
PROSESNEWS.ID – Saat anak-anak seusianya sibuk bermain, bercita-cita, dan menikmati masa kecil yang penuh warna, Dilon justru harus belajar memahami kerasnya kehidupan lebih cepat dari usianya.
Bocah berusia 12 tahun itu setiap hari bekerja sebagai kernet perahu yang melayani penumpang menuju Torsiaje. Dengan tubuh kecilnya, Dilon membantu berbagai pekerjaan di atas perahu demi memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama neneknya.
Di rumah sederhana yang mereka tempati, hanya ada Dilon dan sang nenek yang telah lanjut usia. Nenek yang selama ini merawat dan membesarkannya kini sudah tidak mampu lagi bekerja. Kondisi itulah yang membuat Dilon memilih mengambil peran yang seharusnya belum menjadi tanggung jawab seorang anak seusianya.
Hasil dari pekerjaannya tidak pernah cukup untuk hidup bermewah-mewahan. Uang yang diperolehnya digunakan untuk membeli beras, memenuhi kebutuhan dapur, serta berbagai keperluan rumah tangga lainnya. Sebagian penghasilannya juga disisihkan untuk biaya sekolah dan uang jajan agar dirinya tetap bisa mengenyam pendidikan.
Yang membuat kisah Dilon semakin mengharukan adalah kenyataan bahwa kedua orang tuanya masih hidup dan telah memiliki rumah di Kota Gorontalo. Namun, sudah lama Dilon tidak tinggal bersama mereka.
Ia memilih tetap tinggal bersama neneknya. Bukan karena kehidupan yang lebih nyaman, melainkan karena rasa tanggung jawab yang begitu besar terhadap perempuan tua yang telah merawatnya sejak kecil.
“Kalo saya iko orang tua, tidak ada yang dengan saya pe nenek,” jelasnya sambil tersenyum kecil.
Baginya, meninggalkan nenek sama artinya dengan membiarkan sosok yang dicintainya menjalani hari-hari seorang diri tanpa kepastian.
Di tengah keterbatasan hidup, Dilon tetap berusaha menjalani semuanya dengan disiplin. Setiap pukul petang sekitar pukul tujuh, ia sudah berada di rumah dan memilih beristirahat lebih awal. Bukan karena ada yang memaksanya, melainkan karena ia harus bangun pagi untuk kembali bekerja.
Sementara anak-anak lain mungkin masih bermain atau menghabiskan waktu dengan telepon genggam, Dilon bahkan tidak memiliki telepon seluler maupun kendaraan bermotor. Dunia kecilnya hanya berisi sekolah, perahu, rumah, dan nenek yang selalu menunggunya pulang.
Namun, di balik semua keterbatasan itu, Dilon tidak pernah kehilangan semangat.
Ia tetap datang ke sekolah sebagai siswa kelas VI sekolah dasar. Ia tetap belajar sambil bekerja. Ia tetap bermimpi meskipun kehidupan tidak selalu berpihak kepadanya.
Kisah Dilon menjadi pengingat bahwa kekuatan seseorang tidak ditentukan oleh usia. Di balik tubuh kecilnya tersimpan keteguhan hati yang luar biasa. Saat banyak orang menyerah pada keadaan, Dilon memilih untuk bertahan. Saat banyak orang mencari kenyamanan, ia memilih menjaga orang yang dicintainya.
Mungkin hari ini Dilon hanya seorang kernet perahu kecil di sudut Gorontalo. Namun, semangat, pengorb00anan, dan ketulusannya telah mengajarkan pelajaran besar tentang arti kasih sayang dan tanggung jawab.
Semoga suatu hari nanti perjuangan bocah itu berbuah manis. Semoga langkah-langkah kecil yang ia tempuh setiap pagi menuju perahu akan mengantarkannya menuju masa depan yang lebih baik. Dan semoga tidak ada lagi air mata yang harus ia sembunyikan demi tetap terlihat kuat di hadapan nenek yang begitu ia sayangi.
Sebab sesungguhnya, di balik senyum sederhana Dilon tersimpan perjuangan besar yang mampu menginspirasi banyak orang.









