PROSESNEWS.ID – Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Gorontalo memperkuat sinergi pengendalian inflasi untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di tengah ancaman fenomena El Niño kategori sangat kuat. Kondisi ini menjadi perhatian bersama karena berpotensi memengaruhi sektor pertanian, ketersediaan pasokan, dan ketahanan pangan, termasuk di wilayah Gorontalo.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Bambang Setya Permana, menyampaikan bahwa berdasarkan data September 2026, inflasi tahunan Provinsi Gorontalo tercatat sebesar 5,46 persen (year-on-year/yoy), sedangkan inflasi kumulatif sejak Januari hingga September 2026 mencapai 4,44 persen (year-to-date/ytd).
Komoditas cabai rawit menjadi salah satu penyumbang utama inflasi pada September 2026, dengan andil sebesar 1,46 poin persentase. Perkembangan tersebut mendorong penguatan pemantauan harga dan pasokan komoditas pangan strategis yang banyak dikonsumsi masyarakat.
“Kami terus memantau harga komunitas-komunitas, yang paling banyak di konsumsi masyarakat Gorontalo. Bersamaan dengan itu TPID juga akan menggelar pangan murah, dan akan menggelar operasi pasar untuk mengintervensi harga pangan” jelas Bambang.
Bambang Satya juga mengatakan bahwa upaya pengendalian inflasi membutuhkan sinergi lintas sektor dan pelaksanaan langkah-langkah yang konsisten. Pengalaman TPID Gorontalo pada 2025 menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan tersebut.
Keberhasilan pengendalian inflasi sebelumnya mendapat pengakuan melalui penghargaan TPID Berkinerja Terbaik pada TPID Awards 2026. Capaian ini menjadi dorongan untuk terus meningkatkan efektivitas program pengendalian inflasi, khususnya dalam menghadapi risiko iklim dan dinamika pasokan pangan.
Komitmen tersebut, kata Bambang, diperkuat melalui konsolidasi strategi pengendalian inflasi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dalam forum Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Sulampua yang berlangsung pada 23 Oktober 2026 di Makassar.
Forum tersebut dihadiri Menteri Pertanian, Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, serta kepala daerah se-Sulawesi, Maluku, dan Papua. Pertemuan ini menjadi wadah untuk menyelaraskan langkah dalam menjaga ketersediaan pangan, memperkuat konektivitas distribusi, dan meningkatkan ketahanan pangan kawasan.
“Ke depan, TPID Gorontalo akan mengoptimalkan strategi pengendalian inflasi melalui kerangka 4K, yang mencakup Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif,” tambahnya.
Pada aspek keterjangkauan harga, upaya dilakukan melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar, dan bantuan pangan untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Pada aspek ketersediaan pasokan, langkah yang ditempuh meliputi gerakan menanam atau Agro Mopomulo di halaman rumah, perluasan Kerja Sama Antardaerah (KAD), serta dukungan sarana produksi pertanian untuk memperkuat produksi pangan.
Selanjutnya, aspek kelancaran distribusi diperkuat melalui fasilitasi distribusi pangan dari daerah surplus ke daerah yang mengalami kekurangan pasokan. Sementara itu, aspek komunikasi efektif dilaksanakan melalui koordinasi TPID, penyelenggaraan High Level Meeting (HLM) menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), pemantauan harga, inspeksi pasar, serta edukasi kepada masyarakat mengenai belanja bijak dan diversifikasi pangan.
Penguatan strategi tersebut diarahkan untuk mengantisipasi risiko tekanan harga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), sekaligus mempersiapkan kebutuhan pangan untuk Ramadan dan Idulfitri 2027. Pemantauan kecukupan stok komoditas strategis, perkembangan harga, dan kelancaran distribusi menjadi bagian penting untuk memastikan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, distributor, petani, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat efektivitas pengendalian inflasi. Selain intervensi pasar dan penguatan pasokan, langkah antisipatif juga diperlukan untuk menjaga kesinambungan distribusi pangan di tengah tantangan perubahan iklim.
Masyarakat diimbau untuk berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan serta memanfaatkan alternatif pangan yang tersedia, termasuk bahan pangan nonberas dan komoditas lokal lainnya sesuai preferensi konsumsi. Di sisi lain, pedagang dan distributor diharapkan turut menjaga kewajaran harga serta kelancaran pasokan.
Melalui penerapan strategi 4K secara konsisten dan kolaborasi seluruh pihak, TPID Gorontalo bersama Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas harga, memperkuat ketahanan pangan, serta mendukung daya beli dan kesejahteraan masyarakat, khususnya menjelang Nataru dan HBKN 2027.













