Kisah Pilu Buruh Kijang Pengangkut Stok Emas di Bonebol

Pasalnya, demi memenuhi kebutuhan keluarga, mereka harus rela setiap hari bolak-balik mengangkut karung-karung yang berisi stok emas mentah yang cukup berat dengan rata-rata beratnya mencapai 30 hingga 40 kilogram per karung.

PROSESNEWS.ID – Beginilah potret aktivitas buruh pengangkut bijih emas di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango (Bonebol), Gorontalo. Orang-orang menyebutnya kijang. Orang yang setiap harinya bekerja sebagai pengangkut bijih emas mentah ini kisahnya memang sangat memilukan.

Pasalnya, demi memenuhi kebutuhan keluarga, mereka harus rela setiap hari bolak-balik mengangkut karung-karung yang berisi stok emas mentah yang cukup berat dengan rata-rata beratnya mencapai 30 hingga 40 kilogram per karung.

Ketika Posesnews.id menyambangi lokasi tersebut,  melihat, tak hanya itu beban berat yang diangkut, tetapi para buruh kijang ini juga harus menempuk perjalanan yang cukup jauh untuk mencapai tempat pengolahan emas. Para buruh kijang ini rela menempuh perjalanan 7 sampai 8 kilometer dengan melewati hutan dan medan yang cukup ekstrem.

Meski mengakut stok berpuluh-puluh kilogram emas, ternyata upah buruh kijang ini tak sepadan dengan pekerjaan yang mereka lakoni selama ini. Upahnya per karung tidak mencapai harga 1 gram emas. Mereka hanya dihargai Rp 22 ribu setiap mengangkut satu karung.

Pasrah Pada Nasib

Buruh kijang pengangkut stok emas di Bone Bolango/Prosesnews.id

Salah seorang buruh kijang, mengatakan bahwa pekerjaan ini memang sudah lama digeluti semenjak tambang rakyat di Kecamatan Suwawa itu dibuka.

“Mau bagaimana lagi, demi menghidupi keluarga pekerjaan ini memang sudah bertahun-tahun kami kerjakan,” ujar bapak dengan dua orang anak ini.

Ia menambahkan, setiap harinya dia hanya bisa mengangkut 3 sampai 4 karung per hari karena kondisinya yang sudah tua.

“Medan yang berat dan bahaya di tengah hutan sudah biasa bagi saya. Setiap harinya saat ini saya hanya bisa mengangkut paling banyak 4 karung dan itu hanya habis untuk kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.

Meski diberikan upah rendah, para buruh tetap melakoni pekerjaan itu. Bagi mereka rezeki memang sudah diatur oleh yang Maha Kuasa.

“Kondisi yang sudah tua begini mau kerja di mana lagi, tetap kami bertahan di sini. Meski berat dan berbahaya bagi, kami tetap tekun bekerja demi menyekolahkan anak kami,” dia menandaskan.(ndy)

Related articles

Dana Desa di Korupsi, Dewi Hemeto : Akibat Kurang Pengawasan

PROSESNEWS.ID – Maraknya korupsi dana desa d Gorontalo akhir-akhir ini menunjukkan minimnya pengawasan. Hal ini kurangnya melibatkan masyarakat dalam seluruh proses pengelolaan dana desa. Akibatnya, rentan terjadi tindak pidana korupsi. “Dari proses perencanaan, pengadaan, pelaksanaan hingga pertanggung jawaban harus diperbaiki. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *