
PROSESNEWS.ID – Kemarau panjang yang melanda Gorontalo, khususnya Kabupaten Gorontalo, menjadi ujian berat bagi masyarakat. Hamparan sawah yang biasanya hijau mulai mengering, tanah retak akibat minimnya curah hujan, dan banyak tanaman pertanian mengalami gagal panen. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada hasil pertanian, tetapi juga mengancam mata pencaharian serta kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Gorontalo mengambil langkah dengan menggelar salat istisqa sebagai bentuk ikhtiar bersama memohon turunnya hujan. Salat tersebut dijadwalkan dilaksanakan secara serentak di seluruh kecamatan pada Jumat, 31 Juli 2026.
Bagi masyarakat yang beriman, salat istisqa bukan sekadar ritual keagamaan. Ibadah ini menjadi pengakuan bahwa di balik seluruh kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemampuan manusia dalam mengelola alam, tetap ada kuasa Sang Pencipta yang tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Kemarau mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Irigasi dapat dibangun, bendungan dapat dibuat, dan berbagai teknologi pertanian dapat dikembangkan. Namun, ketika langit berhenti menurunkan hujan dalam waktu yang panjang, manusia menyadari bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan kemampuan sendiri.
Momentum salat istisqa menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan merupakan perpaduan antara ikhtiar dan doa. Bekerja keras adalah kewajiban, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Kesadaran inilah yang menjadi makna terdalam dari pelaksanaan salat istisqa.
Di sisi lain, kemarau panjang juga menjadi pengingat agar manusia lebih bijaksana dalam memperlakukan alam. Menjaga hutan, melestarikan sumber mata air, menggunakan air secara hemat, serta tidak merusak lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Alam yang terjaga akan memberikan manfaat bagi kehidupan, sedangkan kerusakan lingkungan dapat memperbesar risiko bencana, termasuk kekeringan.
Bagi para petani, hujan bukan sekadar tetesan air dari langit. Hujan adalah harapan. Hujan adalah kehidupan yang menghidupkan kembali sawah, ladang, dan kebun yang mulai mengering. Setiap tetes hujan membawa harapan akan panen yang lebih baik serta keberlangsungan ekonomi keluarga.
Pelaksanaan salat istisqa secara serentak di seluruh kecamatan di Kabupaten Gorontalo diharapkan menjadi doa bersama yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat. Dalam kebersamaan itu, tidak ada perbedaan kedudukan sosial, jabatan, maupun profesi. Semua berdiri sejajar sebagai hamba yang memohon rahmat dan pertolongan dari Allah SWT.
Peristiwa ini mengandung pelajaran yang sangat berharga. Ketika alam memberikan ujian, manusia belajar tentang kerendahan hati. Ketika hasil panen menurun, manusia belajar tentang kesabaran. Ketika hujan tak kunjung turun, manusia belajar bahwa kehidupan tidak hanya bergantung pada kekuatan tangan, tetapi juga pada rahmat Tuhan.
Kemarau mungkin akan berlalu, dan hujan pada akhirnya akan kembali membasahi bumi Gorontalo. Namun, nilai yang seharusnya tetap tertanam adalah kesadaran bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari alam yang harus menjaganya dengan penuh tanggung jawab. Di tengah keterbatasan itulah, doa, ikhtiar, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi bekal untuk menjaga keberlangsungan kehidupan serta kesejahteraan bersama.
Sebagai informasi, pelaksanaan salat istisqa tersebut mengacu pada Surat Pemberitahuan Nomor 400/878/Bag.Kesra. Salat akan dilaksanakan secara serentak di masing-masing kecamatan di Kabupaten Gorontalo pada Jumat, 31 Juli 2026.













