
PROSESNEWS.ID – Di balik keras dan tandusnya batu kapur di wilayah karst Gorontalo, tersimpan kehidupan mikroorganisme yang memiliki peran penting bagi ekosistem.
Makhluk hidup bersel tunggal ini hidup di bawah permukaan tanah karst yang ekstrem. Meski tak kasatmata, keberadaannya mampu membantu tanaman bertahan hidup hingga tumbuh subur di lingkungan yang minim unsur hara.
Ekosistem karst sendiri terbentuk dari batuan karbonat seperti batu kapur yang mengalami pelarutan secara alami dalam waktu jutaan tahun. Lanskap ini umumnya ditandai dengan kondisi tanah berbatu, kering, serta memiliki tingkat kesuburan rendah.
Namun, di balik kondisi tersebut, tersimpan kekayaan mikrobiologis yang signifikan. Mikroorganisme yang hidup di dalamnya telah beradaptasi selama ribuan tahun dan mengembangkan kemampuan biokimia yang berpotensi dimanfaatkan bagi kepentingan manusia, termasuk dalam bidang pertanian berkelanjutan.
Sejumlah peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan kajian terhadap mikroorganisme di beberapa kawasan karst, di antaranya Bukit Bangga di pesisir Bangga Bubaa, Kabupaten Boalemo, kawasan sekitar Danau Limboto, serta Bukit Pantai Oluhuta di Kabupaten Bone Bolango.
Dalam penelitian tersebut, tim mengambil sampel tanah pada kedalaman 15 hingga 30 sentimeter, tepat di zona akar tanaman. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun kondisi lingkungan tampak keras dan seragam, kawasan karst Gorontalo memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi.
Sebanyak 36 sampel tanah dikumpulkan dari 33 jenis tanaman yang tumbuh di wilayah tersebut. Vegetasi yang ditemukan beragam, mulai dari pakis, lamtoro, alang-alang, hingga tanaman semak lainnya yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan ekstrem.
Temuan ini menegaskan bahwa ekosistem karst bukan sekadar kawasan tandus, melainkan menyimpan potensi besar yang perlu terus diteliti dan dimanfaatkan secara berkelanjutan, khususnya dalam mendukung ketahanan lingkungan dan pertanian di masa depan.













