Opini  

Merawat Denyut Kebangsaan: Sumpah Pemuda di Tengah Disrupsi dan Ketimpangan

 

Oleh: Nurkhalid Nono

PROSESNEWS.ID – Sumpah Pemuda bukan sekadar arsip sejarah yang dibekukan dalam buku-buku usang, melainkan denyut nadi kebudayaan yang terus menuntut penafsiran ulang dari generasi ke generasi. Setiap hari membersamai denyut kehidupan masyarakat di akar rumput, saya melihat peristiwa 1928 sebagai sebuah mahakarya solidaritas organik, sebuah lompatan kesadaran ketika identitas primordial dilebur ke dalam satu rahim kolektif bernama Indonesia. Di tengah zaman yang kian terdisrupsi oleh kesendirian digital dan pragmatisme akut, refleksi atas Sumpah Pemuda hari ini memanggil kita untuk kembali merajut tenun kebangsaan yang mulai berserak.

Jika Emile Durkheim memandang solidaritas lahir dari kesamaan, maka Sumpah Pemuda adalah manifestasi tertinggi dari kesadaran kolektif yang justru menemukan kekuatannya di atas keragaman struktur sosial. Namun, refleksi hari ini menuntut kita untuk jujur melihat realitas. Hari ini, pemuda sering kali direduksi menjadi sekadar demographic bonus atau komoditas elektoral, alih-alih subjek sejarah yang otonom.

Di ruang-ruang sosial kita, baik di perkotaan metropolitan maupun di wilayah-wilayah penyangga industri dan pedesaan, ketimpangan akses masih menjadi dinding tebal yang membatasi mimpi anak muda. Semangat membangun bangsa tidak lagi cukup diteriakkan melalui retorika mimbar. Ia menuntut kehadiran fisik di ruang-ruang publik untuk merawat nalar publik dan membersamai denyut kehidupan sesama lewat kerja-kerja kemanusiaan yang berakar pada kepedulian nyata.

Sebagaimana digariskan dalam karya-karya besar Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Buru atau refleksi tentang kesadaran kritis, perubahan sosial tidak pernah lahir dari ruang kosong. Buku dan literasi adalah jangkar yang menjaga agar akal sehat kita tidak hanyut oleh arus disinformasi dan kebisingan digital. Membangun bangsa dengan tangan muda berarti menghidupkan kembali tradisi membaca, menulis, dan merekam realitas. Sebab, setiap gagasan yang dituliskan adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakpedulian.

Ketika anak muda membaca penderitaan sesamanya dan merumuskannya menjadi aksi nyata, di situlah Sumpah Pemuda hidup kembali secara substansial, bukan sekadar ritual seremonial tahunan yang kehilangan ruhnya. Bahwa anak muda tidak membahas masa lalu, ia menawarkan masa depan.

“Kita tidak harus berada di satu tempat selamanya. Namun, selama kaki masih menjejak bumi pertiwi ini, pastikan kita meninggalkan jejak kebaikan yang membuat masa depan berterima kasih pada hari ini.”

Sumpah Pemuda adalah janji abadi bahwa Indonesia bukan sekadar tempat lahir, melainkan sebuah ikhtiar bersama untuk terus dimanusiakan. Mari melangkah dengan kepala tegak, merawat solidaritas, dan membuktikan bahwa generasi muda hari ini adalah arsitek masa depan yang mencintai bangsanya lewat kerja-kerja nyata yang berdampak.

Tinggalkan Balasan