2024
0

PROSESNEWS.ID - Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo menyerahkan bantuan berupa paket sembako kepada masyarakat yang terdampak krisis pangan di Desa Bunggalo...

Pasar Murah di DKI Tibawa Disambut Antusias Masyarakat

by Editor
4 Mar 2024
0

PROSESNEWS.ID — Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Gorontalo yang bekerja sama dengan Bulog dan Rumah Pangan Kita (RPK) menggelar pasar murah...

Tiba di Gorontalo, Menteri Parekraf Puji Wisata Kuliner

by Editor
27 Feb 2024
0

PROSESNEWS.ID — Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parakraf) Sandiaga Uno memuji sejumlah kearifan lokal Gorontalo yang dinilai terus meningkat dari...

Load More

Comments 2

  1. Sugeng Sutrisno says:
    6 tahun ago

    Tulisannya menarik. Mencerahkan. Mengulas persoalan Agraria dan ketahanan pangan Indonesia, tampak begitu rapuh.

    Reply
    • Editor says:
      6 tahun ago

      Terimakah sudah menghubungi prosesnews.id, silahkan berlangganan di portal web prosesnews.id agar anda mendapatkan permberitahuan berita terbaru.

      Reply

Komentar DonkBatalkan balasan

Trending

Hukum

Kasus di SDN 8 Sumalata, Kedua Belah Pihak Saling Memaafkan, tetapi Proses Hukum Tetap Berjalan

by Editor
4 Agu 2026
0

PROSESNEWS.ID – Polemik yang terjadi di SDN 8 Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara, terkait dugaan pencemaran nama baik terhadap Erni Dunggio...

Fakta Dugaan Pungli dan Pencemaran Nama Baik di SDN 8 Sumalata Terungkap

4 Agu 2026

Seorang Warga di Batudaa Pantai Diduga Dikeroyok hingga Tewas

2 Agu 2026
Potongan flayer FKPR

FKPR Minta Kejari Gorontalo Utara Transparan Tangani Dua Perkara Dugaan Korupsi

5 Agu 2026
Ketua Bapemperda DPRD Provinsi Gorontalo Syarifudin Bano, S.Sos

Bahasa Daerah Kian Tergerus, Bapemperda DPRD Gorontalo Siapkan Revisi Perda Pelestarian

4 Agu 2026

Kemenag Gorontalo Utara Benarkan Dugaan Pungli terhadap Guru, Tindaklanjuti Keterlibatan Oknum Pengawas

2 Agu 2026

TERBARU

Potongan flayer FKPR

FKPR Minta Kejari Gorontalo Utara Transparan Tangani Dua Perkara Dugaan Korupsi

5 Agu 2026

Bantuan Alsintan Bikin Petani Randangan Bisa Tanam Padi Tiga Kali Setahun

4 Agu 2026

Sawah Baru 879 Hektar di Pohuwato Mulai Ditanami, Produksi Padi Ditarget Terus Naik

4 Agu 2026

Musim Kemarau Panjang, Wagub Idah Minta Masyarakat Bijak Gunakan Air

4 Agu 2026

Pemprov Gorontalo Pangkas Harga Sembako, Warga Biluhu Bisa Belanja Sesuai Kebutuhan

4 Agu 2026
  • Home
  • Tentang
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

©2026 Prosesnews.id. All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • Daerah
    • Gorontalo
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Tenggara
    • Sumatera Utara
    • Jawa Timur
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Traveling
  • Opini
  • Infografis

©2026 Prosesnews.id. All Rights Reserved.