
PROSESNEWS.ID – Tudingan Rustam Akili soal keengganan Gubernur Gorontalo dalam melakukan silaturahim bersama Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi) dan menyebut Wakil Gubernur yang justru membantu terbentuknya L2Dikti di Gorontalo mendapat respon dari Puncak Botu. Noval Abdussamad selaku Juru Bicara Gubernur Gorontalo menanggapi santai pernyataan Rustam Akili tersebut.
Seperti rilis yang diterima redaksi, Noval menyebut kedudukan Wakil Gubernur dalam peraturan perundang-undangan dan manajemen kepemimpinan yang menyatakan bahwa salah satu tugas Wakil Gubernur adalah membantu Gubernur dalam pelaksanaan urusan pemerintahan.
“Tugas wakil gubernur itu membantu gubernur, itu tanggungjawab wakil gubernur. Jadi ada distribusi peran dari gubernur untuk wakil gubernur, itu baik dalam kerangka pemerintahan bahwa ada kesatuan dan sinergitas antara gubernur dan wakil gubernur. Contohnya semasa menjabat Ketua DPRD dulu kan Pak Rustam pernah mendelegasikan peran ke Wakil Ketua,” Terangnya.
Dijelaskannya, motif dibalik pernyataan Rustam Akili tersebut, Noval mengaku sangat memahami maksud dan tujuan Rustam Akili tersebut. Namun merasa tidak terlalu penting untuk ditanggapi secara serius. Noval beralasan bahwa Rustam Akili tidak memiliki pengalaman memimpin daerah sehingga tidak paham kerja-kerja dari kepala daerah.
“Bersangkutan kan belum teruji, tidak memiliki pengalaman sebagai kepala daerah, hanya sebatas mencalonkan saja, jadi ya tidak paham lah soal kerja-kerja kepala daerah, biasalah, dibalik kesuksesan pasti ada yang tidak sukses, yang bersangkutan kan tidak pernah sukses menjadi kepala daerah,” bebernya.
Diakhir pernyataannya, Noval berharap momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 75 ini mampu membawa kita pada loncatan pemikiran yang positif bagi kemajuan daerah, tidak terbelenggu dengan kelamnya masa lalu.
“Kita baru saja merayakan Hari Kemerdekaan, harus mampu menjiwai semangat dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan, saat ini kita harus mengisi kemerdekaan dengan prestasi dan karya nyata untuk kemajuan bangsa dan negara khususnya daerah yang kita cintai bukan untuk menjadi demagog atau penghasut,” pungkasnya. (rls)















