
PROSESNEWS.ID – Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk membangun sebuah organisasi. Apalagi organisasi yang menaungi beragam karakter, komunitas, dan kecintaan terhadap dunia otomotif. Ada mesin yang harus terus dipacu, komunitas yang perlu dirangkul, hingga berbagai kegiatan yang membutuhkan perhatian dan dukungan.
Bagi Erwinsyah Ismail, S.I.Kom, M.I.Kom, empat tahun memimpin Ikatan Motor Indonesia (IMI) Provinsi Gorontalo menjadi perjalanan yang meninggalkan kebanggaan tersendiri. Namun, ketika masa kepengurusannya mendekati garis akhir, ia justru memilih untuk tidak kembali maju.
Keputusan itu bukan semata tentang mengakhiri sebuah jabatan. Erwin ingin memberi ruang kepada pencinta otomotif lainnya untuk mengambil peran dan melanjutkan kontribusi bagi perkembangan otomotif di daerah.
“Pertama-tama, saya merasa bersyukur dan bangga bisa menjadi bagian dari sejarah berkembangnya otomotif yang ada di Provinsi Gorontalo melalui Ikatan Motor Indonesia. Saya pikir empat tahun sudah cukup. Saya memilih memberikan kesempatan kepada pencinta otomotif lainnya untuk bisa berkontribusi juga,” ungkap Erwinsyah.
Pernyataan itu menandai sikapnya menjelang berakhirnya masa kepengurusan IMI Gorontalo. Setelah empat tahun berada di pucuk pimpinan, ia memilih membuka jalan bagi figur baru untuk melanjutkan estafet kepemimpinan.
Merangkul, Bukan Sekadar Memimpin
Dalam pandangan Erwin, dunia otomotif tidak hanya berbicara tentang kendaraan, kecepatan, atau kompetisi. Di dalamnya ada komunitas, persaudaraan, hobi, dan semangat bersama yang perlu mendapat ruang untuk berkembang.
Itulah yang, menurutnya, menjadi bagian penting selama empat tahun kepemimpinannya. Berbagai elemen otomotif di Gorontalo berupaya dirangkul, mulai dari komunitas berbasis hobi hingga pelaku olahraga otomotif, baik balap motor maupun balap mobil.
Baginya, setiap komunitas memiliki tempat dan kontribusi tersendiri. Tidak boleh ada yang merasa ditinggalkan hanya karena berbeda jenis kendaraan, aktivitas, atau latar belakang komunitas.
“Semua kita sentuh. Semua kita adakan, baik komunitasnya maupun balap motor dan balap mobil. Dari komunitas satu hobi, seperti Dutablover dan Eksmec, kita rangkul semua,” tuturnya.
Semangat merangkul itulah yang ingin ia tinggalkan sebagai bagian dari perjalanan kepemimpinannya. Sebab, perkembangan otomotif tidak bisa hanya bertumpu pada satu kelompok, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai komunitas dan pelaku di dalamnya.
Dua Kriteria Pemimpin Otomotif
Meski tidak lagi berencana mencalonkan diri, Erwin Ismail tetap menaruh perhatian pada sosok yang akan menggantikannya. Ia berharap calon pemimpin IMI Provinsi Gorontalo berikutnya bukan sekadar figur yang ingin menduduki jabatan, tetapi seseorang yang memahami dunia otomotif sekaligus siap berkorban untuk organisasi.
Menurutnya, ada dua hal yang menjadi kriteria penting dari sudut pandang pribadinya.
Pertama, kecintaan terhadap otomotif harus benar-benar tumbuh dari pemahaman dan keterlibatan langsung, bukan sekadar kepemilikan kendaraan.
“Dia harus punya passion di otomotif. Bukan hanya punya kendaraan, tetapi memang benar-benar mendalami dunia otomotif,” tegasnya.
Kedua, calon ketua harus memiliki kesiapan untuk memberikan dukungan materiil. Mengelola organisasi otomotif, menurut Erwinsyah, membutuhkan komitmen yang tidak berhenti pada gagasan dan program, tetapi juga kesediaan mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan.
“Harus mau berkorban secara materiil, karena ini organisasi yang cukup bergengsi dan semua kegiatan membutuhkan dukungan materi yang tidak sedikit,” tambahnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa persyaratan resmi pencalonan tetap mengacu pada peraturan organisasi dan ketentuan yang berlaku di lingkungan IMI. Kriteria yang disampaikannya merupakan pandangan mengenai karakter yang ideal bagi seorang pemimpin otomotif.
Menanti Babak Baru IMI Gorontalo
Kini, perhatian mulai tertuju pada Musyawarah Provinsi (Musprov) IMI Gorontalo, forum yang akan menjadi penentu arah kepemimpinan organisasi untuk periode berikutnya.
Erwin menyampaikan bahwa jadwal dan mekanisme Musprov akan dibahas dalam rapat pleno terakhir kepengurusannya, yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu malam, pukul 19.00 WITA, di Manacafe.
Rapat tersebut akan melibatkan klub-klub otomotif, jajaran pengurus, serta peserta pleno. Sejumlah agenda penting akan dibahas, mulai dari penetapan tanggal Musprov, penentuan mekanisme pelaksanaan, pembentukan Organizing Committee (OC), hingga pembentukan panitia penjaringan bakal calon ketua umum.
“Di situ kita tetapkan kapan tanggal Musprov, bagaimana mekanismenya, OC-nya kita bentuk, dan panitia penjaringan bakal calon juga dibentuk,” jelasnya.
Dengan demikian, jadwal pasti pelaksanaan Musprov beserta lokasi penyelenggaraannya masih menunggu keputusan rapat pleno tersebut.
Bagi Erwinsyah, berakhirnya masa jabatan bukan berarti berakhir pula perjalanan kecintaan terhadap otomotif. Ia justru ingin memberikan kesempatan kepada orang lain untuk meneruskan apa yang telah dibangun bersama selama empat tahun terakhir.
Kini, estafet itu bersiap berpindah tangan. Siapa pun yang kelak dipercaya memimpin IMI Gorontalo akan menghadapi tantangan untuk menjaga kebersamaan komunitas, mengembangkan olahraga otomotif, serta memastikan seluruh elemen tetap memiliki ruang untuk tumbuh.
Sebab, pada akhirnya, organisasi otomotif tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu menggerakkan mesin kegiatan, tetapi juga sosok yang mampu menjaga mesin kebersamaan agar terus hidup.






