
PROSESNEWS.ID — Di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang datang dan pergi di terminal, sosok Ibu Asna Utina (50) tampak berjalan perlahan dari satu bus ke bus lainnya.
Di tangannya, tersusun rapi lemper dagangan yang menjadi sumber penghidupan sehari-hari.
Setiap hari, ia menunggu bus-bus yang transit, lalu menawarkan jualannya kepada para penumpang. Tidak ada kepastian berapa banyak yang akan terjual.
Terkadang dagangannya habis, namun tak jarang pula ia harus pulang dengan sisa yang masih banyak.
“Kalau lagi sepi, cuma bisa pasrah,” begitu kira-kira yang tergambar dari kesehariannya.
Perjalanan hidup Ibu Asna bukanlah cerita singkat. Ia telah berjualan sejak anaknya masih berusia tiga tahun. Kini, waktu telah berlalu begitu panjang—anaknya telah tumbuh dewasa, bahkan ia telah memiliki tiga orang cucu.
Namun, langkahnya tetap sama: menyusuri terminal, menjajakan lemper demi menyambung hidup.
Di balik usahanya, tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi. Penolakan dari calon pembeli menjadi hal yang biasa. Bahkan, perlakuan kurang menyenangkan kerap ia terima. Meski demikian, Ibu Asna memilih untuk tetap bertahan.
Bagi sebagian orang, terminal hanyalah tempat singgah. Namun, bagi Ibu Asna, tempat itu adalah ruang perjuangan—tempat harapan dan kenyataan berjalan beriringan, meski tak selalu sejalan.
Kisahnya menjadi potret nyata tentang kerasnya kehidupan yang dijalani masyarakat kecil.
Di usia yang tidak lagi muda, ia masih harus mengandalkan tenaga untuk bertahan. Tidak ada jaminan dan kepastian, hanya tekad untuk terus melangkah.
Di tengah segala keterbatasan, Ibu Asna tidak berhenti. Sebab baginya, berhenti berarti menyerah pada keadaan, sementara hidup harus terus diperjuangkan, sekecil apa pun langkahnya.












