PROSESNEWS.ID – Suasana berbeda terlihat dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Masjid Jami At-Taubah, Desa Pentadio Timur, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Selasa (1/9/2026).
Di tengah rangkaian ceramah agama dan prosesi Dikili, perhatian masyarakat tertuju pada kehadiran sejumlah tokoh yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pemerintahan di wilayah tersebut.
Sedikitnya empat mantan camat hadir dalam kegiatan itu, yakni Ismet Tuhala, Mulyadi Domili, Yudi Abdul Latif, dan Muhtar Potutu.
Keempatnya tampak berbaur dengan masyarakat dan mengikuti rangkaian kegiatan Maulid dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban.
Kepala Desa Pentadio Timur, Rahman Adam, mengatakan kehadiran para mantan camat dalam kegiatan tersebut bukan sekadar undangan biasa. Menurutnya, mereka merupakan bagian dari sejarah pemerintahan dan pelayanan masyarakat yang perlu terus dihargai.
“Kami sengaja mengundang para mantan camat sebagai bentuk penghargaan kepada mereka yang pernah memimpin wilayah ini. Selain itu, momentum Maulid ini kami jadikan sebagai kesempatan untuk mempererat kembali tali silaturahmi antara para tokoh dengan masyarakat,” ujar Rahman.
Bagi Rahman, berakhirnya masa jabatan seseorang tidak berarti berakhir pula hubungan dengan masyarakat dan wilayah yang pernah dipimpinnya.
Ia mengatakan, para mantan camat tetap memiliki tempat sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Pentadio Timur. Karena itu, silaturahmi dengan para tokoh terdahulu dinilai penting untuk terus dipelihara.
“Walaupun sudah tidak lagi menjabat, mereka tetap bagian dari keluarga besar masyarakat. Karena itu, kita ingin terus menjaga hubungan baik dan kebersamaan,” katanya.
Selain menjadi ajang silaturahmi, peringatan Maulid Nabi tahun ini juga dimaknai sebagai momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat.
Rahman mengingatkan agar Maulid tidak hanya dipandang sebagai kegiatan tahunan atau seremoni keagamaan.
“Maulid ini jangan hanya kita maknai sebagai kegiatan seremonial. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, bermasyarakat maupun dalam menjalankan amanah,” tutur Rahman.
Ia berharap nilai kebersamaan yang tercipta dalam kegiatan tersebut tidak berhenti setelah rangkaian Maulid selesai. Menurutnya, semangat persaudaraan dan silaturahmi perlu diwujudkan pula dalam kegiatan sosial maupun pembangunan di tingkat desa.
Peringatan Maulid Nabi di Masjid Jami At-Taubah diawali dengan ceramah agama. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi Dikili, tradisi khas Gorontalo yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat sebagai bagian dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Rahman pun memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan, mulai dari panitia, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga warga Desa Pentadio Timur.
“Terima kasih kepada seluruh panitia dan semua pihak yang telah membantu sehingga pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini dapat berjalan dengan baik. Semoga kebersamaan dan silaturahmi seperti ini terus terjaga,” pungkasnya.
Reporter: Pian N. Peda












