
PROSESNEWS.ID — Menjelang perayaan Lebaran Ketupat yang dirayakan satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri, masyarakat Desa Reksonegoro, Kecamatan Tibawa, mulai disibukkan dengan berbagai persiapan. Salah satunya adalah pembuatan dodol secara tradisional.
Pembuatan dodol tersebut masih mempertahankan cara turun-temurun yang membutuhkan waktu dan tenaga ekstra. Salah seorang warga, Djafar Nurkamiden, menjelaskan tahapan pembuatan dodol yang dimulai dari pengolahan bahan dasar beras ketan.
“Beras ketan direndam sekitar setengah jam, lalu ditiriskan sampai agak kering. Setelah itu digiling menjadi tepung,” ujarnya.
Selanjutnya, gula merah dimasak hingga mendidih. Tepung ketan kemudian dicampur dengan santan kelapa sebelum dimasukkan ke dalam larutan gula merah yang sedang dimasak. Proses pengadukan dilakukan secara terus-menerus hingga adonan mengental dan matang.
Menurut Djafar, untuk menghasilkan dodol dalam jumlah besar, proses memasak membutuhkan waktu yang cukup lama. “Kalau sekitar 10 kilogram tepung ketan, itu bisa memakan waktu 7 sampai 8 jam,” katanya.
Ia juga menjelaskan perbandingan bahan yang digunakan, yakni 1 kilogram tepung ketan dicampur dengan 2 kilogram gula merah dan 2 butir kelapa. Dengan komposisi tersebut, jika menggunakan 10 kilogram tepung ketan, maka diperlukan sekitar 20 kilogram gula merah dan 20 butir kelapa.
Setelah matang, dodol diangkat dan didinginkan semalaman sebelum dibungkus menggunakan daun woka. Dalam sekali produksi dengan 10 kilogram tepung ketan, dodol yang dihasilkan dapat mencapai sekitar 200 potong ukuran sedang atau hingga 700 potong ukuran kecil.
Pembuatan dodol ini menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat setempat dalam menyambut Lebaran Ketupat. Selain sebagai hidangan khas, dodol juga menjadi simbol kebersamaan dan pelestarian budaya.













