
PROSESNEWS.ID – Aktivitas memasak nasi bulu mulai terlihat di Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, menjelang perayaan Hari Ketupat yang akan digelar besok.
Puluhan bambu berisi beras ketan berjajar di atas bara api. Asap tebal membumbung, menandai dimulainya tradisi tahunan yang melibatkan gotong royong warga setempat.
Kepala Dusun, Suparman Gobel, mengatakan nasi bulu dibuat menggunakan bambu khusus yang diisi beras ketan atau pulut yang telah dicampur santan.
“Beras dibungkus daun, dimasukkan ke bambu, lalu dibakar sampai matang,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat dua metode memasak nasi bulu, yakni dibakar dan direbus menggunakan drum. Namun, warga lebih memilih cara dibakar karena rasa lebih gurih dan tidak cepat basi.
“Kalau direbus atau dikukus itu cepat basi. Yang dibakar lebih tahan lama dan lebih disukai,” jelasnya.
Dalam tradisi Hari Ketupat, nasi bulu biasanya disajikan bersama lauk, seperti opor ayam. Sekilas mirip ketupat, namun perbedaannya terletak pada wadahnya, di mana nasi bulu dimasak dalam bambu.
Produksi nasi bulu juga tergolong besar. Satu bambu dapat menampung sekitar satu liter beras, dan dalam satu kali proses bisa mencapai puluhan hingga ratusan bambu.
“Dulu satu rumah bisa buat ratusan ketupat. Kalau nasi bulu juga banyak, bisa beberapa koli,” tambah Suparman.
Tradisi ini umumnya untuk konsumsi keluarga dan menjamu tamu. Meski demikian, sebagian warga juga menjadikannya sebagai peluang usaha musiman.
Sementara itu, pemilik rumah, Santi Mahajani, mengaku menyiapkan sekitar dua hingga tiga koli nasi bulu untuk dibakar pada kesempatan kali ini.
Tradisi memasak nasi bulu dan ketupat menjadi bagian penting dalam perayaan Lebaran Ketupat di Gorontalo dan masih terus dipertahankan hingga kini.












