
PROSESNEWS.ID – Seorang siswa kelas III SDN 15 Tibawa berinisial H mengalami peristiwa yang membuatnya sedih setelah sapu yang dibawanya ke sekolah untuk keperluan penilaian mata pelajaran muatan lokal (mulok) dikembalikan oleh guru. H disebut menjadi satu-satunya siswa yang sapunya dikembalikan dengan alasan sapu tersebut merupakan barang bekas.
Peristiwa itu membuat H pulang ke rumah dalam keadaan menangis. Orang tua H, Nurain Yunus, mengaku terkejut saat mengetahui apa yang dialami anaknya.
Nurain mengatakan sapu yang dibawa anaknya sebenarnya masih dalam kondisi baru. Menurutnya, ia membeli dua sapu sekaligus, satu digunakan di rumah dan satu lagi diberikan kepada anaknya untuk dibawa ke sekolah.
“Masih baru, Pak. Saya beli dua, yang satu saya pakai di rumah dan yang satu saya suruh bawa oleh anak saya,” ujar Nurain dengan mata berkaca-kaca.
Meski harga sapu tersebut hanya sekitar Rp25 ribu, Nurain mengaku barang itu dibeli dari hasil jerih payahnya sendiri. Karena merasa sedih atas kejadian yang menimpa anaknya, ia kemudian mengunggah keluhannya di media sosial tanpa menyebut nama guru maupun sekolah. Menurutnya, unggahan itu dibuat agar kejadian serupa tidak terulang kepada siswa lain.
Nurain mengaku setelah unggahan tersebut viral, dirinya didatangi guru yang bersangkutan sebanyak dua kali. Namun, ia menolak bertemu karena masih merasa kecewa atas perlakuan yang diterima anaknya.
“Besoknya, Ibu Kep datang bersama Ibu Herlina dan meminta saya datang ke sekolah. Awalnya saya menolak, tetapi karena terus diminta, akhirnya saya datang,” katanya.
Saat tiba di sekolah, Nurain mengaku mendapati sejumlah guru, pengawas sekolah, dan Koordinator Wilayah (Korwil) pendidikan telah menunggunya untuk melakukan klarifikasi.
Menurut Nurain, awalnya klarifikasi direncanakan dilakukan bersama guru yang bersangkutan dalam bentuk video yang akan diunggah ke media sosial. Namun, ia mengaku kecewa karena pada akhirnya hanya dirinya yang direkam saat memberikan klarifikasi dengan membaca naskah yang telah disiapkan pihak sekolah.
Selain itu, Nurain mengaku merasa mendapat tekanan dalam forum tersebut. Ia menyebut sempat mendengar pernyataan yang menurutnya mengarah pada ancaman pelaporan atas dugaan pencemaran nama baik jika persoalan tersebut terus dipersoalkan.
“Pengawas menyampaikan kalau mau saling melapor, saya juga bisa kena. Di situ saya sudah takut, akhirnya saya menandatangani surat pernyataan yang sudah ditempel materai,” ungkapnya.
Tanggapan Sekolah
Kepala SDN 15 Tibawa, Risna Auna Nur, membenarkan adanya peristiwa pengembalian sapu oleh guru kepada siswa yang bersangkutan.
Namun, Risna menjelaskan pengembalian sapu itu dilakukan karena guru khawatir sapu tersebut dibawa tanpa sepengetahuan orang tua siswa. Karena itu, sapu tersebut diminta untuk digunakan kembali di rumah.
Terkait tudingan adanya paksaan terhadap Nurain untuk datang ke sekolah, Risna membantah hal tersebut.
“Tidak ada paksaan,” ujarnya singkat.
Mengenai klarifikasi yang disebut dilakukan secara sepihak, Risna mengatakan sebenarnya pihak sekolah telah menyiapkan klarifikasi bersama antara orang tua dan guru yang bersangkutan. Namun, menurutnya, proses tersebut terkendala masalah teknis pada telepon genggam yang digunakan untuk merekam.
“Sebenarnya ada klarifikasi bersama, tetapi mungkin karena ponselnya hang atau bagaimana, sehingga yang terekam hanya orang tua,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Tibawa, Vonim Yasin, membantah adanya pernyataan bernada ancaman seperti yang disampaikan Nurain.
“Tidak ada, Pak. Tidak ada pernyataan seperti itu,” tegas Vonim.














