Daerah  

Rudiyanto Katili Terganjal OJK, Ini 3 Bankir Gorontalo yang Luput Dilirik Jadi Direksi BSG

PROSESNEWS.ID – Polemik mengenai sosok yang ideal mengisi posisi Direksi Bank SulutGo (BSG) dari keterwakilan Provinsi Gorontalo terus menjadi perbincangan.

Bagaiamana tidak, di tengah mencuatnya kembali nama Rudiyanto Katili, sejumlah figur perbankan asal Gorontalo dinilai memiliki pengalaman dan rekam jejak yang layak dipertimbangkan.

Perdebatan ini menguat setelah tiga kepala daerah di Gorontalo (Kabupaten Gorontalo, Boalemo, dan Pohuwato) menunjukkan dukungan terhadap Rudiyanto untuk kembali menduduki posisi direksi. Bahkan, dinamika tersebut turut mewarnai pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) di Manado, Jumat (30/10/2026), ketika Bupati Boalemo melakukan aksi walk out.

Situasi itu menyisakan pertanyaan mengenai pertimbangan di balik kuatnya dukungan terhadap Rudiyanto Katili, terutama setelah dirinya tidak lolos uji kompetensi atau fit and proper test Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jika pertimbangan utamanya adalah menjaga keterwakilan putra daerah, Gorontalo sejatinya tidak kekurangan sumber daya manusia di sektor perbankan. Sejumlah bankir lokal memiliki pengalaman panjang, rekam jejak profesional, serta kapasitas yang patut masuk dalam bursa calon direksi.

Salah satunya Sjahron Botutihe. Mantan Kepala Kantor Wilayah BSG Gorontalo itu merupakan figur senior yang telah memahami karakteristik bisnis perbankan di daerah. Pengalamannya dalam mengelola penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), menjaga hubungan kelembagaan, hingga memahami dinamika keuangan pemerintah daerah menjadi modal yang patut diperhitungkan.

Nama lain yang juga layak diperhitungkan adalah Tommy Gobel. Sebagai bankir karier senior, pengalamannya memimpin sejumlah kantor cabang strategis, termasuk Cabang Utama Kota Gorontalo dan Cabang Limboto, menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya di BSG. Pengalaman tersebut memperlihatkan penguasaan terhadap manajemen operasional perbankan dan pengelolaan risiko kredit. Dua aspek yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan serta keberlanjutan bisnis perbankan.

Selain itu, terdapat pula Sofia Usup. Mantan Kepala Divisi di lingkungan internal BSG ini merupakan salah satu figur perempuan asal Gorontalo yang memiliki pengalaman dalam tata kelola perusahaan dan administrasi perbankan.
Pengalaman ketiga figur tersebut menunjukkan bahwa Gorontalo memiliki sejumlah alternatif sumber daya manusia yang dapat dipertimbangkan untuk mengisi posisi strategis di tubuh BSG.

Karena itu, dukungan terhadap keterwakilan daerah semestinya tidak berhenti pada persoalan mempertahankan satu nama. Lebih dari itu, keterwakilan harus berjalan seiring dengan kapasitas, integritas, profesionalisme, serta pemenuhan seluruh persyaratan regulator.

Di sinilah polemik pencalonan Rudiyanto menjadi relevan untuk dipertanyakan. Ketika seorang kandidat telah dinyatakan tidak lolos uji kompetensi OJK, dukungan politik dari para pemegang saham daerah semestinya tidak mengesampingkan standar profesionalisme yang berlaku dalam industri perbankan.

Harapanya, pemilihan Direksi BSG tidak berubah menjadi arena mempertahankan kepentingan politik atas nama keterwakilan daerah. Sebab, jabatan direksi bukan sekadar soal siapa yang mendapat kursi, melainkan siapa yang benar-benar memiliki kapasitas untuk menjaga kepercayaan publik dan membawa bank daerah tumbuh secara sehat.

Gorontalo memiliki pilihan. Persoalannya bukan lagi soal ada atau tidaknya figur yang mampu, melainkan sejauh mana para pemegang saham bersedia membuka ruang bagi proses seleksi yang mengutamakan kompetensi daripada kepentingan politik.

Meski demikian, Rudiyanto Katili dan Iskandar Modjo telah masuk dalam dua nama kandidat yang disepakati pemegang saham. Namun, penentuan siapa yang akan menduduki kursi Direktur Dana dan Treasury masih menunggu keputusan RUPS berikutnya (2027) serta proses persetujuan OJK.

 

Tinggalkan Balasan